Guru pembawa kesejukan

Survei yang dilakukan oleh penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah menunjukan bahwa opini intoleran dimiliki oleh 63,07 persen guru. Opini intoleransi tersebut diukur antaranya terkait dengan pendirian sekolah berbasis agama dan mengadakan kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya.

Survei tersebut melibatkan 2.237 responden guru muslim di 34 provinsi. Guru yang menjadi responden berada di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah mulai TK/RA, SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/K/MA(Media Indonesia, 17/10).

Kemudian, MAARIF Institute for Culture and Humanity (2018) dalam Policy Brief Menolak Radikalisme dalam Pendidikan, Mencipta Sekolah Inklusif-Kebinekaan menyebut guru menjadi salah satu pintu masuknya radikalisme ke sekolah. Dua akses lainnya adalah alumni dan kepala sekolah.

Dua hasil penelitian tersebut sudah sepatutnya menjadi pengingat tanda bahaya bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sebab, di negara multikural seperti Indonesia, yang dibutuhkan adalah guru-guru yang memiliki keluwesan dalam berpikir serta egaliter dalam laku keseharian. Guru-guru yang mampu toleran terhadap ragam perbedaan, bukan mereka yang memiliki kecenderungan intoleran baik dalam pikiran maupun perbuatan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dari riset tersebut adalah kecenderungan ruang hidup guru yang terbatas di kalangan homogen membuat mereka tidak terpapar terhadap ragam perbedaan. Lingkup pergaulan yang terbatas ini membuat mereka tidak luwes dalam menyikapi apapun yang berbeda dari pandangan diri dan kelompoknya.

Minimnya interaksi di dunia nyata ini menyebabkan mereka gagap ketika berhadapan dengan cara pandang yang berbeda dengan apa yang selama ini diyakininya.

Kondisi tersebut diperparah dengan situasi yang ada di dunia maya. Saat ini ada kecenderungan kita pun terkotak-kotak dalam lingkup komunikasi yang sempit. Eli Pariser (2011) dalam karyanya The Filter Bubble: What The Internet Is Hiding From You menyebutnya sebagai filter bubble. Informasi yang hadir ke gawai masing-masing bergantung pada like di media sosial atau penelusuran yang dilakukan di internet.

Kondisi tersebut menyebabkan informasi yang hadir dari media sosial hanya akan menguatkan cara pandang seseorang terhadap sesuatu dan menegasikan pandangan lainnya. Pada ranah keagamaan terbentuklah rasa bahwa diri dan kelompoknya yang paling suci dan kelompok lain penuh dosa. Dalam politik, polarisasi semakin terbentuk dan mengeras. Sebab, konsumsi informasi semakin eksklusif.

Upaya aktif

Temuan riset dari dua riset tersebut harus ditindaklanjuti dengan implementasi nyata. Jika guru-guru punya kecenderungan beropini intoleran, maka para siswa akan lebih mudah dipengaruhi dan akhirnya mengikuti cara pandang gurunya. Intervensi dari pemerintah untuk mengubah cara pandang guru tersebut menjadi sangat mendesak.

Toleransi adalah laku aktif bukan pasif, tak hanya sebatas retorika tetapi juga diiringi dengan tindakan. Setidaknya, ada dua strategi dapat dilakukan oleh para pemegang kebijakan.

Pertama, memperbanyak ruang perjumpaan yang membuat guru. Perjumpaan dengan beragam kalangan memungkinkan seseorang untuk mengubah cara pandang juga menjadi ajang untuk saling menghapus prasangka, stigma, dan rasa curiga.

Kedua, beri kesempatan bagi para guru untuk tinggal di lingkungan yang berbeda jauh dengan kehidupan kesehariannya. Jika sang guru selalu berposisi sebagai mayoritas, maka harus diciptakan momen agar mereka dapat merasakan bagaimana jika berposisi sebagai minoritas. Dari situlah empati terhadap kelompok minoritas yang sering mengalami diskriminasi akan dirasakan secara langsung.

Kedua hal tersebut jelas bukan hal baru. Beberapa sekolah dan organisasi masyarakat misalnya sudah melakukan praktik-praktik tersebut secara konsisten. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan peran-peran yang sudah dilakukan oleh sekolah maupun organisasi masyarakat tersebut.

SMA Kolese Kanisius Jakarta, SMA Santa Ursula Pos, SMA Theresia, SMA Islam Al-Izhar, dan SMA Don Bosco misalnya terlibat aktif pada program Raga Muda yang berkomitmen pada pentingnya toleransi. Mereka membuka ruang-ruang perjumpaan dengan kelompok yang berbeda.

Kemudian, salah satu organisasi yang aktif melakukan pelatihan kepada guru terkait keberagaman adalah Yayasan Cahaya Guru (YCG). Sekolah Guru Kebhinekaan, salah satu kegiatan yang dilakukan oleh YCG, difokuskan untuk menginternalisasikan kebhinekaan di ruang pendidikan.

Melalui kegiatan ini, guru-guru berkesempatan bertemu dengan dengan beragam kalangan, termasuk kelompok minoritas seperti Jemaat Ahmadiyah dan Kelompok Penghayat Kepercayaan. Dari pertemuan tersebut para guru mendapat kisah tentang mengenai sulitnya kelompok minoritas mendirikan rumah ibadah, perasaan sakit akibat terusir dari kampung halamannya, atau pun sulit mendapatkan KTP yang berimbas pada pemenuhan hak mereka sebagai warga negara.

Praktik-praktik konkret seperti itulah yang dibutuhkan untuk menguatkan fundamen toleransi di Indonesia.

Peran guru yang krusial

Fatih Yilmaz (2016) dalam Multiculturalism and Multicultural Education: A Case Study of Teacher Candidates’ Perceptions menyebut dalam pendidikan di masyarakat yang multikultural, guru memiliki tanggung jawab yang paling utama.

Studi yang dilakukan terhadap calon guru ini mengungkap bahwa sikap positif guru terhadap pendidikan multikultural berperan penting dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat hidup bersama dalam perbedaan, menjadi pribadi yang mencintai kedamaian serta penuh respek terhadap perbedaan, dan menerima identitas juga ragam kekayaan budaya.

Kemudian, Mochtar Buchori (2011) dalam Guru Profesional dan Mutu Pendidikan menyebut ada empat tipe guru profesional. Yaitu, guru penerus pengetahuan, guru pembimbing belajar, guru pembimbing siswa, dan guru pembimbing transformasi kultural.

Dari empat tipe guru tersebut, menurut Buchori, yang amat dibutuhkan adalah guru yang mampu memosisikan diri sebagai pembimbing transisi kultural. Mereka yang bersedia sepenuh hati untuk mengawal siswa dalam kondisi kultural yang serba tak menentu.

Saat ini, bangsa ini sangat membutuhkan tipe guru pembimbing transisi kultural dan memiliki pemahaman memadai terhadap pendidikan multikultural. Para pencerah yang dibutuhkan untuk menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa yang saat ini begitu mudah dikoyak.

Kebutuhan terhadap guru yang terbiasa bertamasya batin ke beragam alam pikiran melalui daya jelajah bacaannya yang luas, juga terbiasa bertamasya fisik melalui pertemuannya dengan beragam kalangan menjadi amat mendesak.

Yang kita butuhkan adalah para guru yang memposisikan diri sebagai pembawa kesejukan. Peran yang sangat krusial dalam menguatkan identitas Indonesia yang beragam.

Dimuat di: https://beritagar.id/artikel/telatah/guru-pembawa-kesejukan, 1 November 2018

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: