Lelaki Pelor

Setiap ada tempat menempel, lelaki itu langsung tertidur. Orang-orang memanggilnya lelaki pelor. Nempel Molor. Demikian ia dijuluki. Dicemooh karena mudah sekali tidur. Ia tak pernah menanggapi. Karena memang ia suka sekali tidur. Di mana saja, kapan saja.

Di saat orang lain harus menghabiskan uang untuk membeli obat tidur, ia tak perlu semua itu. Nempel, kemudian molor. Dia menemukan surga di tidurnya. Melepas rasa lelah juga jengah. Bangun tidur, semua masalah hilang. Larut dalam tidurnya yang panjang.

Di tidurnya ia menerobos semua imaji yang tak didapat di dunia nyata. Menempuh perjalanan panjang melalui mimpi-mimpinya. Ia bahagia dalam tidurnya. Ada banyak keindahan yang ia selami, ketika tidur.

Di kursi kerja, di rumah tidur, di atas ojeg, berdiri di padatnya commuter line ia tidur. Ia manunggal dengan tidurnya. Ilmu tidur berdiri sudah ia kuasai. Berdesakan di transportasi publik kota yang tak ramah pun ia bisa tidur. Asal kakinya menapak, ia bisa tertidur. Ia hebat dalam tidur.

Di padatnya aktivitas perkotaan, hingar bingar kehidupan urban, di masyarakat yang penuh kebencian dan murka terhadap perbedaan, ia bisa tidur. Ruang dan waktu tak punya arti baginya.
 Entah dari mana dan sejak kapan ia akrab sekali dengan rutinitas tidur. Tidur, baginya menyelesaikan masalah tanpa masalah. Tak ada orang lain yang dirugikan karena ia senang sekali tidur, itu menurut pikirannya.

Dibanding ulah koruptor yang banyak merugikan negara, tidur bukanlah sesuatu yang merugikan. Tidur bukanlah kejahatan. Yang berbahaya adalah penguasa yang tertidur. Mereka yang tidak ingat rakyatnya. Mungkin mereka tidak sungguh-sungguh tidur, tapi pura-pura tidur. Juga bukan seperti anggota DPR yang tidur ketika sidang soal rakyat. 

Jika tidur biasa itu tak apa. Karena tidur merupakan hak dasar. Hak semua anak bangsa. Siapa yang tak butuh tidur? Semua makhluk hidup di semesta ini butuh tidur. 

Ia bahkan berpikir ilmu tidurnya harus ditularkan. Kriminalitas, kekacauan-kekacauan, pemberontakan, kebencian, perang antar bangsa dapat selesai jika semua orang cukup tidur. Itu menurutnya, pandangan seseorang yang sangat menyukai tidur.

Menurutnya jika orang mudah tidur, mereka akan bahagia. Jika tidur saja sulit, bagaimana menghadapi dunia ini yang sudah serba sulit. Tidur aja kok repot. Begitu katanya. Makanya semua akan selesai jika tidur menjadi aktivitas yang mudah. Nempel, kemudian molor. Selesailah.

Baginya, tidur adalah aktivitas yang tak mudah kerja otak juga otot. Tak perlu banyak teori. Teori hanya memperumit setiap persoalan. Hanya akal-akalan kaum intelek. Mereka yang menganggap dirinya pintar. Semua menjadi rumit. Padahal segalanya harusnya praktis.

Demikian dengan tidur. Tak perlu teori rumit untuk menjelaskan tidur. Apa yang sulit dari tidur? Ia heran dengan orang-orang yang harus mengkonsumsi obat sebelum tidur? Bukankah tidur merupakan kegiatan yang paling mudah?

Kenapa orang harus stress tak bisa tidur. Mengeluarkan ratusan sampai jutaan untuk obat tidur atau bahkan terapi tidur. Buat apa semua itu? Hanya menguntungkan perusahaan obat tidur saja, pikirnya.

Tidur adalah kunci bagi semua permasalahan.

Mungkin orang lain senang jika kumpul-kumpul dengan teman juga orang terkasih, berlibur di beragam tempat rekreasi, membeli barang-barang mewah. Baginya semua itu tak ada bandingannya dibanding tidur yang enak.

Dia tak mau kehilangan momen-momen tidurnya. Maka setiap ada kesempatan ia harus tidur. Optimalisasi tidur, mungkin motivator akan bilang seperti itu.

Tidur adalah solusi masyarakat kini. Tak ada lagi yang butuh obat juga terapi. Orang mudah tidur maka tak ada lagi yang stress. Pekerjaan lancar. Beban terangkat oleh tidur. Pengangguran tak perlu bekerja. Karena dengan tidur masalah mereka terselesaikan. Semua karena tidur

Jika ada seminar tentang bagaimana tidur yang optimal. Ia pasti akan ada di daftar undangan paling atas untuk diundang sebagai pembicara. Tak perlu banyak bicara. Ia langsung mempraktekkan tidurnya secara langsung di hadapan peserta seminar. Praktis. Tak perlu banyak teori.

Ia bisa memerintahkan sarafnya untuk tertidur. Orang akan iri dengan kecepatan tidurnya. Sepersekian detik menempelkan kepala ia langsung tertidur. Juara. Tak terbantahkan.

Ia kemudian menjadi kaya raya, karena orang akan banyak mengundangnya. Ia menjadi praktisi tidur terkemuka. Ia akan diundang ke seluruh penjuru nusantara.

Perguruan tinggipun bahkan membuka jurusan baru tentang ilmu tidur. Ia diangkat menjadi ketua jurusan ilmu pertiduran. Jurusan ini tak butuh kurikulum, silabus, yang menjlimet. Tak butuh metode pembelajaran.

Ia semakin terkenal sebagai ahli tidur. Orang yang sebelumnya mencemooh minta maaf. Malu akan sikap buruk mereka kepada lelaki pelor yang sudah terkenal dan kaya raya.

Namun, kemudian ia terbangun. Ternyata ia mimpi. Semuanya hanya bumbu-bumbu tidurnya. Lalu, ia pun melanjutkan tidurnya. Melanjutkan mimpinya yang belum selesai, yang hanya bisa diraih melalui tidur. Karena hanya itu keahliannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s