Senja dan Cerita Lainnya

Entah sejak kapan saya menyukai senja. Senja selalu punya aura magis. Warnanya, suasananya, begitu membuat saya terpukau.

Di kampung-kampung menjelang senja pasti diramaikan dengan keramaian-keramaian dari masjid atau pun mushala. Shalawatan, puji-pujian, sampai adzan. Sakral dan magis. Di kampung suara-suara dari masjid atau mushola tersebut seringkali dikidungkan oleh anak-anak kecil, yang bahkan seringkali salah melafalkan sholawatnya.

Tak ada teriakan-teriakan, tak ada seruan-seruan paksaan. Yang terpanggil akan segera datang ke mushola atau masjid terdekat untuk berserah. Pasrah.

Kenapa saya ingin menulis senja? Beberapa hari ini saya khusu mencoba membaca buku Trilogi Insiden karya Seno Gumira Ajidarma (SGA). Buku ini dipinjamkan oleh rekan guru ketika saya masih mengajar di Al Izhar dulu, Pak Ken Kumbara Jagad. Sampai sekarang buku tersebut belum saya kembalikan. Maaf ya Pak.

Di luar konteks senja, satu hal yang saya sesali sampai saat ini adalah, sejak di sekolah menengah dulu, saya tak begitu banyak terpapar buku-buku sastra yang bagus. Bukan salah guru-guru saya, juga bukan salah kurikulum bahasa Indonesia. Ini murni salah sendiri. Mungkin karena saya terlalu serius membaca komik Conan. Entahlah. Yang jelas saya kenal banyak sastrawan Indonesia ketika saya kuliah dan mulai bekerja. Dari cari-cari sendiri atau dari teman. Sekarang sih mudah, tinggal cari informasi di internet dan cari bukunya (kalau lagi punya cukup uang, hehe).

Tapi juga menjadi amatan saya pribadi, pendidikan di Indonesia memang tak memberikan perhatian cukup tentang bagaimana menjadi pembaca yang baik, pembaca yang siap melahap dengan rakus beragam karya banyak penulis handal bangsa Indonesia juga dunia. Tak heran jika minat baca kita sangat memprihatinkan. Ada yang bilang, siswa di Indonesia satu tahun hanya membaca dua puluh tujuh halaman saja. Menyedihkan bukan?

Ada beberapa cerita yang saya dengar dan saya saksikan sendiri, ada guru yang hanya membaca buku paket saja. Dari tahun ke tahun yang ia baca ya buku paket itu. Bacaannya hanya berubah ketika buku paketnya direvisi karena pergantian kurikulum. Lalu  apa yang akan dibagikan kepada siswa jika itu terjadi? Hasil broadcast di whatsapp group? Entah.

Meski demikian, beberapa guru yang saya kenal mengenalkan buku-buku yang telah ia baca kepada para siswanya. saya pikir ini yang efektif dalam menularkan semangat membaca.

Ah kembali ke soal senja. Membaca karya SGA saya membaca beberapa tulisannya tentang senja:

Kutatap senja keemasan itu dengan perasaan rawan. Aku tidak mengerti mengapa hatiku selalu merasa rawan setiap kali senja tiba, senja ini membuat hatiku rawan. Apakah karena senja seperti sebuah perpisahan? Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam. Senja begitu indah, tapi begitu fana—apakah segala sesuatu dalam kehidupan ini memang hanya sementara? (prolog senja emas, 146).

Pada bagian lain ia menulis:

Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja tempat langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri ini lalu lalang dalam siluet. Dalam bayanganku negeri senja itu tak pernah mengalami malam, tak pernah mengalami pagi, dan tak pernah mengalami siang. Senja adalah abadi di negeri senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap terbenam, tapi tak pernah terbenam sehingga seluruh diding gedung, tembok gang, dan kaca-kaca jendela berkilat selalu kemerah-merahan. Orang-orang bisa terus menerus berada di pantai selam-lamanya, dan orang-rang bisa terus menerus minum kopi sambal memandang langit semburat yang keemas-emasan. Kebahagiaan terus menerus bertebaran di Negeri Senja seolah-olah tidak akan pernah berubah lagi… (seorang wanita dengan parfum L’eau D’Issey, 245)

Ia melanjutkan:

Negeri senja adalah sebuah negeri yang sangat indah karena lempengan cahaya emas secara abadi bertempelan di mana-mana. Orang-orang tidak bertengkar, orang-orang tidak saling membenci, orang-orang jatuh cinta setiap hari. Lelaki dan perempuan selalu tampak indah di Negeri Senja yang seperti selalu menawarkan agar setiap orang saling mencintai sampai akhir masa… (seorang wanita dengan parfum L’eau D’Issey, 245)

SGA adalah pengagum senja kelas kakap. Kekagugamannya tentang senja begitu teguh. Ia pencinta senja garis keras. Bayangkan saja ia sampai mengidamkan Negeri Senja. Kalau itu ada, saya mau pindah kewarganegaraan menjadi penduduk Negeri Senja.

Coba saja lihat di Negeri Senja begitu menyenangkan. Orang-orang tidak bertengkar, orang-orang tidak saling membenci, orang-orang jatuh cinta setiap hari. Lelaki dan perempuan selalu tampak indah di Negeri Senja yang seperti selalu menawarkan agar setiap orang saling mencintai sampai akhir masa.

Kalau membaca itu rasanya negeri itu tak mungkin ada. Kalau kita buka media sosial saja kita akan menyaksikan beragam pertengkaran. Entah karena berbeda pilihan politik, pemahaman agama, dan lain-lain. Begitu banyak rasa benci yang menyebar di timeline media sosial kita. Jika menonton tivi pun demikian. Beruntung masih ada beberapa stasiun televisi yang ‘sepertinya’—sepertinya lho tak ikut-ikutan dan memilih menyiarkan tayangan lain di luar berita politik. Masih ada yang menghibur.

Sinetron-sinetron India yang ditayangkan salah satu tv secara istiqomah misalnya. Yang saya heran, kenapa setiap ada pertengkaran, maka zoom in tokohnya sedemikian lebay. Hehe. Laku? Jelas. Coba saja seharian menonton chanel tivi tersebut. Akan hadir sinetron India dengan beragam judul.

Ada lagi tv yang konsisten menyiarkan lagu-lagu kenangan, dangdut pantura dsb. Yang saya juga heran, lagunya sebentar, komentarnya bisa satu jam sendiri. Laku. Luar biasa laku. Saya tak memungkiri saya pun terhibur. Dibanding nonton dagelan politik. Saya lebih terhibur nonton jenis hiburan ini.

Balik lagi ke senja. Di Jakarta rasanya tak semua orang menikmati senja dengan khusu. Karena kita harus berlari. Ya minimal mengejar transportasi publik. Tak ada waktu lagi menikmati indahnya senja sambal ngopi-ngopi seperti yang dibilang oleh SGA tersebut.

Kalau kata Joko Pinurbo,

setelah punya rumah, apa cita-citamu? 
kecil saja: ingin sampai rumah saat senja
supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Tapi saya ingat, membeli rumah KPR saja sekarang sulitnya minta ampun. Dengan gaji pas-pasan jika tidak memaksa ya tidak akan terbeli sampai kapanpun. Maka minum teh saat senja, untuk penduduk Jabodetabek itu pasti mahal sekali. DPnya besar dan hutangnya tahunan (curhat, hehe).  Juga tiba di rumah saat senja juga suatu hal yang susah didapat pekerja di Jakarta. Macet pasti menghadang perjalanan pulang. Sampe rumah sudah lelah. Jadi keinginan minum teh bersama saat senja saat senja juga sesuatu yang berat untuk direalisasikan.

Tapi para penghayat senja pasti punya acara tersendiri untuk menikmatinya. Pesan saya, jangan pernah lelah mencintai senja.

Bogor Barat, 12 Februari 2017

 

sebelumnya diunggah di: http://www.kompasiana.com/anggiafriansyah/senja-dan-cerita-lainnya_58a08090d47e613129763df1

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

4 thoughts on “Senja dan Cerita Lainnya

  1. kalau negeri senja seperti yang dibilang SGA sungguhan ada, saya mungkin juga akan ikut pindah kewarganegaan . haha..
    tapi ngomong2 tentang senja di ibukota jakarta, saya tetap bisa menikmatinya, ketika sedang duduk menanti busway, atau mungkin saat berjalan ketika menyebrangi jembatan penyebrangan, dan bagi saya si penghayat senja, itu tetap nikmat.. seperti penghilang lelah sebelum sampai dirumah.. hehe

    1. Sepertinya akan banyak yang pindah kewarganegaraan mba. Hahaha. Pasti asyik dan menyenangkan di negeri senja. Iya betul kalau pulang dari Kantor membayangkan macet pasti ga menyenangkan. Jadi menikmati senjalah yang lebih baik dilakukan.

      1. iya.. membayangkannya saja sudah membuat senang, andai sungguhan ada ya haha..
        iya.. betul sekali.. hidup memang sesekali harus dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan..menikmati senja misalnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: