Penantian Berharga

Judul ini sama dengan judul lagu yang dinyanyikan Rizky Febian, anaknya Sule, salah satu penyanyi hits saat ini.

Setiap orang pasti punya sesuatu yang dinanti dan dianggap sangat berharga. Mulai dari menanti lulus sekolah dan diterima di sekolah tertentu, dapat pacar baru setelah menjomblo lama, menikah setelah susah mendapat restu orangtua, mendapat anak setelah lama menikah, atau mendapat pekerjaan yang baik setelah lama berpindah pekerjaan atau menganggur.

Yang jelas, hal tersebut sangat dinantikan dan ditunggu-tunggu. Salah satu penantian berharga saya dan istri adalah menunggu hadirnya anak.

Tak semua orang mudah mendapatkan anak. Ada yang sudah menikah puluhan tahun dan tak diberikan keturunan, ada juga yang baru menikah langsung mendapatkan keturunan atau bahkan ada yang setelah menikah sudah hamil tiga bulan gara-gara pacarannya gelap-gelapan. Eh.

Saya sangat bersyukur kami dapat kesempatan untuk memiliki anak setelah dua tahun menikah. Dengan situasi dan kondisi di masyarakat kita yang seringkali kepo (mungkin karena rasa peduli atau antusiasme yang tinggi), tak langsung memiliki anak seringkali menjadi persoalan.

Yang sudah menikah tentu paham dengan kondisi yang saya nyatakan. Baru menikah misalnya akan langsung ditanya, mau rencana punya anak berapa? Lah malam pertama saja belum sudah ditanya punya anak berapa.

Setelah satu bulan menikah, bagaimana istrinya sudah hamil belum? 3 bulan menikah. Kok ga hamil-hamil. Teu bisaeun merennya? (ga bisa kali ya?). Dikira main PES, bisa ga bisa. Enam bulan menikah, akan mulai diberikan tips praktis ini dan itu juga dengan obat-obatan dan doa-doa. Satu tahun menikah, disuruh cek ke dokter kandungan dan buat program kehamilan. Dua tahun menikah ditanya udah usaha apa saja untuk punya anak. Dan seterusnya dan seterusnya.

Ya bagus-bagus aja kalau saran-sarannya konstruktif. Seringkali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malah bikin down.

Kalau saya dan istri sih seringkali cuek. Kami beruntung di lingkungan kerja yang ga kepo sama urusan ini juga punya orangtua yang ga ngebet-ngebet tanya itu dan ini. Meskipun saya yakin mereka sangat mengidam-idamkan menggendong cucu pertamanya.

Kami ga tahu apa yang menyebabkan dalam kurun waktu dua tahun kami tak langsung punya anak. Tapi yang saya amati sekarang sepertinya tingkat stress dan kelelahan yang menyebabkan kami tak langsung memiliki keturunan. Saya sering juga memperhatikan beberapa teman dan saudara yang tak langsung dianugerahi keturunan karena punya pekerjaan yang padat.

Untuk orang-orang yang tinggal di Jakarta tentu saja tahu bagaimana ‘kejamnya’ ibu kota ini. Setiap hari kita bergelut dengan kemacetan yang luar biasa. Bagi yang bertempat tinggal di luar Jakarta pasti menghabiskan minimal 4 jam di perjalanan. Ditambah dengan pekerjaan yang menumpuk. Ya plus-plus. Kapan punya waktu bahagia berdua sama istri atau memprogram punya anak kalau sibuk begitu.

Yang kami lakukan ketika itu cuma hidup lebih santai, cuek-cuek denger komentar orang, banyak cari informasi termasuk beli buku, minum vitamin, dan hidup lebih sehat. Dan jangan lupa berdoa banyak-banyak mohon dianugerahi keturunan.

Kami ketika itu beli beberapa buku dan browsing tentang buku-buku kehamilan. Saya sih yang seringkali beli. Istri tinggal baca atau minta diceritain. Hehehe.

Dari buku ke buku dan browsing ke browsing ya isinya sebenernya sama aja. Yang harus dilakukan adalah lebih santai dan lebih sehat. Intinya pola hidup dan pola pikir diperbaiki.

Kalau mau lebih baik ya ke dokter untuk cek kesehatan suami dan istri. Jadi tahu problem sesungguhnya ada di mana. Karena seringkali yang disalahkan ketika suami istri belum punya keturunan adalah istri. Dibilang ini dan itu. Ini kan ga adil. Siapa tahu suaminya yang bermasalah. Makanya perlu dicek kesehatannya.

Karena harus hidup lebih sehat ketika itu istri saya pun memasak setiap hari. Dengan skill yang amat terbatas dia berusaha menghadirkan makanan-makanan sehat. Kami mengurangi jajan-jajan makanan sembarangan. Minumnya ya air putih saja ga yang berwarna-berwarna. Olahraga sesekali lari-lari pagi pas hari libur.

Bagi yang istrinya belum hamil harus berusaha keras dan berdoa keras. Banyak cerita orang-orang yang baru dianugerahi buah hati setelah puluhan tahun. Di Al Quran kisah-kisah itu juga ada pada para nabi. Jadi jangan kecil hati dan putus asa. Maju terus pantang mundur.

 Apakah kami berusaha ke dokter? Iya Cuma dua kali. Hehe. dokter pertama kami tinggalkan karena bikin tidak nyaman dan hanya memberikan ketakutan-ketakutan. Jadi memang memilih dokter juga harus tepat. Dokter kedua (rekomendasi dari teman) ternyata pas.

Kami sendiri tidak sempat program. Pas dua tahun lebih  dua bulan kalau ga salah istri tiba-tiba kasih kabar bahwa hasil tespacknya dua setrip. Wah rasanya bahagia banget. Nah ini namanya penantian berharga. Setelah kami berpasrah ternyata yang kami tunggu hadir.

Kami kemudian ke dokter untuk mengecek. Dan ternyata memang istri hamil.

Karena menunggu yang sangat berharga, maka kami berusaha memberikan yang terbaik untuk calon anak kami tersebut.

Kata orang pintar, masa kehamilan merupakan periode penting. Tips ini dan itu banyak sekali di internet. Tinggal browsing saja. Tapi memang harus dipilah-pilah mana yang tepat dan tidak. Selain itu banyak juga tips dari orang-orang sekitar kita. Ini pun perlu diseleksi. Ga semua harus dijalankan.

Yang jelas kalau istri hamil, suami harus memberikan kasih sayang ekstra. Jangan mau enak tapi lihat istri malah enek. Saya juga merasa belum kasih yang terbaik sih. Apalagi belum pernah berpengalaman mendampingi yang hamil. Hehe. Kalau muslim banyak ayat-ayat dan doa yang bisa dibacakan. Kita kan tentu berharap anak-anak kita jadi sosok yang baik di masa datang. Makanya doa-doa, kalimat-kalimat, kata-kata terbaiklah yang harus rutin disampaikan untuk sang calon bayi itu.

Jangan sampai pas istri hamil ditinggal-tinggal apalagi sampai dimarah-marahin. Selain itu harus punya uang ekstra untuk cek kondisi istri ke dokter atau bidan, beli makanan-makanan sehat dan lainnya. Makanya jangan sampai hidup boros. Kalau ga akan nelangsa karena uang yang ada ga akan cukup.

Yang masih pacaran, coba tanya komitmen pacar masing-masing, mau nikah ga? Kalau mau main-main doang mah putusin aja. Hehe. sayang uangnya dipakai hambur-hambur.

Lebih baik ditabung untuk persiapan nikah dan setelah nikah. Kata orang kan bikin pasangan bahagia pahalanya besar. Nanti pas udah nikah beliin istri dan anak yang bagus-bagus karena apa yang kita dapat akan semakin barokah. Barokah itu ziyadatul khoir, tambah-tambah kebaikan.

Anak kami akhirnya sekarang sudah 21 bulan. Lagi seneng lari sana sini. Lempar sana sini. Coret sana sini. Teriak-teriak pake bahasa bayi. Dan hal lucu lainnya.

Anak kami itu sudah jadi anak paling pinter, paling ganteng, paling lucu versi kami. Ya iyalah, setiap orang tua selalu cerita bahwa anaknya yang paling-paling. Nah termasuk kami pun merasa anak kami yang paling-paling baik semua. Kalau ada yang ga bangga sama anaknya mungkin itu anaknya ketuker sama anak tetangga. Hehe.

Yang bisa kami lakukan hanya tak henti-hentinya bersyukur. Terima kasih ya Allah. Allah Mahabaik.

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: