Catatan Pengingat: Tahapan Mengikuti Tes CPNS LIPI

Hari-hari ini ramai kembali mengenai pendaftaran PNS. Saya kembali teringat ketika tahun 2014 lalu saya pun mengikuti perkembangan CPNS ini. Sebab saat itulah saya mencoba mencari peruntungan menjadi abdi negara.

Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi guru. Saya ingin jadi guru sebab hampir semua keluarga saya berprofesi sebagai guru. Dua kakek dari pihak ibu dan bapak adalah guru. Ua, Bibi, Mamang saya banyak yang berprofesi sebagai guru. Kedua orangtua saya guru. Imajinasi terbaik dari profesi saya pun akhirnya mentok di guru. Guru itu asyik, itu yang saya lihat dari kedua orangtua saya. Mereka bisa mengajar banyak orang, dikenal banyak orang, dan tak begitu melelahkan. Itulah yang membuat saya kemudian mendaftar di kampus pencetak guru, Universitas Negeri Jakarta.

Karir saya pun setelah lulus tak jauh-jauh dari guru. Saya pernah mengajar di SD, SMA, Kampus, tempat bimbel, adalah dunia saya setelah lulus. Sejak lulus 2009 saya beberapa kali pindah tempat mengajar. Dunia pendidikan memang takdir yang harus saya jalani. Sampai saat ini. Saya tak jauh dari dunia pendidikan. Meskipun tidak mengajar. Saya sekarang menjadi peneliti yang menggeluti bidang pendidikan. Allah Mahabaik. Ini memang bidang yang begitu saya sukai. Alhamdulillah.

Orangtua saya tak pernah memaksa saya menjadi seorang PNS, mereka membebaskan. Namun, setiap ada berita tentang pembukaan CPNS mereka akan segera kontak dan meminta saya untuk mencobanya. Saya pun tak pernah menentang itu. Jadi beberapa kali ada info (meskipun belum valid), saya berusaha memenuhi beragam hal yang harus dilengkapi ketika kita bersiap untuk mendaftar CPNS. Beberapa kali saya membuat SKCK, Kartu Kuning, Legalisir Ijazah dan lain sebagainya.

Namun, rentang 2009-2013 ada moratorium CPNS. Kalaupun ada, hanya ada beberapa formasi. Yang jelas sulit bagi kualifikasi akademik yang saya miliki yaitu S1 PPKn. Setelah dua tahun mengajar di Al Izhar, saya mulai gamang dengan masa depan saya. Rasanya ingin mengajar kembali di kampus. Saya pun nekat resign tanpa tahu akan mengajar di mana.

Ketika saya mulai mengajar di kampus dan ikut membantu di Kemdikbud, ternyata dibuka kembali formasi CPNS. Ketika itu saya bingung menentukan. Tahun 2014 saya sudah lulus S2 Sosiologi di UI. Namun jika saya melamar menjadi dosen, hambatannya selalu saja sama. Ijazah saya tidak linear. S1 saya PPKn sedangkan S2nya Sosiologi. Kemungkinan diterima di PT sangat tipis. Saya khawatir di seleksi dokumen saja sudah mentok dan gagal. Mau mencoba di beberapa kementerian, saya merasa tak begitu cocok untuk bekerja di lembaga tersebut. Ketika teliti mengecek, ternyata di LIPI ada satu formasi yang begitu menarik yaitu Peneliti Sosiologi Pendidikan.

Saya tak langsung memutuskan. Pada tahun itu, pendaftar hanya boleh mendaftar pada satu lembaga saja. Saya pun berkonsultasi ke beberapa orang. Satu orang yang begitu sering saya tanya adalah Pak Rakhmat. Saya tak pernah diajar beliau di kelas. Saya bertemu beliau di salah satu lembaga penelitian dan pengabdian di UNJ, PKPIS FIS UNJ. Meskipun demikian, ia seperti suhu spiritual saya di bidang akademik. Saya memilih masuk ke sosiologi UI untuk S2 salah satunya karena sering berkomunikasi dengan beliau. Ia pun menyarankan agar saya memilih LIPI saja. Dan setelah pertimbangan banyak hal saya akhirnya memilih formasi Peneliti Sosiologi Pendidikan itu.

Saya pun mencoba peruntungan dan mendaftar. Tahap pertama adalah seleksi berkas. Saya berhasil lolos di verifikasi dokumen ini dan diundang untuk melaksanakan tes kemampuan dasar (TKD).

Screenshot_2014-10-01-09-01-13.png

Jujur saya tak pernah belajar serius. Saya hanya membeli satu buku di Gramedia. Saya lupa judulnya. Yang jelas tentang pembahasan soal-soal tes CPNS. Kita tahu ini adalah salah satu buku best seller disamping buku tes persiapan UN dan SNMPTN. Hehe. Itupun tak serius saya pelajari. Saya kerjakan cepat sambil (kalau tidak tahu) mengintip kunci jawaban di bagian belakang, utamanya untuk soal aritmatika, matematika dsb, yang merupakan kelemahan saya. Untuk soal pendidikan kewarganegaraan relatif aman sebab saya kan memang mengajar Mata Kuliah dan Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila. Dan ternyata itu memang nyata setelah tes CPNS. Saya melalui tes dengan lancar. Sisa waktu ketika itu masih sembilan menit lagi. Karena sudah bosan dan takut jika saya cek justru nilainya semakin rendah, saya pun mengakhirinya. Skor pun langsung keluar, 345. Lumayan. Saya berhasil lengkap di semua syarat di tiap sesi soal. Karena ada aturan (saya aga lupa) nilai minimal masing-masing di tiap sesi (matematika dasar, kewarganegaraan, dan satu lagi sy lupa). Saya beruntung di matematika dasar nilai saya betul dua (sepuluh poin) dari nilai minimal. Saya langsung cek di bawah posisi saya ada di berapa besar. Ternyata pada sesi hari itu (dibagi 4 hari tes) nilai peserta lain tinggi-tinggi. Ada yang lebih dari 400 nilainya. Gak apa-apalah.

Screenshot_2014-12-17-11-22-17.png

Saya dipanggil untuk sesi tes selanjutnya. Yaitu tes psikotes dan wawancara. Saya tak belajar sama sekali untuk psikotest. Tes ini berat. Soalnya saya tak pernah ikut psikotest sebelumnya. Bodohnya saya tak pernah browsing. Setelah tes saya baru browsing, ternyata tesnya mirip dengan apa yang banyak di internet. Di internet juga banyak tips dan trik menjawab psikotes. Saya sendiri? Ya karena tak pernah mencari tahu akhirnya mengerjakan sebisa-bisanya saja. Haha.

Screenshot_2014-10-28-15-39-06.png

Pada tahap wawancara ada tiga orang pewawancara. Tiga orang itu belakang saya ketahui adalah Bu Haning (Kapus Pusat Penelitian Kependudukan LIPI), Bu Deny Hidayati (Ketua Kelompok Penelitian Ekologi Manusia), dan Bu Titik Handayani (Peneliti Senior dari Kelompok Penelitian SDM dan Sumber Daya Manusia). Wawancara berlangsung selama 30 menit. Saya ditanya motivasi masuk ke LIPI, apa rencana saya ke depan, pengalaman-pengalaman sebelumnya, minat pada bidang, dan tentang penelitian apa yang sudah dilakukan termasuk tesis. Pada sesi tanya jawab tentang tesis dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Saya jawab dengan terbata-bata karena memang bahasa inggris saya begitu memprihatinkan. Waktu 30 menit pun berakhir. Saya dipersilakan menunggu kabar selanjutnya. Saya pernah baca di blog seseorang yang juga kemudian menjadi peneliti LIPI. Dia bercerita “mungkin” yang membuatnya diterima adalah tema tesisnya sesuai dengan formasi yang dilamarnya. Tema tesis saya memang tentang pendidikan. Meskipun isu multikulturalisme bukan bagian dari isu yang sering dikaji di bidang kependudukan.

Jika tahapan sebelumnya relatif sebentar dan tepat waktu informasinya. Tahapan kelulusan ini agak lama tahapannya. Sambil menunggu saya tetap mengajar. Sampai akhir tahun pengumuman yang ditunggu tak ada-ada juga. Padahal saya sudah libur mengajar. Saya pun mesti berhitung, jika tak diterima harus bagaimana. Maka saya menulis banyak lamaran untuk ke beberapa perguruan tinggi.

Screenshot_2015-01-06-09-55-48.png

Saya lupa, awal januari atau februari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah saya lulus. Diterima sebagai peneliti sosiologi pendidikan. Penantian panjang pun berakhir.

Screenshot_2015-01-13-15-51-17.png

Saya langsung melengkapi beragam berkas yang harus dilengkapi. Enaknya mendaftar di LIPI adalah sebelum kita dinyatakan lulus, berkas-berkas yang diperlukan tidak begitu merepotkan. Ijazah yang dilegalisir, SKCK, menulis lamaran, mengisi ini dan itu hanya dilakukan setelah kita dinyatakan lulus. Jadi tak begitu banyak uang yang harus dikeluarkan. Namun, bagi yang tinggal di luar Jakarta memang jadi pertaruhan yang luar biasa. Karena ada tiga kali (kurang lebih) mereka harus bolak-balik ke Jakarta. Biayanya pasti besar. Jika yang tinggal di Jakarta sih relatif mudah. Paling harus beberapa kali ijin ke kantor. Saya sendiri mudah mendapat ijin. Ada beberapa teman yang ijin sakit atau keperluan lain, padahal ikut tes cpns dan mengurus berkas arena aturan kantornya yang ketat.

Screenshot_2015-01-18-23-41-08.png

Seorang teman pernah bilang jalan saya begitu mulus. Resign langsung dapat pekerjaan, setelah itu dapat PNS, juga mendapat kabar istri saya hamil. Allah Mahabaik. Saya meyakini, ini karena doa orangtua yang begitu teguh setiap saat.  Saya membiasakan setiap hendak tes meminta doa kepada orangtua (orangtua kandung maupun mertua). Doa-doa itulah yang menjaga kita. Insya Allah.

Bagi yang hendak tes tetaplah semangat, berusaha, dan berdoa sekuat-kuatnya. Semoga berhasil. Fighting.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

18 thoughts on “Catatan Pengingat: Tahapan Mengikuti Tes CPNS LIPI

  1. Mau tanya mengenai kelengkapan dokumen dong gan, setelah kita dinyatakan lulus CPNS. Karena ane masi pross pembuatan skck ke daerah lagi. Jadi harus balik kampung. Apakah dokumen itu bisa menyusul kira-kira ?

  2. mas, mau tanya
    kalau dri kementerian/lembaga (pns non fungsional) pindah ke lipi bisa ga ya?
    saya tertarik bgt jadi peneliti lipi tapi takdirnya jadi pns di tempat lain.
    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: