Menggelorakan Minat Baca

Saya berkesempatan berdiskusi dengan beberapa siswa di sekolah negeri dan swasta di DKI Jakarta beberapa waktu lalu.  Salah satu hal menarik yang didiskusikan adalah perihal membaca buku. Dari hasil diskusi, setidaknya ada tiga kategori siswa pembaca buku.

Pertama, siswa yang hanya fokus membaca buku pelajaran sekolah. Kedua, siswa yang mem baca sekadar memenuhi kewajiban program gerakan literasi sekolah (GLS).  Ketiga, siswa yang membaca karena memang sudah terbiasa membaca.

Siswa yang hanya berfokus membaca buku pelajaran beralasan kesulitan mencari waktu membaca buku nonpelajaran karena beban tugas sekolah yang begitu banyak. Beban tugas yang berat membuat mereka kesulitan membaca buku di luar teks pelajaran. Siswa yang membaca karena ada program GLS terpaksa membaca karena diwajibkan sekolah.

Namun, tidak semua sekolah konsisten dalam menjalankan program GLS ini. Efektivitas program GLS ini memang amat bergantung pada komitmen dan keseriusan sekolah dalam memantau kemajuan bacaan anak, jenis buku apa yang dibaca, dan sedalam apa pemahaman siswa mengenai bacaannya.

Kategori ketiga adalah siswa penggemar buku membaca karena memang budaya membaca buku sudah tumbuh sebagai bagian dari keseharian. Mereka sudah dibiasakan membaca sejak kecil oleh orangtuanya dan beruntung, sebab orang tuanya rutin memberikan rujukan buku-buku yang mesti dibaca.

Mereka tak memiliki masalah untuk mengakses beragam buku. Sebagai contoh, ada siswa yang sejak kelas X SMA sudah membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer ataupun karya sastrawan lainnya baik dalam dan luar negeri. Orang tuanyalah yang mengenalkan dia dengan bacaan-bacaan tersebut.

Seorang siswa lain, gemar membaca buku-buku berbahasa Inggris karena orang tuanya memberi dukungan dan memfasilitasi setiap kebutuhan bahan bacaan yang di butuhkannya. Di sinilah amat terlihat bahwa habituasi minat baca memang dimulai dari keluarga. Peran guru pun menjadi amat strategis untuk membuat anak senang membaca.

Seorang siswa menjadi serius membaca novel sastra Indonesia terbitan Balai Pustaka karena dia diberi tugas untuk melakukan pementasan drama yang diadaptasi dari novel-novel terbitan Balai Pustaka. Dari situ ketertarikan membaca buku sastra karya anak bangsa dimulai.

Kebiasaan membaca buku siswa di Indonesia memang menjadi sorotan banyak pihak. Anak-anak Indonesia dianggap tak memiliki minat baca yang memadai. Namun, anak-anak yang saja ajak berdiskusi itu tidak berminat membaca bukan karena mereka malas membaca, tetapi lebih pada kondisi keluarga, sekolah, ataupun masyarakat di sekitarnya yang memang tak akrab dengan buku. Mereka tak dikenalkan dengan buku sejak dini.

Keterbatasan 
Dari data UNICEF (2012) terungkap bahwa lebih dari 50% keluarga kaya di negara berkembang memiliki tiga buku atau lebih bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sementara untuk keluarga miskin, hanya 5% yang memiliki tiga buku atau lebih bagi anak-anaknya.

Masih menurut data tersebut, orang-orang di komunitas miskin, baik di negara maju maupun negara berkembang, pada umumnya tidak memiliki bahan bacaan yang cukup, terbaru, dan relevan bagi anak-anak-nya. Anak-anak yang tidak memiliki budaya baca yang memadai memang belum tentu karena motivasinya yang rendah dalam membaca.

Bisa jadi kondisi tersebut adalah karena mereka tidak mendapat bahan bacaan yang memadai sedari kecil. Mereka ada di lingkungan keluarga yang tidak membaca, sekolah yang tidak membudayakan membaca, ataupun masyarakat yang minim budaya bacanya. Kondisi yang diperburuk dengan fasilitas perpustakaan yang jauh dari memadai.

Anak semakin kesulitan mengakses atau pun terpapar bahan bacaan yang sesungguhnya dibutuhkan mereka. Jika anak-anak yang berasal dari keluarga yang kekurangan tidak mampu menyediakan buku, di sinilah pentingnya lingkungan sekolah atau pun komunitas yang ada di masyarakat menyediakan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Komunitas-komunitas baca yang tersebar di beragam tempat menjadi salah satu solusi bagi meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia. Sayangnya, jumlah perpustakaan di sekolah masih belum memadai. Merujuk pada data statistik pendidikan 2017 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan masih kurang dari 80%.

Di jenjang SD, 60% sekolah memiliki perpustakaan, di jenjang SMP dan SMA, 76% sekolah memiliki perpustakaan, dan di jenjang SMK, 60% sekolah memiliki perpustakaan. Data tersebut baru menyebutkan ada atau tidaknya perpustakaan, belum pada kondisi perpustakaan seperti kondisi dan kelengkapan koleksi buku yang ada di perpustakaan masing-masing sekolah.

Di Jakarta, ibu kota negeri ini saja misalnya, masih terdapat sekolah yang hanya se – kadar memiliki perpustakaan saja, tapi koleksi bukunya sangat minim dan bahkan sudah lama tidak diperbaharui. Yang ada hanya buku-buku jadul masih menjadi andalan. Kebiasaan membaca buku sangat berarti bagi tumbuh kembang para siswa.

Melalui aktivitas membaca mereka akan terbiasa mendalami setiap persoalan secara mendetail. Tidak terburu-buru menyimpulkan setiap permasalahan. Apalagi jika diimbangi dengan kemampuan membaca secara kritis. Pembacaan secara kritis amat di perlukan dalam kondisi saat ini.

Pada saat kita di hadapkan dengan persoalan maraknya informasi yang berisikan ujaran kebencian atau pun hoaks. Kemampuan membaca secara mendalam akan menangkal informasi yang tak bertanggung jawab tersebut. Setiap yang informasi tidak di telan mentah-mentah begitu saja, tetapi di verifikasi secara hati-hati.

Tentu saja, pada era digital saat ini, membaca buku tentu saja tidak hanya terbatas pada buku fisik tetapi juga melalui buku elektronik. Dan internet memberikan akses besar bagi kita untuk mengakses jutaan koleksi ragam buku elektronik tersebut. Siswa dan guru harus didorong memanfaatkan kemudahan ini.

Pada 2017 siswa SD/sederajat yang mengakses internet sebesar 12,1%, siswa SMP/sederajat sebesar 55,4%, siswa SMA/sederajat sebesar 81,3%, dan mahasiswa di perguruan tinggi (PT) sebesar 91,2% (BPS, 2017). Persoalannya adalah seberapa intensif mereka menggunakan internet untuk membaca beragam referensi terkait pelajaran ataupun pengetahuan lainnya.

Optimalisasi penggunaan gawai untuk mendukung pembelajaran perlu ditingkatkan terus-menerus. Menguatkan semangat membaca akan berkontribusi besar pada upaya pencerdasan anak bangsa. Menjadikan mereka generasi berwawasan luas, tidak cupet, dan terbuka terhadap beragam perspektif. Menggelorakan agar anak minat baca menjadi amat penting untuk terus diupayakan.

Dimuat di Koran Sindo, Edisi 21 Juli 2015.”
Versi onlinenya dapat dibaca di: http://koran-sindo.com/page/news/2018-07-21/1/1/Menggelorakan_Minat_Baca

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

3 thoughts on “Menggelorakan Minat Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: