Kenalkan Keragaman ke Siswa

Negeri ini begitu diberkahi Tuhan dengan limpahan kekayaan alam, ragam adat istiadat, bahasa, kesenian, maupun kearifan lokal. Sayangnya, bangsa ini sering kali melupakan, mensyukuri anugerah tersebut. Rakyat malah bertengkar sehingga lupa merayakan Indonesia yang beragam.

Tentu perdebatan sangat lumrah, asal mau saling mendengarkan dengan baik yang disampaikan pihak berbeda pandangan. Argumen harus diiringi rujukan referensi yang sah secara akademik.

Persatuan dan kesatuan bangsa akan semakin sulit terwujud andai rasa curiga dan prasangka masih tertimbun di kepala tiap-tipa orang yang berbeda pandangan. Ditambah lagi tebaran-tebaran informasi yang tak jelas muaranya hanya membuat suasana menjadi panas. Ini tak baik bagi kesehatan demokrasi Indonesia.

Jika tidak bersatu, bangsa ini semakin sulit maju. Bagaimana rakyat mampu bergotong royong membangun negeri jika bersatu saja tak mampu? Jika warga masih sibuk mencerca tanpa memberi solusi, tak mau urun rembuk berdialog menyelesaikan persoalan bangsa yang begitu banyak, tak ada gunanya. Kekuatan bangsa pada semangat persatuan dan gotong royong seperti diingatkan Soekarno saat pidato di hadapan sidang BPUPKI sebagai “pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama, amal semua buat kepentingan semua” (Adams, 1965).

Kunci penguatan persatuan dan kesatuan adalah dialog. Tanpa dialog tidak akan pernah ada persatuan dan kesatuan. Paulo Freire (1972) dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed menyebut dialog harus didasarkan pada cinta, kerendahan hati, dan keyakinan. Dialog merupakan hubungan horizontal didasari sikap saling memercayai, sehingga yang berdialog dapat bekerja sama lebih erat. Kalau curiga selalu dikedepankan, tak akan ada dialog. Repotnya, jika pihak yang berseberangan pandangan dianggap sebagai musuh yang nista dan perlu dibasmi.

Proses pendidikan menjadi arena tepat pembiasaan dialog. Ruang-ruang pembelajaran dapat menjadi wahana pembiasaan dialog. Proses pendidikan harus melumerkan prasangka yang selama ini ada di masyarakat (Banks, 1993). Peserta didik memiliki keberagaman dalam pola pikir maupun latar lainnya. Sehingga pengarusutamaan dialog agar para peserta didik dapat lebih memahami beragam permasalahan negeri.

Ada saling belajar dalam proses dialog. Anak-anak akan belajar beradu argumentasi. Bung Karno berkata, “Sseperti halnya kita menumbuk dan membersihkan sekam dari padi agar diperoleh beras, biarkan pikiran kita terus menerus bergosokan satu sama lain” (Adams, 1965). Pembelajaran dengan mengutamakan dialog membuat guru dan siswa berlatih saling mendengarkan.

Memahami dengan dengan seksama setiap informasi dalam proses pembelajaran. Tidak ada lagi pemberian materi ajar yang bersifat indoktrinasi dan penyampaian pengetahuan beku. Maka, yang disampaikan di ruang kelas dapat digugat dan dipertanyakan bersama, lalu didiskusikan. Yang dicari adalah solusi terbaik setiap permasalahan. Minimal ada usaha untuk saling memahami antarpihak yang berdialog.

Dasar

Pendidikan sebagai dasar penguatan pemahaman dan praktik keberagaman. Maka, merayakan keberagaman Indonesia bisa dimulai dari laku pendidikan. Jeff Spinner Halev menulis Extending Diversity: Religion in Public and Private Education (2000) tentang sekolah dengan input beragam. Dia memberi lebih banyak kesempatan siswa belajar kelompok berbeda secara langsung karena siswa tak hanya belajar melalui buku-buku teks. Mereka dapat belajar bekerja sama dan berkompromi dengan anak-anak yang berlatar berbeda.

Sebab itu, mempertemukan anak-anak dengan beragam kalangan sangat penting agar tak canggung menghadapi realitas sosial. Kegiatan-kegiatan yang mengajak anak mengalami secara langsung sangat penting. Hidup di kelompok homogen memang belum tentu menjadikan seseorang gagap ketika berhadapan dengan realitas masyarakat yang heterogen. Namun, berbaur sejak dini dengan masyarakat beragam merupakan pelajaran amat berharga seorang anak. Dari proses tersebut anak-anak terbiasa menerima perbedaan.

Pembiasaan itu juga bagus bagi proses demokratisasi. Negeri ini harus mampu mengelola keberagaman. Jika tidak, bangsa akan sentimen akut terhadap pihak yang berbeda agama, suku, dan kelas sosial. Ini akan menjadi penghalang persatuan dan kesatuan. Sangat berbahaya jika orang terus berpandangan yang berbeda adalah musuh harus dibasmi.

Pembiasaan berbaur dengan komunitas berbeda akan memperkaya perspektif dalam memadang kehidupan. Dengan saling mengenal lebih dekat, orang akan menghapus rasa curiga. Kita bisa secara cepat mengonfirmasi mengenai streotif dan prasangka. Komunikasi yang terjalin antara pihak berbeda akan mengikis prasangka buruk yang selama ini dirawat.

Berbaur dan berelasi dengan mereka yang berbeda agama, sosial ekonomi, dan budaya sejak dini memang bukan laku luar biasa. Namun memiliki efek besar terhadap masa depan Indonesia. Di sini peran aktif keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi penting. Ini harud dipromosikan terus-menerus.

Peran orangtua memperkuat cara pandang anak-anak. Keluarga sekolah pertama anak-anak. Keluarga harus menjadi awal penguatan pemahaman keberagaman dan kebangsaan. Selanjutnya, mereka harus selektif memilih lembaga pendidikan bagi putra-putrinya. Jangan memilih lembaga pendidikan yang hanya mengedepankan penguatan akademik. Tapi harus juga mengajarkan cara menjadi manusia yang mampu menjalin relasi dengan sesama.

Pemahaman kebinekaan Indonesia jangan hanya di kelas, tetapi juga dipraktikkan sehari-hari di lingkungan. Interaksi siswa di sekolah tak boleh pilih-pilih. Siswa harus berteman dengan semua murid. Tugas-tugas harus memungkinkan mereka terbiasa berkolaborasi secara aktif.

Peserta didik memang harus berjumpa dengan beragam kalangan, bertautan dengan aneka ide, dan bekerja sama dengan segala lapis masyarakat. Mereka tidak boleh alergi terhadap perbedaan yang merupakan rahmat yang perlu diselami dengan hati dan pikiran terbuka. Anak tak alergi ketika berhadapan dengan bocah yang berbeda dan menerima yang berseberangan pandangan.

Jangan sampai pendidikan terjebak pada formalisme yang menihilkan ruang perjumpaan dengan realitas masyarakat keseharian. Pendidikan jangan terlalu berfokus pada kerja-kerja penguatan akademik, sehingga abai pada proses humanisasi. Iklim kompetisi lebih dikuatkan tanpa meninggalkan kolaborasi. Pengenalan anak terhadap realitas keindonesiaan menjadi sangat penting. Memberi tugas agar mereka bisa bertemu, berdiskusi, dan bergaul dengan beragam masyarakat yang berasal dari suku, agama, maupun kelas sosial menjadi sangat penting.

Keberagaman adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat. Merawat keberagaman berarti melestarikan Indonesia yang kita cintai. Keberagaman Indonesia harus kita rayakan dengan gembira.

Penulis Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

dimuat di Koran Jakarta, 17 Oktober 2017

dapat dibaca di:

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: