Lupa Menjadi Indonesia

Indonesia menahbishkan sebagai bangsa yang bineka. Bangsa besar dengan ragam budaya, suku bangsa, agama, kelas sosial, maupun pilihan politik. Kita begitu beragam dan berbeda. Kita begitu istimewa.

Namun, keragaman juga perbedaan justru semakin menjadi permasalahan. Perbedaan pendapat, pilihan politik, agama, maupun kelas sosial justru menjadi alasan kita tak lagi saling mengasihi. Perbedaan-perbedaan menjadi belenggu untuk saling menolong dan menyokong. Menjadi beda berarti siap teraniaya. Padahal berbeda adalah biasa. Berbeda adalah hukum alam, sunatullah. Mayoritas dan minoritas hanyalah soal angka dalam hitungan statistik. Karena sesungguhnya sebagai sesama manusia kita harus saling menghormati dan mengasihi tanpa membeda-bedakan.

Semakin lama ujaran dan hasutan penuh kebencian berseliweran di keseharian dan menyebar dengan mudah di media sosial. Mungkin, karena sedemikian massif menyebar di media sosial, sebagian dari kita lupa dan terlalu malas untuk mengklarifikasi setiap berita yang masuk.  Dan dengan mudah menyebarkannya kembali ke kontak masing-masing. Dengan sangat gampang terhasut oleh berita bohong dan melupakan tabayun, lupa mengkonfirmasi dan mengklarifikasinya. Kita menganggap bahwa yang menyebar merupakan informasi yang benar dan valid.

Banyak kasus juga yang menunjukan bahwa atas nama agama, suku bangsa, pandangan politik, ideologi tindakan kekerasan seolah dilegalkan. Karena berbeda, tindakan kekerasan, pengusiran, penganiayaan bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia seolah menjadi biasa saja. Nyawa menjadi murah tak berarti.

Peristiwa yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara merupakan contoh terkini. Kesepakatan damai yang dilakukan oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan elemen masyarakat Kota Tanjungbalai, Sumatra Utara merupakan langkah penting dan tepat yang sudah dilakukan (Media Indonesia, 31/07/2016).  Harapannya enam point kesepakatan damai dapat diimplementasikan dengan baik dan permasalahan ini tidak berlanjut dan meluas.

Mewajarkan tindakan kekerasan
Ada masalah besar menghimpit bangsa ini, kecenderungan untuk melakukan tindakan kekerasan. Tindakan kekerasan dianggap sebagai peristiwa keseharian yang wajar yang dapat terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja. Bisa di rumah, jalanan, sekolah, bahkan di tempat ibadah. Seolah-olah kita sah melakukan tindakan kekerasan kepada mereka yang berbeda dan tak sepaham.

Tentu saja tidak ada tindakan kekerasan yang bisa ditoleransi. Semuanya melampaui batas dan mengusik rasa kemanusiaan kita. Duka mendalam pasti dirasakan oleh setiap orang. Kita semakin tak ramah terhadap yang berbeda. Membenci karena berbeda. Seolah menjadi berbeda adalah kesalahan. Padahal para founding fathers dan mothers sudah memberikan pelajaran penting tentang pentingnya merawat kebangsaan Indonesia yang beragam.

Kesadaran akan Indonesia yang beragam merupakan hal yang perlu terus diingatkan kepada anak bangsa. Kita harus melawan lupa dan harus ingat sampai kapanpun bahwa Indonesia hadir dan eksis sampai saat ini karena kita bersatu padu. Teguh dengan kesadaran bahwa Indonesia bukan hanya milik mayoritas.

Seperti yang Bung Karno sampaikan secara tegas bahwa kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan miliki golongan adat-istiada, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke. Seluruh elemen bangsa harus terus menanamkan kesadaran tersebut. Dalam konteks ini maka dunia pendidikan harus semakin menguatkan posisinya. Karena sesungguhnya salah satu penguatan pemahaman tentang keberagaman dapat dilakukan melalui proses pendidikan.

Merujuk pada Banks (2002) bahwa sekolah harus merefleksikan etnik dan keberagaman kultur, sikap positif terhadap beragamnya siswa, serta menampilkan pembelajaran maupun kegiatan sekolah merujuk pada isu-isu perbedaan ras, etnik, dan budaya. Secara umum sekolah merupakan arena yang sangat strategis. Meskipun demikian, sekolah negeri lah yang menjadi kunci karena umumnya memiliki guru, tenaga kependidikan, maupun siswa yang lebih beragam dibanding dengan sekolah swasta.

Aktivitas di sekolah selain berfokus pada penguatan kompetensi juga tak boleh mengabaikan aspek penguatan relasi sosial dan kemanusiaan. Jalinan relasi siswa dengan mereka yang berbeda harus terus diinternalisasikan di sekolah. Para siswa harus menginsafi bahwa perbedaan merupakan suatu keniscayaan.

Sejak kecil peserta didik dibiasakan untuk menghadapi perbedaan. Bahwa perbedaan bukan hal yang harus ditakuti. Berbeda bukan berarti harus bersaing. Berbeda berarti harus berkolaborasi. Pembiasaan yang dapat dilakukan di sekolah. Efeknya tentu tidak dapat didapat secara instan. Bibit-bibit siswa yang menghargai keragaman dan perbedaan baru akan dirasakan di masa yang datang. Investasi untuk merawat nafas bangsa ini menjadi lebih panjang.

Jika merujuk pada buku kelas 1 di Sekolah Dasar, sesungguhnya kita bisa berharap besar. Pada buku kelas satu tersebut secara tersirat diajarkan mengenai betapa beragamnya negeri ini. Buku kelas 1 tersebut menampilkan sosok Udin, Siti, Beni, Dayu, Edo, dan Lani. Nama-nama yang merepresentasikan betapa beragamnya negeri ini. Tentu saja nama tersebut tak merepresentasikan seluruh suku dan agama yang ada di Indonesia. Tetapi setidaknya ada keinginan untuk mengenalkan ragamnya Indonesia kepada siswa di jenjang yang paling dasar. Penginsafan melaluihidden curriculum. Upaya kecil namun berarti. Siswa harus mafhum bahwa Indonesia bukan miliki satu golongan.

Selain itu, guru memegang peranan penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai ragamnya Indonesia. Hal tersebut bukan hanya tugas guru PPKn dan Ilmu Sosial saja. tetapi juga seluruh guru. Karenanya guru juga harus menyadari betul posisi mereka. Warisan kebencian terhadap perbedaan bisa saja disematkan oleh guru kepada para siswa dalam proses pembelajaran. Ujaran dan tuturan guru merupakan wasiat yang akan terus dikenang oleh setiap siswa. Maka guru harus merepresentasikan sebagai aktor yang selalu memberikan teladan.

Negara harus menangani kasus-kasus yang mengusik rasa aman kita sebagai warga negara. Menjerat dan menghukum dengan tegas pelaku. Negara harus menghadirkan rasa aman dan tentram bagi warganya. Semoga ke depan tak ada lagi peristiwa yang mengoyak-ngoyak rasa kemanusian kita. Sebagai penutup, lirik lagu Menjadi Indonesia grup band Pandai Besi pantas kita renungkan bersama: Ada yang runtuh, tamah ramahmu, beda teraniaya, ada yang tumbuh, iri dengkimu, cinta pergi kemana?

Dimuat di Media Indonesia, Senin 8 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s