pendidikan, Politik dan Kebangsaan

Membaca sebagai Tugas Ilahiah

Membaca sebagai Tugas Ilahiyah republika

Membaca dapat pembuka cakrawala, meningkatkan imajinasi dan keluasan pandangan seseorang.

Cullinan (2000) dalam Jurnal School Library Media Research menuliskan papernya yang berjudul Independent Reading and School Achievement. Cullinan menelaah berbagai kajian tentang efek membaca secara mandiri terhadap prestasi sekolah siswa.

Dari kajian tersebut didapat kesimpulan bahwa membaca secara mandiri sangat berpengaruh terhadap pemahaman bacaan, keterampilan berbicara, kekayaan kosa kata, dan kesuksesan belajar di sekolah. Kebiasaan membaca sangat berpengaruh pada prestasi seseorang.

Wendy L. Becher (2009) dalam buku Writing Journal Article in 12 Weeks menyebutkan tiga cendikiawan dunia yang memiliki habitus membaca yang sangat kuat yaitu Henry A. Giroux, Edward O. Wilson dan Klaus Herding.

Salah satunya, Klaus Herding, seorang German Art Historian membaca lima buku setiap pagi secara konsisten. Dari pukul tujuh pagi sampai pukul sepuluh pagi serius membaca. Kebiasaan tersebut membuat karir penulisannya begitu mengesankan.

Ia berhasil menulis lebih dari 250 artikel jurnal dan buku. Prestasi yang sangat menakjubkan.Para pendiri bangsa juga dapat menjadi rujukan. Soekarno dan Hatta misalnya dikenal sebagai pembaca yang tekun juga penulis yang handal.

Dengan penuh kesungguhan mereka membaca teks-teks berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Kedua tokoh tersebut memang otodidak yang ulung, para pembelajar mandiri. Orang-orang yang dahaganya tak pernah tercukupi dan rasa ingin tahunya tak pernah habis.

Soekarno bahkan diakhir hayatnya masih serius membaca buku. Dr. Mahar Mardjono mantan tim ketua Kepresidenan (1968-1970) pada saat mengobati Bung Karno menemukan begitu banyak buku, surat kabar, dan majalah dalam dan luar negeri di samping tempat tidur bapak bangsa tersebut (Kasenda, 2011).

Bung Hatta harus membawa 16 peti yang berisi buku sepulang dari Belanda. Buku adalah istri kedua bagi Bung Hatta. Ada juga cerita menarik dari Tan Malaka. Meskipun dalam pengejaran pemerintah kolonial, ia tetap membaca banyak buku dan kemudian menuliskan beberapa karya besar.

Salah satu karyanya Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) lahir ketika ia dalam pengejaran pemerintah kolonial. Dalam buku Madilog ia mengisahkan betapa ia sangat suka membaca. Membaca baginya menghadirkan kebahagiaan, meskipun membeli buku-buku baru membuat kantongnya jebol.

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali, kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”, sebut Tan Malaka di Buku Madilog. Sebagai pembaca buku yang militan Tan Malaka memandang pentingnya keberadaan toko buku.

Melalui toko bukulah produksi pengetahuan kemudian dihantarkan kepada para pembaca. Membaca dan menulis menjadi bagian penting dalam perjuangan mereka merebut kemerdekaan.

Perdebatan-perdebatan baik lisan maupun tulisan didukung oleh argumentasi yang kokoh merujuk pada buku-buku yang mereka baca. Membaca membuat perdebatan-perdebatan yang terjadi ketika itu sangat berbobot. Jika sekarang perdebatan dilakukan dengan berbalas di media sosial, saling berbalas informasi hoax, dahulu tokoh-tokoh bangsa berdebat melalui tulisan yang isinya merupakan hasil perenungan mereka.

Salah satu debat legendaris adalah perdebatan mengenai Islam dan kebangsaan antara Soekarno dengan A. Hasan dari Persatuan Islam (Persis). Keduanya saling berbalas surat dalam memperdebatkan dasar negara apa yang cocok bagi Indonesia merdeka. Perdebatan antar kedua tokoh tersebut masih terekam jelas dalam catatan sejarah dan mewarnai pemikiran Islam dan kebangsaan hingga saat ini.

Jika dahulu para tokoh bangsa begitu kuat membaca meskipun dengan beragam keterbatasannya. Kondisi saat ini sangat berbalik. Di tengah mudahnya orang mendapatkan buku bacaan, minat baca masyarakat Indonesia justru rendah. World’s Most Literate Ranked menempatkan Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara yang disurvei. Selain itu yang begitu menyedihkan dalam satu tahun seorang siswa di Indonesia hanya membaca 27 halaman. Betapa parahnya.

Sampai saat ini pendidikan kita belum serius memtradisikan atmosfer akademik yang membuat anak jatuh cinta pada buku. Sekolah seringkali terjebak pada pengejaran prestasi akademik dan luput menginternalisasikan kecintaan pada buku. Membaca belum menjadi gaya hidup para siswa maupun guru. Membaca buku dengan serius belum menjadi prioritas pendidikan di sekolah.

Tradisi membaca pun tak dibangun di rumah. Padahal mengenalkan buku sejak dini kepada anak-anak adalah upaya penting. Sebab, jika anak tak dikenalkan dengan buku sejak kecil, kemungkinan besar mereka untuk jatuh cinta dengan buku akan semakin kecil. Jika membaca biografi tokoh-tokoh bangsa, kecintaan mereka kepada buku terjadi karena pengaruh orangtua. Mereka hidup di komunitas keluarga yang menghargai ilmu pengetahuan.

Soekarno terbiasa melihat ayahnya membaca dan berdiskusi Hatta berasal dari keluarga yang punya tradisi keilmuan sangat baik. Gus Dur biasa membaca buku-buku yang dimiliki di perpustakaan ayahnya. Memang jika melihat kondisi tersebut membaca menjadi sangat ekslusif bagi orang-orang yang berada pada kelas sosial yang cukup tinggi. Mereka yang biasa berakrab-akrab dengan buku, sehingga tak sulit membeli buku bagi mereka.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, mensubsidi beragam jenis buku sehingga buku menjadi lebih murah dan dapat dibeli oleh lebih banyak kalangan masyarakat. Kedua, melengkapi perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah maupun universitas dengan beragam buku. Ketiga, menggandeng beragam komunitas baca untuk membuat program-program yang mampu menarik minat baca masyarakat.

Menggandeng komunitas menjadi sangat strategis. Daya juang dan militansi mereka dalam menggelorakan semanga baca di masyarakat sudah teruji. Mereka melakukannya dengan sukarela karena sangat mencintai buku dan sadar kecintaan terhadap buku harus ditularkan kepada masyarakat. Ada yang berkeliling dengan sepeda, motor, mobil untuk mendatangi kampung-kampung ada juga yang memanfaatkan acara car free day untuk menggelar lapak-lapak bukunya. Tujuannya satu, agar buku dapat dibaca oleh semua kalangan masyarakat. Kerja-kerja komunitas seperti inilah yang harus didorong dan didukung agar menjadi gerakan yang masif.

Mari kita jadikan kebiasaan membaca menjadi gaya hidup. Membaca menjaga kita agar tetap berpikiran terbuka, menjauhkan kita dari sesat pikir. Karena membaca adalah tugas ilahiah yang tak pernah usai.

Dimuat di Harian Republika, 11 April 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s