Amanat Berat Pencerdasan Anak Bangsa

Memastikan agar semua orang mendapatkan akses pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar sepanjang hayat merupakan amanat dari tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Intinya adalah agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan yang berkualitas secara adil. Dari situ, pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang didapat melalui pendidikan akan berkon tribusi bagi masyarakat (Bappenas & Unicef, 2017).

Tujuan tersebut tentu sangat mulia sebab pendidikan merupakan hak setiap anak bangsa. Namun, disparitas di bidang pendidikan masih terjadi. Data menunjukkan bahwa capaian hasil pendidikan antarwilayah perdesaan dan perkotaan, antara laki dan perempuan, antara penduduk miskin dan kaya, antara kelompok rentan masih me nunjukkan adanya kesenjangan (BPS, 2018).

Rata-rata lama sekolah, misalnya, belum beranjak dari 8,5 tahun, yang berarti bahwa masih begitu banyak penduduk Indonesia yang hanya bersekolah sampai jenjang sekolah menengah pertama. Uji Kompetensi Guru secara nasional rata-ratanya hanya mencapai 53,02 atau di bawah standar kompetensi minimal yang dipersyaratkan (55). Pada era masifnya digitalisasi, akses siswa terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pun masih belum cukup baik. Di wilayah perkotaan misalnya, penggunaan internet baru mencapai 55,36% dan di pedesaan jumlahnya lebih rendah lagi yaitu 33,73% (BPS, 2018).

Pemanfaatan TIK untuk mengoptimalkan pembelajaran pun masih amat terbatas. Dari sisi penganggaran, setiap tahun anggaran pendidikan terus mengalami peningkatan. Namun, Sri Mulyani selaku menteri keuangan menyebut bahwa pengeluaran pemerintah untuk anggaran pendidikan belum cukup berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pendidikan. Ini tentu pekerjaan rumah besar.

Perbaikan 

Pada 2019 ini, pemerintah memang banyak memfokuskan kebijakan dan program untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Peningkatan alokasi anggaran; kualitas sarana prasarana; ketersediaan guru; sustainable education melalui program keluarga harapan, Program Indonesia Pintar, Bidikmisi, dan beasiswa LPDP; sinkronisasi kurikulum SMK, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tenaga pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan teknologi digital, maupun beasiswa afirmasi adalah beragam kebijakan dan program pemerintah tahun 2019 (Nota Keuangan Ke menkeu, 2019).

Kemudahan dalam mengakses pendidikan, keberadaan fasilitas pendidikan, jarak ke sekolah, kehadiran guru, kualitas pembelajaran, akses ke teknologi informasi adalah beberapa variabel penting yang menentukan keberhasilan pendidikan. Perbaikan-perbaikan bagi peningkatan kualitas pendidikan perlu dilakukan secara terencana, terstruktur dan masif.

Perencanaan yang lebih presisi juga eksekusi yang baik dalam implementasi merupakan kunci keberhasilan. Dan melakukan dua hal ini jelas tak mudah. Operasionalisasi kebijakan yang su dah dibuat menjadi sangat penting. Tentu saja dengan mem perhatikan kompleksitas persoalan maupun kekhasan tiap wilayah yang ada di Indonesia.

Dalam konteks Indonesia yang begitu beragam mem bangun desain pendidikan, jelas bukan perkara mudah. Desainnya tak mungkin seragam. Penyeragaman di Indonesia yang beragam adalah kesalahan besar karena melawan hukum alam, sehingga variasi desain pen didikan yang memperhatikan karakteristik sosial-bu daya, kontur geografis, dan situasi lokal menjadi keniscayaan. Imajinasi tentang Indonesia yang beragam perlu ada di benak para perancang desain pendidikan di negeri ini. Dan, lagi-lagi tiap wilayah me miliki karakteristik yang ber beda. Tak adil jika memaksa pola pen didikan yang sama di setiap wilayah. Jadi, jika desain yang dirancang seragam tanpa memperhatikan konteks lokal dari tiap wilayah, tentu saja ke ga galan pembangunan pendidikan hanya menunggu waktu.

Perubahan cepat

Fakta bahwa dunia yang te rus bergerak cepat juga perlu men jadi perhatian. Kondisi tersebut menyebabkan percepatan pembangunan pendidikan menjadi sangat mutlak dilakukan. Yuval Noah Harari (2018) dalam bukunya yang laris 21 Lessons for the 21st Century menulis khusus chapter tentang pendidikan. Secara reflektif, Harari mempertanyakan beberapa hal. Pertama, apa yang perlu diajarkan kepada anak-anak yang baru lahir agar mereka mampu bertahan hidup dan berkembang di masa depan?

Kedua, keterampilan apa yang dibutuhkan agar mereka menda patkan pekerjaan, memahami apa yang terjadi, dan mem bantu mereka menelusuri relung kehidupan? Dalam tulisannya, Harari pun tak memberi jawaban pasti. Manusia, sebut Harari tidak pernah bisa memprediksi masa depan dengan presisi.

Maka yang paling penting menurutnya, adalah kemampuan manusia untuk menghadapi perubahan, mempelajari hal-hal baru, dan menjaga mentalitas dalam berbagai situasi.Ia menyarankan sekolah lebih berfokus pada penguasaan kecakapan hidup daripada pemberian keterampilan teknis.

Industri 4.0 yang begitu kencang dinarasikan oleh beragam pihak, mengedepankan pemanfaatan internet of things, internet of data, internet of services dan internet of people adalah tantangan sekaligus peluang besar (Delloitte, 2014).

Akan tetapi, meskipun sudah hadir beragam teknologi yang canggih, manusia harus tetap konsisten meningkatkan kapasitasnya. Akselerasi perubahan pun semakin cepat dengan hadirnya teknologi yang merasuk dalam beragam aktivitas manusia. Akan tetapi, teknologi menjadi penolong jika manusia mengetahui apa tujuan hidupnya. Yang paling penting, menurut Harari, jangan sampai teknologi membentuk tujuan hidup dan kemudian mengendalikan hidup manusia (Harari, 2018). Manusialah sang pengendali, itu yang ingin disampaikan Harari. Kemampuan nalar dan logika masih sangat diperlukan saat ini atau pun di masa depan.

Pemikiran analitis dan inovasi; pemecahan masalah yang kompleks; pemikiran kritis dan analisis; pembelajaran aktif dan strategi pembelajaran; kreativitas, orisinalitas, dan inisiatif; kecerdasan emosional penalaran, pemecahan masalah dan paparan ide; serta kepemimpinan dan pengaruh sosial tetap sangat relevan di masa depan seperti yang dilaporkan oleh The Future of Jobs Report, World Economic Forum (2018).

Dalam konteks tersebut, tugas guru menjadi amat sangat penting. Pandangan Henry Giroux (1997) dalam Pedagogy and the Politics of Hope: Theory, Culture, and Schooling: A Critical Reader yang menyebut bahwa guru harus berperan sebagai intelektual transformatif menjadi sangat relevan.

Posisi guru ti dak hanya berkutat untuk mem bawa siswa memiliki ke ber hasilan aka demik tetapi juga terus mengajak mereka untuk berpikir dan bertindak secara kritis. Selain itu, catatan pengingat dari Romo Driyarkara (1961) menjadi sangat penting. Pendidikan menurutnya adalah perbuatan fundamental yang dapat mengubah dan menentukan hidup manusia. Melalui pendidikan, anak mampu mengerti dirinya sendiri, menempatkan diri dalam ragam situasi, dan mengambil sikap, juga menentukan nasibnya sendiri.

Dalam pandangannya, pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan menjadi sangat penting, membuat anak didik ke tahap insani, menjadi manusia seutuhnya. Hal ini menjadi sangat penting dalam menghadapi dunia yang fleksibel dan ber ubah cepat. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas sangat berat yang diamanatkan para pendiri republik ini. Beban ini bukan hanya ada pada pundak pemerintah sehingga membutuhkan kerja bersama dari semua pihak.

Dimuat di Koran Sindo: http://koran-sindo.com/page/news/2019-05-08/1/2/Amanat_Berat_Pencerdasan_Anak_Bangsa

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: