Berharap pada Pendidikan

Membaca tulisan Y. Sari Jatmiko yang berjudul Mlarat in Ningrat (2008) begitu menarik. Mlarat in ningrat adalah ungkapan dari Romo Mangun yang berarti miskin namun bermartabat. Ungkapan yang merupakan pilihan sikap dari Romo Mangun terhadap kaum miskin dan pemerdekaan kaum miskin menjadi manusia yang bermartabat, yang secara praksis diwujudkan pada pendidikan formal alternatif SD Mangunan.

Dalam salah satu bagian disampaikan bagaimana pendidikan menurut Romo Mangun seharusnya menjadi mediasi terwujudnya sosok citra ‘Manusia Pasca Einstein’. ‘Manusia Pasca Einstein’ ini mempunyai karakter eksplorer, kreator dan integral.

Manusia eksplorator cirinya suka mencari bertanya dan berpetualang. Manusia kreator cirinya berjiwa terbuka, pembaharu, dan merdeka. Kritis, kaya imajinasi-fantasi dan tidak mudah menyerah pada nasib. Manusia integral cirinya menyadari akan multidimensionalitas kehidupan, paham akan kemungkinan jalan-jalan alternatif, bijak membuat pilihan yang benar atas dasar pertimbangan yang benar. Yakin akan kebenaran atas dasar pertimbangan yang benar, yakin akan kebhinekaan kehidupan, namun mampu mengintegrasikannya dalam suatu kerangka yang sederhana.

Namun, kalau melihat dunia pendidikan akhir-akhir ini kontruksi manusia pasca einstein yang diharapkan Romo Mangun tersebut sepertinya semakin sulit dilakukan. Utamanya membuat anak menjadi (atau setidaknya menuju) manusia integral yang sangat menyadari multidemensional kehidupan. Bahwa ada kebhinekaan dalam kehidupan. Yang artinya tak pernah ada tafsir tunggal terhadap segala sesuatu.

Hari-hari ini kita begitu disesaki oleh beragam cuitan, status, broadcast dan banyak hal tentang banyak tema. Saling serang dan hantam menjadi hal biasa. Biasa saja jika argumentasinya yang diajukan tepat, data yang disajikan akurat. Bisa saling konfirmasi dan berbagi. Namun, problemnya adalah saling serang karena diawali ketidaksukaan atau lebih buruknya kebencian. Kalau sudah benci ya bagaimana lagi. Apapun yang dilakukan salah.

Dan seluruh ruang hidup kita disesaki oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Saya pernah menghadiri maulid nabi, khutbah jumat, sampai ceramah pernikahan yang isinya hanya serangan kepada pihak yang bersebrangan, yang tak disukai. Jangan bayangkan maulid nabi bercerita tentang uswah Rasulullah atau ceramah pernikahan berisi tentang wejangan membentuk keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Saya yang masih perlu banyak belajar, dan bersemangat mendengarkan ceramah tersebut tiba-tiba menjadi merasa lelah dan kesal. Kenapa ruang-ruang pertemuan dengan umat dijadikan sarana untuk saling menghujat.

Yang paling saya khawatir ruang-ruang kelas yang harusnya menjadi ruang pertemuan beragam ide atau gagasan tak terkooptasi oleh pertarungan di sosial media. Akan sangat buruk jika ini terjadi. Semoga saja tidak. Karena pada dunia pendidikanlah harapan bagi masa depan kebangsaan ini disematkan.

Pendidikan yang memanusiakan, memberikan ruang besar bagi kreativitas dan kemerdekaan peserta didiknya, yang menjadikan para siswa tak lupa pada keindonesiannya, yang menjadikan anak-anak yang saling menyangi, yang membuat anak tak saling benci dan curiga. Pendidikan yang membuat mereka selalu bahagia.

 

Sebelumnya diunggah di: http://www.kompasiana.com/anggiafriansyah/berharap-pada-pendidikan_5886cf41907a6146064227ab

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: