Memutus Laku Kekerasan di Dunia Pendidikan

VIRALNYA video pemukulan yang dilakukan seorang guru kepada siswanya di salah satu SMK di Purwokerto, Jateng, kembali memperlihatkan betapa pendidikan kita belum steril dari tindakan kekerasan (Media Indonesia, 23/4). Peristiwa itu jelas bukan yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir kasus kekerasan di dunia pendidikan semakin banyak terungkap. Pada 2016, seorang guru SMKN 2 Makassar dipukul salah satu orangtua siswa karena tak terima perlakuan sang guru terhadap anaknya. Pemukulan itu menyebabkan orangtua siswa bersama putranya itu mesti melalui proses hukum.

Ada juga kasus seorang guru di Sidoarjo yang harus melalui proses hukum karena mencubit seorang siswa. Kekerasan yang menimpa Ahmad Budi Cahyono, 26, guru seni rupa di Sampang Madura, masih segar dalam ingatan. Tentu kita sangat menyesalkan perbuatan siswa itu. Tindakan bodoh yang berakibat hilangnya nyawa seorang guru.

Kasus-kasus itu menjelaskan kepada kita bahwa potensi tindakan kekerasan dapat dilakukan guru, siswa, bahkan orangtua. Siapa pun bisa menjadi pelaku ataupun korban kekerasan. Padahal, sudah terang benderang, baik guru maupun siswa haram melakukan tindakan kekerasan sebab lembaga pendidikan ialah arena tempat kekerasan harus dipinggirkan jauh-jauh.

Menciptakan lembaga pendidikan steril dari tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis merupakan hal yang sangat krusial, karena proses pendidikan merupakan salah satu lokus penting bagi proses pengembangan intelektual maupun psikologis anak-anak didik.

Salah satu tujuan pendidikan ialah memanusiakan manusia, menjadikan peserta didik sebagai individu yang memiliki kehalusan budi serta kebaikan hati. Maka, harus ada kesadaran diri bahwa penggunaan kekerasan bukanlah mekanisme efektif mencapai tujuan. Penggunaan kekerasan justru kontraproduktif karena jelas menihilkan tujuan mulia pendidikan. Oleh karena itu, ketika ada tindakan kekerasan di dunia pendidikan itu menjadi goresan luka amat mendalam.

Pendisiplinan dengan menebar rasa takut tak tepat lagi diterapkan bagi generasi kiwari. Apa pun alasanya tindakan pendisiplinan seharusnya menggunakan cara-cara yang tak merendahkan derajat kemanusiaan seseorang. Sekolah harus seksama memperhatikan kecenderungan perilaku atau sikap baik guru maupun siswanya.

Guru-guru yang terdeteksi menggunakan cara kekerasan dalam mendidik mesti diberi peringatan tegas. Demikian juga dengan siswa yang memiliki kecenderungan berlaku kasar baik terhadap sesama siswa maupun guru di sekolah. Setiap ada potensi kekerasan baik itu verbal maupun fisik harus dilaporkan ke pihak sekolah.

Guru kelas misalnya, wajib memiliki rekam jejak anak satu per satu. Rekam jejak siswa selama proses pendidikan, termasuk saat di sekolah sebelumnya perlu diketahui. Relasi guru bidang studi, wali kelas, guru bimbingan konseling, dan orangtua mesti terjalin dengan baik.

Kesungguhan untuk melakukan hal sederhana ini akan meminimalkan kondisi-kondisi yang tidak diinginkan. Hal itu merupakan upaya preventif yang dapat dilakukan agar sekolah tak kecolongan. Lebih baik melakukan segala upaya dengan optimal di awal. Jangan sampai tindakan baru dilakukan ketika sudah jatuh korban akibat tindak kekerasan.

Bukan dengan kekerasan
Tak zaman lagi mendidik dengan pemaksaan apalagi penggunaan kekerasan. Aturan harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran, bukan karena keterpaksaan atau rasa takut. Pola pendidikan menghukum dan mengancam hanya mewariskan gen kekerasan. Laku momong, among, ngemong seperti yang disebut Ki Hadjar Dewantara ialah panduan penting yang mesti diejawantahkan di dalam dunia pendidikan.

Penggunaan kekerasan dalam proses pendidikan hanya akan berdampak pada mentalitas siswa di masa depan. Mereka akan menjadi individu yang senang memaksakan kehendak dan menganggap penggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu sebagai sesuatu yang wajar.

Proses pendidikan berkontribusi besar terhadap konstruksi mental anak-anak bangsa. Ketika masuk ke sekolah, individu tidak hanya diasah nalarnya, tetapi juga dididik mentalnya. Ruang pendidikan menjadi arena stategis untuk internalisasi nilai-nilai kehidupan.
Haryatmoko (2005) menjelaskan, idealnya ada empat tujuan pendidikan, yaitu penguatan kompetensi, orientasi humanistik, menjawab tantangan sosial-ekonomi dan keadilan, serta kemajuan ilmu pengetahuan.

Sayangnya, sering kali pendidikan di sekolah hanya terfokus penguatan kompetensi menegasikan orientasi humanistik, gagal menjawab tantangan sosial ekonomi dan keadilan, serta jauh dari kemajuan ilmu pengetahuan. Maraknya varian penggunaan kekerasan di sekolah menjadi salah satu indikator, bahwa orientasi humanistik pendidikan belum dijalankan optimal.

Proses pendidikan sering kali melupakan hal yang sangat mendasar, internalisasi nilai-nilai kehidupan kepada siswa. Pendidikan karakter justru terjebak pada slogan dan jargon sehingga sulit diimplementasikan di kehidupan keseharian. Membesarkan anak dengan menggunakan pola-pola kekerasan harus dihilangkan. Anak yang dibesarkan dengan amarah akan hidup dengan kebencian. Mereka akan terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Akhirnya, melakukan tindakan kekerasan sampai hilangnya nyawa manusia seolah menjadi biasa saja. Banyak kasus juga yang menunjukkan bahwa atas agama, etnisitas, maupun perbedaan pandangan tindakan kekerasan dilegalkan. Nyawa menjadi murah tak berarti.

Tidak ada tindakan kekerasan yang bisa ditoleransi. Semua tindakan itu melampaui batas kemanusiaan. Tindakan kekerasan bahkan sampai pembunuhan tentu menistakan kemanusiaan. Semua jenis kekerasan itu mengusik rasa kemanusiaan kita. Duka mendalam pasti dirasakan setiap orang, tak hanya pihak keluarga yang menjadi korban. Laku kekerasan sudah sepatutnya diputus mulai dari dunia pendidikan.

Dimuat di Media Indonesia, 25 April 2018
dapat diakses di: http://www.mediaindonesia.com/read/detail/157064-memutus-laku-kekerasan-di-dunia-pendidikan

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: