pendidikan

Pramoedya Ananta Toer: Tulis, Tulis, dan Tulis….

Jika membuka Google hari ini, akan ada gambar sesosok lelaki yang sedang mengetik dengan mesik ketik. Di belakangnya ada background huruf-huruf mesin ketik. Lelaki itu Pramoedya Ananta Toer.

Hari ini adalah hari lahirnya. Pram, begitu ia sering disebut, lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari tahun 1925. Ia sudah meninggalkan kita sejak April 2006. Namun, ia masih dikenang oleh kita semua hingga saat ini. I

a kita kenal dari karya-karyanya yang luar biasa. Nama Pramoedya Ananta Toer memang terasa begitu magis. Dan ternyata setelah membaca buku karya Koesalah Toer (Pramoedya Ananta Toer dari dekat sekali: catatan pribadi Koesalah Soebagyo Toer, Penerbit KPG 2006), Adik dari Pram, Pram pernah menulis satu uraian panjang mengenai namanya tersebut dalam karangan “Memoar-Hikajat Sebuah Nama” (1962). Nama Pramoedya Ananta Toer merupakan sejarah panjang pemikiran dan perenungannya. Koesalah menceritakan paling tidak ada sembilan nama yang pernah digunakan oleh Pram, sebelum ia mantap menggunakan Nama Pramoedya Ananta Toer.

Apa buku Pramoedya Ananta Toer favoritmu? Akan sulit memilih buku mana yang paling favorit dari Pram. Saya selalu terkesima setelah membaca karya-karya Pram. Bagi saya, buku-buku karya Pram adalah jenis buku yang bisa dibaca berkali-kali. Dan tiap membacanya, saya akan mendapatkan pemaknaan-pemaknaan yang baru.

Membaca Pram tak pernah menjemukan tak pernah membuat bosan. Pertama kali membaca buku-buku Pram saya langsung terpesona. Memang saya sangat terlambat dalam membaca buku-buku Pram tersebut. Saya tak pernah merasa dikenalkan (entah saya yang lupa) sosok Pramoedya Ananta Toer ini ketika di bangku sekolah.

Mungkin memang saya yang kurang gaul juga ketika dulu sehingga tak ada buku Pramoedya yang berhasil saya baca di sekolah. Ketika main ke toko buku, saya sering melihat buku-buku karya Pram terpajang, namun tak pernah ada dorongan untuk membacanya. Saya akhirnya tergerak untuk membeli buku Pram setelah lulus S1, telat sekali sesungguhnya. Tapi ya tidak apa-apa, lebih baik telat dari pada tidak sama sekali.

Pertama kali yang saya baca adalah Bumi Manusia bagian dari tetralogi yang dikarang Pram selama di Pulau Buru. Tetralogi dari Pram; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah buku favorit saya. Meskipun buku-buku tersebut sebesar-besar bantal, tetapi tetap asyik dibaca. Tak bosan untuk diulang-ulang.

Saya memang bukan kritikus sastra, jadi tak bisa menilai secara cermat karya-karya Pram. Tapi bagi saya kata-kata yang ditulis pram seperti magis. Seperti ada kekuatan tersendiri dari kata-kata pram. Ada kekuatan dalam kata-katanya. Tak heran jika sampai sekarang, quotes dari Pram selalu dikutip di mana-mana. Di media sosial sangat mudah kita cari quotes dari Pram tersebut. Silakan saja browsing quotes-quotes dari Pram di Google. Banyak sekali. Goodreads saja mencatatkan banyak sekali quotes tersebut. Ada sekitar 452 quotes yang dicatatkan di http://www.goodreads.com. Kata-kata, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, dikutip oleh banyak orang. Mengingatkan bahwa para terpelajar harus adil dalam pikiran dan perbuatan, dalam kata dan perbuatan.

Kalau saya sendiri, sangat suka dengan kata-kata Pram: “menulislah, apa pun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat sangat berguna”. Bagi saya kata-kata tersebut adalah penyemangat bagi saya yang baru memulai di dunia penelitian dan tulis-menulis. Meskipun saya sendiri masih kesulitan untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang baik, tapi setidaknya kata-kata Pram tersebut terus menguatkan dan meningkatkan rasa percaya diri.

Tak perlu malu tulisan kita jelek. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Bagi saya sendiri, menulis sering kali membuat kelegaan-kelegaan tersendiri. Membuat jiwa menjadi lapang. Setidaknya kegundahan-kegundahan dapat disampaikan ke khalayak umum. Setidaknya ada yang mau menyediakan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan sederhana yang saya buat. Saya selalu takjub dengan orang-orang yang produktif menulis. Ingin tahu dapur orang-orang tersebut memproduksi tulisan-tulisan hebat.

Dari Pram saya banyak belajar bagaimana ia begitu gigih menulis. Kita tahu bagaimana Pram dipenjara dari rezim ke rezim. Namun, tetap saya ia “kekeuh” berkarya. Meskipun kita juga tahu beberapa karya Pram hilang atau dihilangkan oleh rezim yang berkuasa ketika itu. Penjara tak membuat pikirannya terpenjara pula. Bekalnya hanya mesin ketik. Coba banyangkan sulitnya menulis dengan mesin ketik tersebut. Salah ketik tak bisa di-delete, atau draft tulisan tak bisa disimpan di folder-folder khusus. Tapi tetap menulis rutin dan tak hanya menulis namun karya-karyanya menjadi pegangan bagi banyak orang.

Lha, saya sendiri yang tak sibuk-sibuk amat, tak mampu banyak memproduksi tulisan. Sekadar menulis rutin di Kompasiana saja rasanya berat. Makanya orang-orang yang konsisten menulis itu orang-orang hebat. Apalagi membayangkan seorang Pram yang jiwa raganya terancam setiap saat. Ia tetap menulis dengan berani, tanpa rasa takut. Rasanya maqomnya dalam menulis sulit sekali dijangkau. Tak salah jika karyanya begitu banyak dan menyejarah. Ia dikenang oleh banyak orang.

Karyanya dipelajari, dibedah, dan menjadi inspirasi. Saya pernah membaca, entah di mana saya sudah lupa, setiap hari Pram membeli koran dan rajin mengklipingnya, mengumpulkannya sebagai bahan tulisan-tulisannya.

Ada seorang teman yang mengatakan untuk menulis dengan baik maka harus juga membaca dengan baik. Dan memang itu benar. Ia pun mendapat petuah itu dari seorang senior yang sangat dihormati di kalangan para peneliti. Katanya, baca dan tulis, baca dan tulis. Kadang kita asik membaca dan lupa menulis. Atau rajin menulis tapi tak pernah membaca. Akhirnya yang kita tulis pun tak punya banyak makna.

Pram sudah menghasilkan banyak sekali karya. Dari catatan Wikipedia, ada sekitar 50 karya Pram, dan karya Pram tersebut sudah diterjemahkan ke 41 bahasa. Luar Biasa. Pram memang benar ketika ia menulis; orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Dan kita tahu, Pram tak pernah hilang dari sejarah, karena karya-karyanya akan terus dibaca. Kata-katanya terus menjadi inspirasi dan penyemangat. Bagi saya, Pramoedya Ananta Toer sangatlah keren. Selamat berulang tahun, Bung. Dari Selatan Jakarta, 6 Februari 2016

Headline di Kompasiana, 6 Februari 2017
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anggiafriansyah/pramoedya-ananta-toer-tulis-tulis-dan-tulis_5897e1bd3097735b0d673150

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s