Membangkitkan Daya Kritis

PEMBELAJARAN yang cenderung searah pada masa lalu, dengan guru berposisi sebagai satu-satunya otoritas kebenaran, ternyata berakibat pada kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di masa kini. Tiga puluh dua tahun pola pendidikan dalam langgam suara seragam dan berdasarkan kepatuhan.

Simaklah kutipan kritis dari Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu, ‘…. Pakaian seragam, mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara seragam, tingkah laku seragam, dan lama-kelaman, wajib seragam pula isi hati dan kepala mereka!’.

Kutipan itu diambil dari bagian yang berjudul Seragam Sekolah yang ditulisnya pada 1984 yang merupakan kritiknya terhadap pola pendidikan pada masa itu. Tampak sekali, realitas yang dihadirkan pihak berkuasa merupakan pilihan-pilihan ‘terbaik’ yang sudah disediakan. Segala sesuatunya sudah terstandar, maka ikutilah yang dianggap baik oleh pihak yang memimpin, niscaya itu akan menghadirkan kebaikan bagi kita bersama.

Kebanyakan penduduk yang berusia di atas 30 tahun ke atas merupakan generasi yang mengalami pendidikan ala Orba. Masa di saat suara diseragamkan dan aspirasi dibatasi. Dan saat ini, ketika informasi begitu bebas di beragam media, ada kegamangan yang nyata dari generasi yang dididik di era Orba.

Berbeda dengan generasi yang lahir pascareformasi yang sudah terbiasa dengan keterbukaan informasi, generasi di masa sebelumnya mengalami begitu banyak pembatasan. Mereka tidak terbiasa mengkritik dan dikritisi. Gagap terhadap perbedaan pendapat, tak biasa berdialog, dan merasa ketika ada pihak yang berbeda ialah lawan yang perlu diperangi, itu ciri betapa tak biasanya kita terhadap kritik.

Kritik, mengutip Hardiman (2009), bukan sekadar keputusan pilihan, melainkan lebih merupakan usaha mengatasi kritis. Oleh karena itu, kritik ialah usaha rasional yang kesahihannya bukan hanya ditentukan ketajaman pikiran seseorang dalam menganalisis situasi, melainkan juga suksesnya upaya mewujudkan kritik itu dalam praktik mengatasi krisis.

Namun, memang, di saat kemudahan melancarkan kritik begitu mudah, kita pun gagap melancarkan kritik yang fundamental. Yang paling mudah ialah berbeda pandangan dengan pihak lain tanpa mau melihat kelebihan yang ada. Beda pendapat akhirnya menjadi ruang untuk saling berseteru dengan menjatuhkan dan menghalalkan segala cara. Pola pendidikan masa lalu yang tidak membuka ruang kritis bagi siswa sayangnya masih melekat sampai saat ini.

Cerita pembanding
Ada cerita menarik dari beberapa kolega yang sedang studi S-2 dan S-3 di luar negeri. Mereka bercerita kegundahan terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Ada banyak perbedaan mendasar dalam pengelolaan pendidikan di tempat mereka bersekolah saat ini dengan di Indonesia. Bagi yang anaknya sudah bersekolah, ada perasaan takjub terhadap pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya.

Pendidikan yang mengedepankan kebebasan berpendapat, keberanian mengeksplorasi gagasan, maupun berbeda pandangan dengan yang lain. Anak-anak dibiasakan untuk bicara menyampaikan apa pun yang ada dalam pikirannya tanpa takut dianggap salah atau ditertawakan. Sesuatu yang tak mereka dapatkan ketika bersekolah di Indonesia dulu. Anak-anak dilatih untuk terbiasa menyelesaikan persoalan sendiri melalui penugasan yang diberikan oleh guru.

Seorang senior yang sedang studi S-3 di Inggris bercerita, orangtua dilarang membantu anak-anaknya mengerjakan tugas yang diberikan. Mereka hanya diperbolehkan memberi masukan setelah tugas dikirim melalui aplikasi yang tersedia. Problem solving dikonstruksi dalam pelajaran keseharian.

Di Indonesia, meskipun belakangan PR dilarang, pada praktiknya anak-anak masih harus membawa beban PR itu ke rumah. Dan yang stres bukan hanya anak, melainkan orangtuanya yang juga harus membantu anak mengerjakan tugas. Dan tak jarang, persentase pengerjaan tugas lebih banyak dilakukan orangtua.Problem solving tidak berjalan ketika justru orangtua yang banyak berperan membantu penyelesaian tugas anak-anaknya.

Terkait minat baca, misalnya. Mereka bercerita, betapa anak-anaknya sudah dikenalkan dengan beragam buku sejak kecil. Perpustakaan sekolah menjadi wahana belajar dan eksplorasi yang sejak dini dikenalkan guru-guru di lingkungan sekolah. Di Indonesia, masih amat jarang sekolah yang memanfaatkan fasilitas perpustakaannya.

Cerita-cerita dari teman-teman yang studi di luar itu tentu perlu menjadi refleksi kita bersama. Betapa banyak hal yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan. Hal-hal prinsip yang menguatkan cara pandang anak bangsa bahkan sampai mereka dewasa.

Pengelolaan pendidikan membutuhkan keseriusan dan keteguhan hati. Demokratisasi yang berbasis pada kemanusiaan yang memberikan ruang besar bagi kewarasan menjadi sangat bisa dikuatkan melalui pendidikan yang mengedepankan daya kritis.

Sebelumnya dimuat di Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/219589-membangkitkan-daya-kritis,  27 Juli 2018.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: