Hidup dengan Kenekatan-kenekatan

Hidup adalah tentang kenekatan-kenekatan. Itulah yang saya rasakan juga saya lihat dari orang-orang sekitar saya yang berhasil mewujudkan mimpinya.
Saya kenal beberapa diantara orang-orang nekat tersebut. Tersebutlah teman saya paling nekat. Sebut saja Mas Ono. Di antara orang-orang neka dialah yang saya kira paling gila, paling nekat.

Saya belajar banyak sama orang nekat satu ini. Kalau bisa dibilang nekat sama dengan dirinya. Pokoknya banyak kisah dan pelajaran unuk yang bisa saya petik dari hidupnya yang ajaib itu. Pandangan hidupnya yang ajaib juga mimpi dan optimisme dalam setiap langkah adalah sesuatu keren menurut saya.

Tahun lalu ia bercerita. Saya bosen nih di kantor aja, Saya mau ke luar negeri. Ia bicara dengan mimik serius. Saya cuma bisa ngakak kencang sambil berteriak aamiin keras-keras. Saya tertawa karena ucapan itu disampaikan orang yang seumur-umur belum ke luar negeri, ga punya paspor, dan kemampuan bahasa Inggrisnya super minim (sama seperti saya). Di antara teman sekantor memang kami berdua orang yang paling minim kemampuan bahasa Inggrisnya dan perjalanan luar negeri.

Tapi ya karena nekat itu, impiannya tercapai. Saya agak lupa, tapi di salah satu novelnya Andrea Hirata pernah menulis, bermimpilah Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Orangtua saya selalu bilang, ucapan adalah doa. Maka berucap yang baik-baik aja. Nah ini kejadian sama Mas Ono yang ajaib ini. Ucapannya ingin pergi ke luar negeri ini tercapai.

Ia berangkat ke Belgia karena papernya diterima di salah satu konferensi internasional. Impiannya terwujud, bukan sekadar pergi ke negara di sekitar Asia atau Australia tapi Eropa. Ajaib memang. Ketika ia mengumumkan papernya diterima, saya cuma bisa bengong, geleng-geleng sambil mengucap selamat. Ini orang memang gila.

Ia pun bekerja keras untuk mencari bantuan dana. Ke Eropa bukan perkara mudah. Dan akhirnya ia pun didanai kantor. Dan sampai tulisan ini saya buat, sudah berhasil mempresentasikan papernya. Gila. Doa saya dulu cuma singkat. Semoga ia lancar dan ga nyasar. Dan ia baru saja telpon dengan tertawa terbahak-bahak menceritakan proses keberangkatan sampai menemukan hotel dan presentasi di depan bule-bule.

Kenekatan-kenekatan memang salah satu keberhasilan hidup. Saya yakin kita pernah sesekali nekat dalam hidup. Tapi memang tensi nekat satu orang dengan lain pasti berbeda-beda. Boleh nekat untuk resign ketika belum ada pekerjaan apa-apa, nekat melamar pujaan hati meski (baru) punya cinta, nekat beli rumah meskipun gaji pas-pasan, nekat menikah dengan uang seadanya, dan nekat-nekat lainnya.

Orang nekat biasanya berlangkah-langkah lebih maju dibanding yang selalu ragu. Kebanyakan mempertimbangkan sesuatu hanya membuat kita berjalan di tempat. Bukankah kata orang bijak, “jika salah perbaiki, jika gagal coba lagi, tapi jika kamu menyerah semuanya selesai”. Dari pada di ujung waktu ketika teman-teman kita yang lebih nekat sudah sukses dan bahagia, kita cuma bisa meratapi nasib dan menyesal. Kenapa kemarin saya kurang nekat. Ayo kita nekat.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: