Cerita dari Kobong: Awal Masuk Pesantren

Kobong artinya kamar. Penyebutan kami, para santri, untuk kamar tidur yang kami tempati di asrama selama mesantren. Saya berniat menuliskan pengalaman singkat saya selama di pesantren di blog ini. Sebagai pengingat-ingat bagi saya sendiri. Tulisan-tulisan ini insya Allah saya ceritakan secara rutin di blog ini. Cerita dari kobong adalah judul setiap cerita yang akan saya tuliskan merujuk pada pengalaman saya mesantren di Cipasung. Pada bagian ini saya sedikit menceritakan awal masuk pesantren. Saya hanya tiga tahun mengalami pendidikan pesantren. Masa yang amat singkat namun membekas. Tiga tahu yang sangat membahagiakan. Begitu banyak pelajaran hidup yang saya dapat dari pesantren. 

Menjadi santri adalah kenangan yang begitu membekas bagi saya. Meskipun hanya 3 tahun di pesantren, mengingat masa-masa tersebut selalu menyenangkan. Bergabung menjadi santri di Asrama Al Jihad, Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya merupakan berkah yang begitu luar biasa. Masuk ke lingkungan pesantren merupakan sesuatu yang menakjubkan. Siapapun yang pernah merasakan menjadi santri pasti mengamini hal tersebut. Kehidupan pesantren berbeda jauh dengan kehidupan di rumah. Waktu mengaji kitab tiga kali (setelah shalat subuh, Ashar dan Magrib) dan kegiatan di kobong (kamar) begitu menyenangkan. 

Kalau ditelusuri banyak sekali kesan yang saya rasakan. Hampir semua catatan penting ketika pesantren saya tuliskan di beberapa buku harian. Membaca catatan tersebut mengingatkan masa-masa sulit ketika belajar di pesantren. Jauh dari orang tua dan belajar mandiri sulit dilakukan oleh saya yang biasanya serba enak ketika di rumah. Semua aktivitas dilakukan sendiri. Hal-hal kecil seperti mencuci, menyetrika dilakukan sendiri. Kalau uang berlebih sih kadang-kadang bisa laundry (jangan bayangkan menggunakan mesin, cuci baju ini dilakukan secara manual dengan penggilesan oleh penduduk di sekitar pesantren).  

Keinginan kuat untuk masuk pesantren baru saya rasakan ketika kelas tiga SMP. Saya tak pernah tahu mengapa saya ingin masuk ke pesantren. Saya cuma punya gambaran singkat mengenai pesantren dari teteh sepupu yang sejak lulus SD masuk pesantren. Selain itu tak ada gambaran mengenai kehidupan pesantren. Gambaran lainnya adalah cerita dari salah satu guru ngaji saya, Almarhum Pak Ustadz Thoi.

Ketika teman-teman SMP bercerita tentang sekolah-sekolah unggulan yang menjadi target setelah lulus, saya hanya mendengarkan cerita-cerita mereka. Saya cuma mengatakan ingin masuk pesantren dan belum tahu di mana pesantren yang akan saya masuki. Ketika kelas 3 SMP, keingintahuan saya untuk belajar agama semakin membara. Entah kenapa. Saya mulai rajin membeli majalah-majalah islam. Seingat saya yang membuat saya tertarik membaca buku-buku atau majalah islam adalah teteh sepupu saya, teh mala, yang sudah masuk pesantren terlebih dahulu.  

Selain berlangganan Koran Bola dan Topskor. Saya pun mulai rajin membaca Sabili dan Annida. Dari Sabili saya tahu beberapa perang yang terjadi di Afganistan, Irak dan Negara-negara Islam lainnya. Dari Annida saya mulai rajin membaca cerpen-cerpen bernuansa Islam. Saya pun mulai menyisihkan uang jajan dari dan membeli majalah-majalah tersebut. Dulu tukang koran masih sangat jarang. Dapat majalah-majalah tersebut rasanya senang sekali. Saya juga sering bawa majalah-majalah tersebut ke sekolah. Bonus posternya adalah tokoh-tokoh Al Qaeda. Seperti Usamah Bin Laden. Saya ketika itu sangat mengidolakan tokoh-tokoh tersebut. Saya tempel poster-poster itu di kamar saya yang mungil. Hehehe. Rasanya gagah. Saya bawa Majalah-majalah tersebut ke sekolah dan menjadi orang yang paling tahu perkembangan peperangan di berbagai belahan negara Islam. Hehehe. Ditanggap teman-teman lain yang ingin tahu.Menceritakan apa yang saya sudah baca dan analisis-analisis sok tahu saya. 

Berlangganan majalah tersebut saya lanjutkan sampai di pesantren. Saya percaya 100 persen apa yang disampaikan majalah-majalah tersebut. Sampai sering berdebat dan berbeda pandangan dengan banyak orang. Termasuk ketika kelas 1 di pesantren.  Saya bahkan dulu percaya bom bunuh diri merupakan sesuatu yang wajar. Hehehe. Mungkin kalau saya tak ke pesantren, saya bisa saja menjadi salah satu pengantin yang membawa bom itu. Ngeri kalau inget-inget lagi. 

Masuk ke Cipasung membuat pikiran saya berubah. Bahwa islam adalah ajaran penuh kasih, tak ada kebencian kepada yang berbeda. Apalagi pimpinan pondok pesanten ketika itu Ajengan Ilyas Ruhiyat merupakan tokoh yang sangat terkenal karena kesantunannya. Dan saya baru tahu belakangan, bahwa beliau, adalah Rais Aam PBNU. Agak norak, tapi dulu tak ada internet (kayaknya ada tapi karena saya orang kampung jadi ga tahu dan belum tahu itu internet) jadi ga bisa langsung klik dan cari tahu. Setelah tahu saya semakin merasa bangga mesantren di Cipasung.  Ajengan Ilyas merupakan ulama yang sangat disegani. Lembut dalam menasehati. Saya beruntung masih mengikuti ceramah-ceramahnya secara langsung, meskipun sangat menyesal, tak pernah ikut mengaji kitab langsung kepada beliau. Karena yang mengaji langsung ke Ajengan adalah para kiayi dan para ustad/udtadzah yang tingkatan ilmunya sudah sangat mumpuni. Saya sendiri masih jenjang yang paling dasar.  Pimpinan asrama saya Bapak KH Ubaidillah Ruhiyat dan Ibu juga sangat ramah dan penyayang. Baiknya luar biasa. Semoga keduanya selalu sehat dan dalam keberkahan. Di sesi lain saya akan cerita khusus tentang Ajengan Ilyas, Bapak, dan Ibu. 

Ketika saya utarakan niat masuk pesantren, kedua orang tua saya merasa keberatan. Berkali-kali mama menanyakan kebulatan tekad saya. Melihat saya yang sangat kekeuh akhirnya kedua orang tua pun menjajaki beberapa kenalan yang anaknya mukim di pesantren. Entah mengapa bapak bertemu dengan kenalan yang menyatakan ada salah satu orang yang anaknya mukim di pesantren. Saya kemudian memanggilnya Bang Pidin. Mulailah bapak berkomunikasi dan mengobrol mengenai pesantren Cipasung.  

Cipasung sepertinya takdir yang harus saya jalani. Kata mama, ia pernah bermimpi didatangi seseorang dan diberi Al Quran terjemah bahasa sunda. Dan akhirnya itu dianggap pertanda bahwa saya harus mesantren di daerah priangan (dapat wangsit) Hehehe. Ya saya siap di mana saja. Yang penting pesantren. Saya cuma mau mensantren. Mengaji dan belajar. Cita-cita idealis banget. Salah satu cita-cita saya ketika itu jadi ustad yang bisa ngajar ngaji. Dan itu ga kesampean. Pada akhirnya sekarang ga jago ngaji. Hapalan-hapalan jaman mesantren sudah hilang.  Duh, berbeda sama alumni-alumni pesantren yang lain, yang jago baca kitab kuning, fasih berbahasa arab, saya mah apa atuh. Kalau dibandingkan santri yang baru ngaji di tingkat pertama kualitas hapalan saya jauh banget. Nyesel juga sih. Kenapa ngajinya dulu ga bener. Ga lama-lama di pesantren. Ilmunya sepotong-sepotong. Ga bisa bahasa arab. Tapi ya sudahlah.

Dulu ke Tasik tidak semudah sekarang. Belum ada tol Cipularang. Sehingga kalau ke Tasik rasanya jauh. Karena harus lewat Purwakarta, Padalarang dll. Karena tak punya kendaraan pribadi, pertama kali survei ke Cipasung, sekaligus daftar, saya dan bapak memilih naik Bis Budiman. Bis tersebut masih eksis sampai saat ini. Dulu sih ongkosnya cuma 15 ribu. Saya masih simpan tiket-tiketnya. Saya memang orang yang sering terjebak nostalgia. Apa saja barang yang saya anggap penting disimpan. Hehe. Ketika diantar ke pesantren pun saya naik bus. Bapak, Mama dan Neng mengantar. Naik dari terminal Bekasi jam 9 malam. Tiba di terminal jam 3 pagi. Terus menunggu Glebeg, mobil seperti carry, angkot terminal menuju Singaparna. Baru jalan kalau penumpang sudah penuh. Kalau mobil ada ACnya. Mobil glebeg ada AG (angin glebeg-angin dari luar dan bisa bikin masuk angin). Hanya membawa satu tas saya diantar oleh mereka. Senang banget dan tegang. Senang karena target mesantren saya terkabul. Tegang karena sebentar lagi saya berpisah sementara dengan kedua orang tua dan adik. Apalagi saya orang rumahan yang jarang ke mana-mana kecuali menginap di rumah ua atau sodara-sodara lainnya. Orang yang cuma hobi ngendon di rumah di waktu libur. Maklum ga gaul. 

Sampai di pesantren suasana masih sepi. Bapak, mama, dan neng pun menginap semalam. Besoknya baru ada satu orang yang saya temui. Orang, yang kemudian, akan menjadi salah satu sahabat terbaik saya sampai saat ini. Saya pikir dia anak mahasiswa. Badannya lebih tinggi dari saya dan gaya bicaranya sangat dewasa. Bisa ngobrol sama bapak dan mama dengan bahasa sunda yang sangat halus.  Eh ternyata dia sama-sama anak kelas satu SMA. Bedanya ia masuk ke SMAI Cipasung, sedangkan saya masuk ke MAN Cipasung. Asep Jamal Syaburi, jamal atau jams nama gaulnya, teman saya ini berasal dari Karawang. Ternyata ia sudah tiga tahun nyantri di Cipasung. Pantas saja ia begitu mandiri dan dewasa. Pesantren sudah membentuknya.

Besoknya Bapak, Mama dan Neng pulang. Saya berusaha tak menangis. Padahal pengen nangis. Tapi malu sama Jamal. Hhehe, masa laki-laki nangis. Dan ternyata bukan saya saja yang sedih. Diceritakan Mama dan Neng, Bapak saya, di tempat peristirahatan, tak mau makan. Karena sedih meninggalkan saya. Hehehe. Bapak saya memang sering melankolis. Lelaki tangguh yang sering menyimpan perasaannya sendiri. Dan dimulailah petualangan baru hidup saya di pesantren. Yang akan saya coba sambung dicerita-cerita selanjutnya. Semoga bisa istiqomah (konsisten) menceritakan cerita-cerita ini. Yang semoga, suatu saat bisa dibaca oleh anak saya di masa yang akan datang.

Cirangkong, 11 September 2016

Advertisements

8 thoughts on “Cerita dari Kobong: Awal Masuk Pesantren

  1. asep jamal syaburi says:

    Weeeeeeeeyyyyyy Anggi…. damang? Cacritaan nu luar biasa. Kita lanjutkan cerita petualangan hidup untuk generasi santri millennium berikutnya

  2. Madya D Nugraha says:

    Membaca cerita ini saya jadi terharu. Hampir sama dengan yang saya alami. Hanya saja berbeda tempatnya. Saya orang karawang yang pesantren 3 tahun di daerah sukabumi.
    Ya Allah mudah2an Engkau memberi keberkahan hidup bagi kita dan keluarga kita semua. Amiiin ….

  3. Ahmad Nurul mutamam says:

    Assalamu’alaikum, wah santri Al jihad ya, cerita yg sangat memotivasi.. salam kenal dri santri Al jihad jga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s