Belajar Mencintai Buku

whatsapp-image-2017-02-26-at-21-07-47Rajendra Nusantara, 22 Bulan di Salah Satu Toko Buku (Dokumentasi Pribadi)

Ada banyak orang yang menginspirasi saya untuk terus bersemangat membaca dan menulis. Pertama-tama tentu saja orangtua saya. Mereka yang pertama kali mengarkan saya mengeja huruf demi huruf. Karena ibu saya adalah spesialis guru kelas satu (bahkan sampai sekarang) saya mengenal huruf lumayan dini.

Saya punya cukup kemewahan ketika masih sekolah dasar dulu. Saya berlangganan Majalah Bobo. Setiap kamis adalah hari penantian. Karena pada saat itu Majalah Bobo dikirim oleh abang penjual koran. Generasi 90an pasti tahu. Dari situ saya bisa mengenal cerpen dan tulisan-tulisan lain di Majalah Bobo. Kadang bisa berbangga bisa membawa dan menceritakan isinya ke teman-teman kelas.

Kemewahan lain adalah karena tinggal di dekat (eh di dalam sekolah) saya bisa puas membaca buku-buku dari dinas pendidikan dan kebudayaan (dulu Dinas P & K) yang ada di sekolah. Buku-buku yang sesungguhnya stok perpustakaan itu tergeletak sembarangan dan tak ada yang membacanya. Saya iseng membacanya secara tekun satu persatu.

Selain itu, bapak pun sering membawa buku-buku dari sekolahnya yang terkadang disiasiakan untuk dibaca kami berdua anak-anaknya. Saya pernah membaca majalah Si Kuncung juga. Atau seringnya buku-buku pelajaran untuk anak-anak yang lebih tinggi. Meskipun hanya buku-buku ilmu sosial yang saya baca.

Saat itu saya belum kenal dengan toko buku besar. Sudah ada toko buku gramedia di MM Bekasi kalau tidak salah. Tetapi saya belum pernah ke sana. Belakangan saya tahu toko buku multimedia di proyek Bekasi dan Pasar Cikarang serta toko buku Bani Saleh di Proyek. Toko Buku Multimedia dan Bani Saleh bersebelahan. Sekarang sepertinya dua toko buku tersebut sudah almarhum. Saya ke sana hanya sesekali. Dalam setahun paling hanya satu dua kali. Dulu Bapak tak punya motor, hanya ada sepeda. Karena waktu itu dari Cibitung ke Bekasi rasanya jauh sekali. Biasanya ikut jika Bapak atau Mama ada keperluan saja. Itu pun tak intens. Tak ada jadwal membeli buku kesukaan ataupun lainnya.

Saya tak pernah ke Gramedia karena memang tak ada yang mengajak. Pertama kali saya menginjakan kaki di Gramed kelas 4 SD kalau tak salah. Saya di ajak adiknya bapak. Dia sedang PDKT dengan seorang perempuan ketika itu, dan mengajak saya dan adik ke Gramedia. Melihat banyak buku dan alat tulis yang begitu banyak rasanya luar biasa sekali. Norak.

Setelah SMP saya mulai berani pergi sendiri ke Gramedia. Saya sering ke MM Bekasi dan ke Toko Buku Gunung Agung di Borobudur (dekat terminal Bekasi). Uang jajan yang saya punya sedikit demi sedikit bisa saya sisihkan untuk membeli buku dan berlangganan koran. Jajan saya tak besar. Kelas 1 SMP kalau tak salah saya mendapat uang jajan 1500 rupiah. Biasanya hanya habis setengahnya untuk ongkos. Ongkos masih murah ketika itu. Kalau naik bus tiga perempat biasanya hanya 100 jika menggunakan seragam. Dulu kalau anak lelaki pasti naik bus tiga perempat tersebut. Anak perempuan naik elf (beberapa menyebutnya help.hehehe).

Di SMP langganan saya Majalah Sabili dan Annida. Hehehe. Saya bawa majalah tersebut ke kelas (kalau tidak salah kelas 3). Saya bisa cerita detil tentang Osama Bin Laden. Hehehe. Namanya pencarian jati diri. Bapak Mama saya tak pernah usil ketika di Kamar saya memasang poster Osama Bin Laden dan tokoh-tokoh Al Qaida lainnya beriringan dengan poster tim Inter Milan. Saya berhenti berlangganan ketika mesantren di Cipasung. Awal-awal sih masih beli. Tapi kemudian berhenti.

Jika melihat kondisi tersebut saya masih begitu beruntung bisa berkenalan dengan buku sejak kecil. Meskipun saya sadar hal tersebut tak membuat saya mengetahui banyak hal. Tapi saya selalu jatuh cinta dengan buku dan toko buku. Kalau dengan perpustakaan saya tak terlalu jatuh cinta. hehe. Kalau di Mall hanya di toko buku saja saya tak pernah merasa canggung. Karena jalan-jalan di Mall saja saya merasa canggung. Hehehe. Mungkin karena dari lembur. Setiap masuk mall saya selalu merasa terasing. Toko bukulah yang bisa menyelamatkan keterasingan tersebut. Meskipun seringkali sedih ketika harus menahan diri untuk membeli banyak buku. Kenapa harga buku di Indonesia mahal sekali Ya Allah.

Karena masa kecil yang tak terlalu banyak terpapar dengan toko buku, saya dan istri kemudian selalu berusaha mengenalkan anak kami toko buku. Setiap main pasti kami ajak ke toko buku. Dan kemudian membiarkannya asyik berlari-larian di toko buku sambil memegang buku dan mengajak-ngacaknya juga. Biar akrab sama buku. Doa dan harapan kami agar ia bisa jadi orang yang mencintai buku. Membacanya dengan sungguh-sungguh.

Saya ingat postingan Mas AS Laksana di FBnya. Dia bilang agar anak senang membaca ya minimal tampilkanlah minimal seolah-olah kita sedang memegang buku di depan anak setiap hari. Memang karena anak adalah peniru yang ulung. Di tahapan awal perkembangannya pasti akan mengimitasi apa yang orang dewasa lakukan. Ini yang saya coba lakukan sekarang. Minimal ia melihat bapak dan ibunya “akting” membaca buku atau minimal memegang buku. Sehingga kami pun harus pasrah membiarkannya mengacak-ngacak buku, mencoret dan merobeknya. Semoga kami diberikan kesempatan memberikan sebanyak-banyaknya buku bagi anak kami. Tak perlu berpayah-payah untuk mendapatkan buku yang diinginkan.

Belajar mencintai buku bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi sekarang orang lebih senang memainkan gadgetnya (termasuk saya). Jika gadget digunakan untuk membaca ebook sih tak apa. Saya sendiri sering terjebak menonton drama korea. Hehe.

Beruntunglah mereka yang tak perlu menahan diri untuk membeli buku. Juga berbahagialah mereka yang punya banyak uang, bisa membeli serta membaca buku sepuas-puasanya. Tak semua orang punya kemewahan dan keberuntungan macam ini.

Cirangkong yang Hujan, 26 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s