Menilik Wacana Kemdikbud

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mewacanakan kebijakan full day school di sekolah negeri dan swasta untuk jenjang SD dan SMP. Menurut Mendikbud, implementasi program ini diharapkan dapat meminimalkan penyimpangan yang dilakukan siswa ketika tidak diawasi guru dan orangtua (Media Indonesia, 9/8). Diskursus dan perdebatan pun tak terhindarkan di jagat media sosial. Baik yang pro maupun kontra menyatakan argumentasi masing-masing. Tentu saja kita harus bersabar dan tak tergesa-gesa dalam menilai wacana yang disampaikan Mendikbud tersebut. Sistem ini dianggap sukses dilakukan sekolah-sekolah swasta dalam membentuk karakter siswa, sehingga Mendikbud berharap agar kebijakan ini juga dapat diterapkan di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta. Gagasan agar anak terbangun karakter siswa tentu patut didukung. Indonesia membutuhkan lebih banyak anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memiliki karakter yang kukuh.

Kemendikbud harus memiliki argumentasi yang lebih mendalam jika ingin mengimplementasikan kebijakan full day school. Argumentasi penyelenggaraan sistem ini sebagai mekanisme pengawasan, cenderung menujukkan ketidakpercayaan terhadap rasa tanggung jawab anak yang dimiliki sang buah hati. Padahal, kepercayaan terhadap anak merupakan aspek penting dalam proses pendidikan. Di wilayah perkotaan, kesibukan kedua orangtua yang bekerja menyebabkan mereka kesulitan untuk mengawasi anak-anak mereka. Risiko orangtua bekerja ialah kesulitan mendapat pengasuh yang tepat untuk anak. Peristiwa penculikan, tindak kekerasan, hingga pelecehan terhadap anak menjadikan orangtua cenderung lebih leluasa menyekolahkan mereka ke sekolah swasta yang menyelenggarakan full day school.

Seharian di sekolah di bawah pengawasan guru yang terlatih dan profesional tentu lebih baik jika dibandingkan membiarkan anak-anak di rumah sendiri tanpa pengawasan. Untuk itu ada harga yang harus dibayar, dan sekolah-sekolah ini tak dapat diakses sembarang orang. Siswa dari keluarga miskin tak dapat mengakses sekolah tersebut. Ada sejumlah penelitian mengenai full day school yang menyoroti aspek kemandirian (Azizah, 2014), pengelolaan pembelajaran (Septiana, 2011), interaksi siswa dengan teman sebaya (Aminingsih, 2014), pengaruhnya terhadap kecerdasan sosial (Afiah, 2014), maupun kedisiplinan (Winarni, 2014). Seluruh penelitian tersebut dilakukan di sekolah-sekolah swasta. Penguatan karakter merupakan salah satu tujuan mengapa sekolah-sekolah tersebut menggunakan sistem full day school. Dari beragam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor penting penyelenggaraan sistem ini ialah kesiapan sekolah. Program yang terukur, guru yang profesional, dan suasana nyaman di sekolah merupakan elemen kunci keberhasilan program.

Mekanisme pelaksanaan
Mekanisme pelaksanaan dari full day school harus jelas secara konseptual maupun praksis. Hal itu Karena sekolahlah menjadi jangkar terdepan pelaksanaan kebijakan. Relasi sekolah dan orangtua harus jelas. Jangan sampai sekolah hanya menjadi tempat penitipan anak belaka. Full day school setidaknya membutuhkan prasyarat minimal yaitu ketersediaan fasilitas dan guru yang mumpuni. Bila dua poin itu tidak tersedia, tak usah bermimpi dulu tentang sistem ini. Guru benar-benar harus siap dengan mekanisme full day school, siap dan terlatih mengabdikan dirinya untuk mendampingi anak. Pemerintah jangan lupa memberikan insentif yang sesuai bagi setiap jam yang sudah diabdikan guru. Selain itu, aspek mikro seperti logistik anak dan guru harus sesuai standar gizi selama satu hari penuh di sekolah. Ini juga menyangkut anggaran yang tersedia. Waktu sekolah yang lebih panjang juga harus diperhitungkan karena risiko meningkatnya stres dapat saja terjadi. Apalagi jika program-program dirancang tidak menyenangkan dan menggugah, cuma akan menjadi problem tambahan.

Perlu dipertimbangkan juga rentang usia anak, khususnya di usia sekolah dasar. Jangan sampai akhirnya malah merampas waktu anak bermain, yang memungkinkan anak mengeksplorasi dan mengimajinasikan banyak hal. Sekolah-sekolah swasta yang berhasil menyelenggarakan sistem ini memberi ruang bagi siswa untuk mengoptimalkan waktu bermain. Penting pula memperhatikan relasi anak dengan teman sebaya di lingkungan rumah. Alasan implementasi kebijakan tidak boleh bias kelas menengah perkotaan, tetapi juga harus memperhatikan kekhasan yang ada di tiap daerah. Di perdesaan misalnya, anak-anak biasa membantu orangtua mencari pakan untuk hewan ternak, melaut, bertani, dan melakukan aktivitas lainnya setelah pulang sekolah. Tiap daerah memiliki persoalan-persoalan yang berbeda. Tidak tepat jika full day school diimplementasikan di wilayah-wilayah dengan karakteristik tersebut. Pemerintah harus berhati-hati dalam mewujudkan niatan baiknya. Jangan sampai program ini justru menimbulkan persoalan-persoalan baru. Untuk mendapatkan anak bangsa yang berkualitas memang segala cara harus ditempuh. Tapi yang paling penting, cara-cara yang dilakukan tidak mengorbankan anak. Karena di pundak merekalah harapan kebangkitan bangsa disematkan. Melalui mereka kita dapat mengubah wajah bangsa.

Dimuat di Media Indonesia, Rabu 10 Agustus 2016

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: