Menghidupkan Ruang-ruang Perjumpaan

Tensi politik dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir selalu fluktuatif. Kadang begitu panas, tapi ada kalanya pula mereda. Asian Games beberapa waktu lalu menjadi salah satu momen yang membuat tensi politik sedikit lebih dingin. Itu karena sebagian masyarakat sibuk memberi dukungan kepada para atlet yang bekerja keras dan berjuang untuk nama baik bangsa. Pencapaian medali emas terbanyak dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Asian Games juga pelaksanaan yang sukses me rupakan hal yang begitu membanggakan. Salah satu momen menyenangkan pada Asian Games lalu adalah pelukan bersejarah oleh dua orang bakal calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang diinisiasi Hanifan, salah satu atlet Indonesia peraih medali emas cabang pencak silat. Pada saat selebrasi ke menangan ia memeluk mesra Jokowi dan Prabowo Subianto. 

Momen tersebut mengharukan karena terjadi di tengah perbedaan cara pandang dan pilihan politik saat ini. Pelukan tersebut menjadi headline di beragam pemberitaan, viral di berbagai macam flatform media sosial dalam beragam bentuk, caption dan tagar yang menyertainya. Begitu sejuk, begitu mengasyik kan. Pertarungan antarkubu capres-cawapres pun sejenak mereda. Masyarakat Indonesia ternyata begitu menunggu momentum seperti itu. Kita pada dasarnya senang suasana damai tanpa kisruh. Namun, situasi politik seringkali tidak memperkenankan kemesraan macam ini awet. Momentum ini pun cepat berlalu karena beberapa saat kemudian saling serang antar masing-masing pendukung pun kembali terjadi. Media sosial maupun WhatsApp Group (WAG) kembali ramai dengan perbincangan. 

Dua kubu kembali gencar saling promosi akan kelebihan sang kandidat masing-masing dan mencari celah keburukan lawan politiknya. Pertarungan di jagat politik kemudian lebih dipanaskan lagi lewat kanal-kanal media sosial yang memang cenderung mem buat segala sesuatu menjadi saling bertentangan. Sehingga, isu apa pun bisa jadi arena per tarungan. Repot sekali m emang, tapi itulah yang terjadi saat ini. Padahal, pemilihan pre siden masih kurang lebih se tahun lagi dan masa kampanye belum dimulai. 

Menciptakan Momentum

Menciptakan momen-momen yang mampu meredakan ketegangan juga mencairkan hawa panas perlu dilakukan. Di jagat maya pertarungan-pertarungan antarpihak yang ber seberangan divibrasikan dengan ragam strategi. Sulit untuk dihentikan memang, tapi kita bisa berupaya untuk meredakan ketegangan dengan tidak menyebar informasi hoaks yang penuh fitnah ataupun menahan diri untuk tak mengunggah apa pun yang memojokkan kelompok yang berbeda pandangan. Di jagat nyata, yang bisa dilakukan adalah kembali menjalin silaturahmi dengan tetangga yang ada di lingkungan sekitar rumah. 

Dari unit-unit kecil ini kita berusaha menciptakan ruang-ruang perjumpaan. Apalagi, jika merujuk pada kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang senang berkumpul, sesungguhnya kita masih bisa berharap bahwa momentum perjumpaan ini dapat membuat kita menjadi lebih guyub dan adem ayem. Di masyarakat Sunda misalnya di kenal istilah ngariung, yakni berkumpulnya teman atau saudara pada momen tertentu. Biasanya diiringi dengan prosesi ngaliwet (memakan nasi liwet dengan lauk pauknya). Ada juga yang menyebutnya botram atau makan bersama. 

Sambil menunggu makanan dihidangkan ragam obrolan pun berlangsung. Inilah momen perjumpaan yang penting, ketika silaturahmi menjadi ruang untuk saling mengeratkan. Usaha kita untuk mengikis rasa curiga dan membuat hubungan menjadi lebih erat. Di lingkungan saya tinggal, menciptakan ruang perjumpaan yang menyenangkan terus berusaha kami upayakan. Dalam satu bulan, kami upayakan untuk bisa ngariung bersama entah itu sambil makan bersama atau sekadar ngopi-ngopi sampai pagi ketika akhir pekan. Kami masing-masing tentu punya preferensi atau orientasi politik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dan, dari segi agama, etnis, dan bidang pekerjaan pun, kami begitu berbeda. 

Tapi, kami berusaha membangun beragam obrolan yang tak membuat hati cemas dan marah. Apa yang diperbincangkan tak boleh tercemari oleh soal dukung-mendukung dalam politik. Bicara politik boleh saja, tapi syaratnya tak boleh baper (bawa perasaan) apalagi sampai senewen. Kami sudah jengah dengan percakapan WAG dan informasi di media sosial yang begitu di warnai pertentangan pihak yang berbeda pandangan politik ataupun agama. Apa lagi jika bahasan di WAG sudah menyudutkan kelompok yang berbeda pandangan dengan dibarengi makian dan fitnah. 

Ketika ngariung banyak soal penting yang dapat dibicarakan. Mencoba membahas beragam persoalan konkret yang ada di lingkungan masyarakat dalam atmosfer yang lebih menyenangkan. Misal saja mem bahas ketiadaan ruang baca dan minimnya tempat bermain bagi anak atau tentang saluran air yang mampet karena sampah. Masalah-masalah yang seringkali dipinggirkan dalam pembicaraan yang mendominasi ruang sosial kita. Sehingga, ruang perjumpaan dengan interaksi yang lebih manusiawi inilah yang mesti terus diupayakan. 

Di lingkung an perkotaan yang disibukkan dengan hari-hari yang padat dan melelahkan, berjumpa satu minggu sekali di hari libur sam bil ngariung tentu akan me nyegarkan suasana hati. Di lingkup pendidikan, meng kreasi ruang perjumpaan mesti dan perlu dilakukan. Sudah begitu banyak inisiatif yang dilakukan oleh sekolah maupun pemerintah daerah. Di Jakarta misalnya SMA Kolese Kanisius dan SMA Islam Al-Izhar memiliki program Ragamuda yang mengampanyekan pentingnya merawat keberagaman serta menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa. Dua sekolah dengan beda latar belakang keagamaan ini bisa berkolaborasi dan bekerja sama mengadakan kegiatan-kegiatan positif. 

Modal Sosial 

Praktik-praktik melalui perjumpaan di masyarakat ini akan dapat memberi warna berbeda bagi suasana yang kadung memanas. Menjadi modal sosial bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ini tentu saja bukan hal baru. Namun, perlu digelorakan kembali sebagai salah satu upaya untuk kembali mempererat rasa persaudaraan kita. Sangat penting mengarusutamakan kembali per jumpaan-perjumpaan di unit-unit kecil di masyarakat dengan nuansa penuh keceriaan. Perlu upaya membangun dialog yang produktif untuk kemaslahatan bersama. 

Hal ini yang patut dikuatkan dan diupayakan agar kita terus solid sebagai sebuah bangsa. Ingat-ingatlah soundtrack Asian Games lalu, “berbeda bukan alasan untuk tak saling menopang tujuan cita dan ha rapan”. Semoga bangsa ini terus bersatu padu. 

dimuat di: http://koran-sindo.com/page/news/2018-09-18/1/3/Menghidupkan_Ruang_Ruang_Perjumpaan, 18 September 2018.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: