Cerita dari Kobong: Kisah Kasih di Pesantren

Bagaimana jika seorang santri jatuh cinta? Ya sama saja dengan manusia lainnya yang jatuh cinta. Kadang mesem-mesem sendiri, deg-degan kalau ketemu orang yang disukai, dan sering menyebutkan orang yang disukainya. Santri pun kurang lebih demikian. Meskipun saya menjomblo selama di Cipasung, tapi saya mengamati dengan teliti teman-teman yang jatuh cinta dan bagaimana relasi mereka dengan santriwati yang dicintainya. Saya juga tak banyak tahu secara mendalam. Yang saya tulis hanya deskripsi singkat yang berhasil saya amati.

Dari yang saya perhatikan selama 3 tahun di Cipasung, ada banyak tipikal santri-santri ketika jatuh cinta. Tentu ada juga tipe-tipe lainnya. Tapi ini sebatas hasil ingat-ingatan semata yang belum tentu valid. Jadi kurang lebih jika dikategorikan ada beberapa tipe santri ketika jatuh cinta:

1. Tipe Melankolis dan Puitis

Santri dengan tipikal ini kalau jatuh cinta pasti banyak menghasilkan karya. Beberapa teman di pesantren yang saya kenal punya catatan harian yang berisi beragam tulisan. Salah satunya adalah biodata teman santri maupun santriwati. Kadang juga modusin santriwati yang mereka sukai dengan menitipkan buku catatannya. Alasannya ya buat kenang-kenangan. Minimal mereka akan dapat alamat santriwati tersebut. Buku-buku itu juga seringkali berisi kalimat-kalimat motivasi dalam berbagai bahasa. Ada seorang teman yang rajin mencatatkan kalimat-kalimat yang ia dapat di manapun dan menghafalnya. Ini dilakukan agar ia bisa terlihat keren di hadapan santriwati yang ditaksirnya. Ada juga puisi-puisi yang dicatatnya. Ada juga seorang teman yang punya buku khusus yang memuat surat menyurat antara ia dan kekasihnya. Setiap hari buku tersebut berpindah tangan antara ia dan kekasihnya tersebut. Buku itu menjadi saksi dari kisah cinta mereka. Jika putus, mungkin buku itu akan dibuang atau bahkan dirobek-robek. Atau bagi yang tak bisa move on dan terjebak nostalgia, buku tersebut akan disimpan sebagai kenang-kenangan.

2. Tipe Pesolek

Mereka yang tipe ini akan sangat rajin berdandan ketika jatuh cinta. Setiap bertemu kaca pasti akan mematut-matut dirinya. Rajin ke luar asrama setelah ngaji sore. Kalau di Cipasung mungkin akan “nongkrong” di warung esa. Cuma buat mejeng. Bagi yang rajin, mereka akan siap dengan Al Quran dan Sajadah, karena akan langsung pergi ke Masjid untuk shalat magrib berjamaah. Nah, di depan asrama itu akan saling melirik. Mana santriwati yang wajahnya mampu menenangkan hati (Subhanallah). Atau hanya sekedar menyapa santriwati yang dikenal. Untuk tipe ini, mereka menggunakan beragam cara agar ia tampil keren di hadapan para santri. Pinjam meminjam sarung dan baju koko juga peci adalah lumrah. Atau jika sedang hari jumat, ketika aktivitas mengaji libur, mereka akan sibuk mencari kaos dan celana yang keren beserta sendalnya. Yang penting terlihat keren dan gaul dihadapan santriwati yang dicintai atau santriwati yang sedang disukainya. Ada juga bahkan yang semuanya modal pinjam. Hehehe.

3. Tipe Semangat Ngaji

Tipe santri yang ini memang luar biasa. Agar bisa menunjukan bahwa ia adalah calon imam yang baik di kehidupan nanti, maka modalitas pengetahuan keagamaan menjadi penting. Ia rajin mengaji, mutolaah, dan menghafal kitab-kitab yang sedang dipelajarinya. Tak pernah ketinggalan proses pembelajaran.Prestasi mengajinya juga bagus. Pokoknya subhanallah banget. Santri teladan, masa depannya sudah kelihatan cemerlang. Karena dia sedang jatuh hati, motivasinya meningkat pesat. Bahkan ketika patah hatipun ia akhirnya memilih untuk tetap semangat mengaji. Salah satu orang teman saya pernah patah hati berat, karena putus dari orang yang sangat ia cintai. Untuk mengalihkan rasa sesal akibat putus, ia malahan lebih semangat ngajinya. Hafalannya meningkat pesat, wirid dan shalatnya semakin kuat. Dan pada akhirnya dia melanjutkan studinya ke Mesir. Subhanallah pisan pokona mah. Ini cerminan santri yang berhasil mengelola dirinya.

4. Tipe Kebanyakan Bengong

Ada juga yang gara-gara jatuh cinta akhirnya malahan kebanyakan bengong. Kebanyakan ngahuleung. Ketemu orang yang disukai malah bengong dan malu (kadang malu-maluin). Seorang teman, sebut saja Antoline, naksir berat seorang teman sekelasnya. Tiap hari dia cerita bahwa ia sangat suka temannya itu. Tapi ia tak berani. Ketemu aja malu. Bahkan awalnya ngobrol saja ga mau. Tak kuat lihat tatap matanya. Wkwkwk. Padahal teman sekelas. Kalau pas jalan di luar sekolah, pas ada teman sekelasnya itu, ia memilih jalan lain. Akhirnya karena ga berani mengungkapkan, bahkan lewat surat pun ga berani, ia akhirnya kebanyakan bengong dan menghuleung. Kadang ngaca sambil senyum-senyum sendiri.

5. Tipe Boros dan Pinjam Sana-sini

Ada juga karena punya yang dikasihi dan target yang disukai hidupnya jadi boros. Padahal sebagai santri kiriman orang tua tentu terbatas. Yah, ada juga mungkin yang dikirim uang banyak. Tapi, akhirnya alokasi uang ya habis buat menjajani atau membelikan sesuatu buat orang yang dikasihi atau disukainya. Yang penting bisa bergaya di depan pujaan hati. Biar bangkrut asal nyohor. Meskipun harus rela tak jajan apa-apa atau nganjuk (berhutang) dulu di warung ketika jajan. Santri di Asrama Al Jihad biasanya nganjuk di warung ceu mala dan mang dori (Semoga mereka selalu sehat dan bahagia). Juga bisa pinjam teman-teman lain yang uang transferannya sudah ada atau masih bersisa, dengan garansi harus diganti cepat-cepat. Atau juga ada teman-teman yang rela tak jajan dan irit hanya untuk sekedar kasih sesuatu buat santriwati terkasih.

6. Tipe ngerjain

Tipe ini sering eksploitatif atau mungkin gampang memanfaatkan. Ada santri yang memanfaatkan kebaikan hati santriwati yang dikasihi atau disukainya. Misal meminta mencucikan pakaiannya. Entah santriwatinya ikhlas atau tidak. Atau relasi seperti apa yang dijalin. Yang jelas pola ini membuat sang santri tak harus mencuci pakainnya sendiri atau mengirimnya ke laundry (baca: bibi tukang cuci).

7. Tipe Don Juan

Tipe ini punya ciri-ciri: mudah tebar pesona, merasa ganteng, dan gampang jatuh cinta kalau lihat santriwati anu geulis. Sama halnya dengan tipe pesolek, namun, secara alamiah mereka mudah sekali merayu. Target-target yang dirayunya pun gampang terjaring dan terpikat. Gonta-ganti target adalah ciri dari tipe don juan ini. Selama bisa dirayu dan diperdayai, ia akan selalu mengejar target-targetnya. hhe.

Cerita lainnya pasti masih ada. Tapi setidaknya itu gambaran sederhana tentang tipe santri ketika jatuh cinta dan patah hati. Pola relasi santri dan santriwati yang ada ketika itu tentu berbeda dengan relasi pemuda pemudi masa kini. Yang saya tahu penggunaan surat menyurat ketika itu masih sangat marak. Kalau suka ada yang langsung bilang dan banyak yang lewat surat. Saya ingat, dulu pernah ada yang kirim surat juga ke saya. Hehehe. Yang jelas bukan cowok yang ngirimnya. Dulu tak banyak yang punya hape, jadi surat menjadi primadona.

Saya juga berpengalaman sebagai kurir cinta yang bertugas mengirimkan surat ke sang kekasih. Juga sering jadi tempat curhat. Dulu sepertinya saya pendengar yang baik. Hhe. Sebetulnya bukan pendengar yang baik, saya cuma ga pinter ngobrol, jadi kalau ada yang cerita pasti saya dengarkan dengan seksama.

Ada juga yang suka minta saya untuk menuliskan surat cintanya karena tulisannya jeleknya naudzubillah. Padahal tulisan tangan saya juga jelek banget. Tapi mendinganlah dibanding dia. Saya tuliskan beserta isinya, gombal-gombalnya, rayuan-rayuan manis juga kutipan-kutipan cinta. Untuk ini kayaknya saya lumayan berhasil dan berbakat. Sampai, saya pernah menuliskan surat cinta untuk keperluan masa orientasi siswa. Dan sodara yang saya bantu itu akhirnya diminta membacakan di depan anak-anak satu sekolah.

Cerita lainnya, kalau ada santriwati putri lewat depan asrama putra pasti rame banget. Kayak orang ga pernah melihat perempuan berabad-abad. Dulu santriwati lewat asrama putra memang suatu anugerah dan berkah luar biasa. Seperti air di tengah padang sahara. Hehe.

Beberapa yang bermodal, sembunyi-sembunyi janjian jalan-jalan. Entah ke Singaparna yang ongkosnya cuma gope atau ke kota tasik. Tentu ini tak bisa sembarangan. Karena keamanan pesantren memiliki intelejen di mana-mana. Hanya santri-santri yang mahir dan profesional yang bisa melakukan ini. Hehe.

Beberapa yang saya kenal adalah pejuang cinta yang luar biasa. Ada yang mencintai diam-diam, kagum diam-diam, pokoknya semua diam-diam, sabar menunggu gadis idamannya. Ada yang harus berjuang mengejar gadis yang ia suka ke manapun. Ada yang masih menyimpan rasa kagum dan sukanya bahkan sampai bertahun-tahun. Bahkan ketika kembali ke Cipasung ketika ia melihat yang terkasih sudah menikah dan menetap di sana. Beruntunglah yang akhirnya sampai menikah dan punya anak.

Dan pada akhirnya perpisahan yang memutus beragam kisah tersebut. Ada yang berhasil menjalin hubungan sampai jenjang pernikahan. Ada yang harus berpisah karena beragam alasan. Yang jelas, kisah-kisah tersebut akan selalu muncul ketika haul dan acara kumpulan lainnya.

Kisah-kisah tersebut bukan dimaksudkan untuk menjelek-jelekan citra pesantren. Kisah-kisah ini merupakan bunga-bunga ketika di pesantren. Dan cerita tersebut hanya berdasarkan perasaan subjektif dari saya sendiri. Maafkeun upami jadi ngingetkeun masa-masa baheula dan akhirna terjebak nostalgia. Juga ada yang merasa tersinggung. Kahade jadi teu akur jeung istri atawa suami.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita dari Kobong: Kisah Kasih di Pesantren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s