Mereka yang Termarjinalkan

Menjadi orang yang termarjinalkan, miskin, dan terpinggirkan tentu bukan pilihan bagi siapa pun. Kita pasti menginginkan bahagia, hidup dalam berkecukupan, dan terlindungi. Siapa yang ingin tanahnya diambil alih oleh orang yang lebih berkuasa? Kesulitan mencari penghidupan yang layak, dan kesulitan mengakses pendidikan? Tak ada yang mau hidup seperti itu.

Namun, ternyata tak semua orang menikmati hidup yang bercukupan, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer, sandang, papan, pangan. Mereka tak dapat bekerja secara reguler dan menunggu ada orang lain yang membutuhkan. Bekerja serabutan sana-sini untuk sekedar meenuhi kebutuhan harian. Menunggu panggilan dari orang yang mau mempekerjakan. Tidak ada panggilan, berarti mereka tak bisa makan, atau harus berhutang agar bisa makan.

Tak mungkin terlontar dari mereka, mau makan di mana kita? Mau makan apa kita? Ada film baru apa? Apa yang jadi trending topic di media sosial? Atau bincang-bincang apakah Rangga kembali menjalin kisah kasih dengan Cinta? Berdebat apakah akan ada sekuel AADC 3, atau berdiskusi sambing ngopi-ngopi cantik di beragam kafe. Kata-kata tersebut tentu jauh dari ungkapan kata keseharian mereka. Apa yang ada di hadapan mereka, itu yang bisa mereka makan. Mereka berpikir dan bertindak praktis.

Mereka juga tak bisa memilih tinggal di mana. Ketika tidak mampu membeli rumah, juga tak bisa mengontrak, mereka harus ikhlas tinggal di tempat-tempat yang seharusnya tak ditinggali. Dianggap ilegal, liar, dan sewaktu-waktu bisa digusur atas nama pembangunan. Ada juga beberapa kasus, mereka terusir dari tanah yang sudah ditinggali oleh leluhurnya secara turun-menurun. Mereka terusir dari tanah adat mereka, apa pun alasannya. Mereka harus memperjuangkan tanah yang sesungguhnya merupakan tanah leluhurnya. Perjuangan panjang yang melelahkan.

Apakah tak ada kebahagiaan? Kita tentu tidak bisa menilai mereka bahagia atau tidak. Kebahagiaan tak selalu bisa diukur lewat beragam indikator material. Namun, yang jelas mereka akan selalu terpinggirkan. Hak-hak mereka sebagai warga negara seringkali terabaikan. Karena mereka seringkali dianggap sebagai pengganggu ketertiban. Mereka terhimpit. Karena mendapat kerja semakin sulit. Beberapa nekat melakukan tindakan kriminalitas, atas nama bertahan hidup. Toh itu dianggap lebih praktis. Yang penting, nyali dan keberanian. Syukur-syukur aman, tak tertangkap pihak berwajib, operasi terus jalan.

Ketika akses terhadap pendidikan, pekerjaan, maupun kesehatan dihambat, kualitas kehidupan mereka pun jauh dari kata layak. Bayangkan ibu yang mengandung. Jangankan mendapatkan kualitas gizi yang baik bagi janinnya, makanan saja tak bisa memilih. Masih beruntung jika mereka mendapatkan makanan pada hari itu.

Mereka kesulitan juga mengakses ke fasilitas kesehatan, karena seringkali mereka minder dengan posisi mereka yang terpinggirkan tersebut. Anak yang dilahirkan pun tak mendapatkan suplai makanan yang bergizi. Ketika mulai bersekolah, ada beberapa hambatan, mulai dari adminstratif sampai konteks lingkungan sosial yang cenderung meminggirkan mereka. Ketika mereka tidak mendapat pendidikan secara optimal, mereka akan lebih sulit mengakses pekerjaan.

Dan lingkaran tersebut mencengkeram mereka. Seringkali mereka tak mampu melarikan diri dari cengkeraman tersebut. Pada akhirnya kemiskinan, kesulitan-kesulitan hidup tersebut diwariskan ke anak-anak mereka, juga cucu-cucu mereka. Dan mereka akan terus begitu, hingga bergenerasi.

Kita juga seringkali tidak peduli atau juga pura-pura tak tahu. Seolah-olah problem tersebut tak pernah ada. Karena kita (mungkin saya), seringkali, merasa bahwa kesulitan hidup keseharian yang juga kita alami sudah berat. Jangankan memikirkan orang lain, diri sendiri pun sudah berat menghadapi kehidupan.

Begitu banyak orang-orang yang ada di sekitar kita tidak beruntung. Kita terjebak pada cap, mereka malas bekerja, tak mau memanfaatkan potensi yang ada pada dalam diri mereka. Pikiran tersebut tentu bukan pikiran yang adil.

Perjumpaan saya dengan beberapa orang beberapa hari ini kembali mengganggu pikiran saya. Apa yang bisa saya kontribusikan bagi mereka yang jauh dari beragam akses yang sudah seharusnya menjadi hak mereka? Saya begitu terkesan dengan individu-individu tangguh yang terus berjuang untuk memperjuangkan mereka yang terpinggirkan, termarjinalkan. Membela karena pilihan-pilihan ideologis, karena sesuatu yang dianggap benar.

Saya sering berpikir, apa yang mesti kita lakukan dalam menghadapi kondisi ini. Kita juga sering terjebak pada pikiran, yang penting kita bersyukur saja, kita tidak mengalami hal yang sama dengan mereka. Tapi, apa hanya cukup begitu? Rasanya tidak tepat hanya cukup di situ. Rasanya itu masih selemah-lemahnya iman.

Hal-hal tersebut rasa-rasanya harus terus dipertanyakan. Karena hal-hal tersebut akan selalu menggelisahkan kita. Dan semoga kita dijauhkan dari selemah-lemahnya iman.

sebelumnya diunggah di: http://www.kompasiana.com/anggiafriansyah/mereka-yang-termarjinalkan_574da642f47a61480a313042

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: