Meneguhkan Keberagaman Indonesia di Ruang Kelas

Indonesia sangat beragam dan berwarna dalam agama, suku bangsa, bahasa, pilihan politik, dan kelas sosial. Mengingkari keberagaman berarti mengingkari keindonesiaan itu sendiri.

Dari komposisi agama yang dianut misalnya, data BPS tahun 2011 tercatat pemeluk Islam sebanyak 207,2 juta jiwa (87,18 persen), Kristen 16,5 juta jiwa (6,96 persen),  Katolik 6,9 juta jiwa (2,91 persen),  Hindu  4 juta jiwa (1,69 persen),agama Budha  1,7 juta jiwa (0,72 persen) dan pemeluk Khonghucu sekitar 117,1 ribu jiwa (0,05 persen). Sisanya sebanyak 1.196.317 jiwa (0,51 persen) menjawab lainya, yang kemungkinan termasuk masyarakat yang memeluk agama atau kepercayaan lokal.

Sedangkan komposisi penduduk menurut kelompok suku bangsa tercatat Suku Jawa (95,2 juta jiwa), Suku Sunda (36,7 juta jiwa), Suku Batak (8,5 juta jiwa), Suku Nias (1,04 juta jiwa), Suku Minahasa (1,24 juta jiwa) dan Suku Gorontalo (1,25 juta jiwa) (BPS, 2011).

Gambaran dari dua hal tersebut sudah cukup menggambarkan keberagaman yang ada di Indonesia. Jika kita saling mengasihi dan menguatkan maka kebhinekaan negeri ini akan lestari. Indonesia akan jadi bangsa yang besar jika saling bersatu.  

Namun beberapa kasus yang terjadi di tahun 2016, masih  ada beberapa pihak yang tak sepakat dengan Indonesia yang beragam.  Beberapa peristiwa seperti pembubaran prosesi ibadah Kebaktian Kebaktian Rohani (KKR) di Bandung, ledakan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda, upaya bom bunuh diri di Gereja Katolik Santo Yosep Medan, peristiwa di Tolikara maupun Tanjung Balai menjadi contoh betapa hidup berdampingan dengan yang berbeda masih tak terlalu mudah untuk dilakukan.

Kondisi tersebut tentu berbeda jauh dengan apa yang dibayangkan pendiri bangsa Indonesia di masa lalu. Para pendiri bangsa tersebut menyadari bahwa nusantara yang beragam tidak akan berhasil keluar dari cengkraman kolonialisme jika tak mampu mengatasi semua perbedaan. Para pejuang bangsa ketika itu sadar bahwa hanya dengan bersatu dan saling menguatkan diri Indonesia akan merdeka. 

Persatuan bangsa seolah terus diuji. Karena berbeda pilihan politik atau pemahaman keagamaan dengan mudah kita bertengkar dan saling membenci. Kita mudah sekali marah dan terprovokasi karena perbedaan pendapat. Yang paling mudah disaksiakan adalah terjadinya pertempuran virtual di media sosial. Beragam ujaran tentang kebencian, hasutan, dan fitnah menyebar viral setiap saat di gawai dan membuat kita sakit kepala. Berita hoax seolah menjadi salah satu kebenaran yang tak terbantahkan.

 

Konstruksi keberagaman di dunia pendidikan
Kita masih terus berharap pada dunia pendidikan. Sebab, dunia pendidikan merupakan salah satu pihak bertanggungjawab dalam mengkonstruksi pemahaman siswa mengenai keberagaman dan kebangsaan. Akan tetapi sayangnya, seringkali lembaga pendidikan justru luput dalam menguatkan pemahaman tentang kedua hal tersebut.

Pembiasaan berdialog di ruang kelas misalnya belum menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Seringkali, ruang-ruang kelas belum menjadi arena di mana beragam pendapat diuji dan diperdebatkan. Apalagi jika guru tak memberi ruang bagi perbedaan pendapat yang muncul ketika proses pembelajaran. Guru harus memberikan ruang yang leluasa terhadap beragam diskursus yang terjadi selama proses pembelajaran.

Seperti yang Banks (2006) ungkapkan, kelas harus menjadi forum yang memberi ruang bagi berbagai pendapat dan perspektif. Dalam forum ini, suasana kelas yang demokratis harus diciptakan oleh guru. Siswa diajak untuk menjadikan kelas sebagai forum di mana berbagai perspektif dihargai.

Pembelajaran di ruang kelas harus mampu membangkitkan gairah intelektual. Dan membuat para siswa bersemangat mengkaji, mengkritisi dan mengelaborasi setiap kemungkinan-kemungkinan jawaban dari setiap persoalan yang mereka hadapi. Sehingga siswa tak hanya terpaku pada pilihan-pilihan jawaban yang sudah disediakan guru. Siswa diajak untuk terus menilai sesuatu secara kritis serta bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang dibuatnya.

Hal yang juga penting adalah mengenalkan siswa dengan realitas sosial yang ada di masyarakat. Mereka harus dikenalkan secara langsung dengan masyarakat Indonesia yang beragam. Dengan begitu mereka dapat mempelajari secara langsung beragam corak kehidupan di masyarakat. Jangan sampai dunia pendidikan asik dengan beragam pembelajaran yang canggih dan lupa mengenalkan mereka pada realitas keseharian Jangan sampai, apa yang diungkap Rendra pada Sajak Sebatang Lisong masih terus terjadi, dan papan tulis-papan tulis para pendidik, yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Penugasan-penugasan dari guru tak boleh hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat tekstual semata tetapi juga harus kontekstual. Guru-guru ilmu sosial di tingkat Sekolah Menengah Atas dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengunjungi dan berdiskusi dengan kelompok keagamaan, etnisitas, maupun kelas sosial yang berbeda dengan latar belakang mereka.

Kemudian para siswa mempresentasikan serta merefleksikan hasil kunjungan tersebut. Menceritakan kesan-kesan apa saja yang dirasakan setelah berdialog dengan kelompok yang berbeda. Tugas-tugas ringan tersebut adalah upaya sederhana untuk mengenalkan realitas kebangsaan Indonesia yang multikultural.

Upaya-upaya sederhana tersebut jika dilakukan secara terus menerus akan mampu menangkal doktrin-doktrin kekerasan dan kebencian yang saat ini begitu massif disebarkan. Dunia pendidikan harus menjadi arena di mana para siswa secara optimal dikonstruksikan semangat kebhinekaan dan kebangsaan. Sehingga mereka dapat sepenuh hati menghayati makna Pancasila, tak tercerabut dari akar budayanya serta memahami dengan baik realitas sosial masyarakat sekitarnya. Merekalah yang akan merawat bangsa ini dan menjadikan keberagaman Indonesia tetap lestari.  

dimuat di website Pusat Penelitian Kependudukan LIPI: http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/pendidikan/368-meneguhkan-keberagaman-indonesia-di-ruang-kelas

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: