Mengoptimalkan Perjumpaan Kultural

Beberapa tahun belakangan ini, membenci seolah semakin mudah dilakukan. Salah satu aspek yang begitu mengerikan adalah ketika bangunan kebencian ini dipijakkan oleh justifikasi keagamaan yang sempit. Agama yang seharusnya membawa damai tercemar karena laku umat yang kasar menggunakannya semata untuk kepentingan elektoral.

Hari-hari ini kita melihat betapa agama tidak menjadi panduan moral yang menuntun mereka yang berkontestasi di arena politik, tetapi sangat mudah diperalat demi kepentingan politik elektoral semata. Almarhum Gus Dur sudah mengingatkan bahwa agama merupakan pedoman moral, bukan justifikasi kelompok agama tertentu untuk memimpin dan mengatur mereka yang berbeda secara paksa dengan dalih tafsir keagamaan yang eksklusif. Inilah kritik dari Gus Dur dalam relasi agama dengan negara dalam beberapa tulisannya.

Almarhum Rendra dalam sajaknya yang berjudul Maskumambangmengkritik agama yang terlalu jauh dibawa ke ruang politik. “Apabila agama menjadi lencana politik, maka erosi agama pasti terjadi! Karena politik tak punya kepala, tidak punya hati, politik hanya mengenal kalah dan menang, kawan dan lawan, peradaban yang dangkal. Meskipun hidup berbangsa perlu politik, tetapi politik tidak boleh menjamah ruang iman dan akal di dalam daulat manusia!” (WS Rendra dalam Doa untuk Anak Cucu, 2014). Kritik Rendra masih relevan dalam membaca situasi politik yang gaduh hari-hari ini.

Tujuan politik sebagai alat perjuangan menciptakan masyarakat adil dan sejahtera kemudian menjadi sangat utopis, karena nyatanya praktik politik yang dilihat dan dirasakan begitu memecah belah persatuan bangsa. Ada saja argumen yang digunakan untuk menyerang pihak yang berbeda. Dialog-dialog konstruktif semakin sulit terbangun karena masing-masing pihak merasa paling benar.

Kontestasi politik lima tahun seperti perang yang melibatkan hidup mati. Sampai memposisikan teman dan bahkan saudara sebagai lawan yang perlu diberangus hanya karena berbeda pilihan. Siapapun akan diserang habis-habisan jika berbeda dengan cara pandangnya. Kebencian dengan mudah ditembakkan ke segala penjuru mata angin.
Hari-hari ini, kita perlu mengingat terus pesan Bung Karno. Ia menyebut Indonesia didirikan untuk semua bukan untuk golongan tertentu saja. Bukan untuk satu agama atau suku tertentu. Maka, tak bisalah jika hanya karena berbeda pilihan politik kita harus tercerai berai. Gotong royong yang menurut Bung Karno adalah intisari dari perasan semua sila Pancasila hanya bisa dilakukan ketika ada kesepakatan bersama untuk bahu membahu dalam membangun bangsa ini.

Sebab itu, Indonesia kini dan masa depan tak bisa dibangun oleh pertengkaran saling menjatuhkan. Tak bisa dikokohkan oleh semburan caci maki juga sumpah serapah yang penuh hasutan dan kutukan. Negeri ini tak memerlukan getir amarah penuh kebencian hanya karena perbedaan agama, suku, kelas sosial, apalagi hanya karena pilihan politik.

Piranti Kultural

Beruntung setelah kontestasi berlangsung, kita kemudian memasuki bulan Ramadhan dan disusul oleh Hari Raya Idulfitri. Ramadhan dan Idulfitri menyediakan ruang yang besar bagi pertemuan-pertemuan antarberagam masyarakat. Dua momen besar ini merupakan piranti perjumpaan kultural yang perlu dioptimalkan.

Perjumpaan-perjumpaan menjadi lebih intensif dilakukan di momen Ramadhan dipungkas dengan saling bermaafan di Hari Raya Idulfitri. Buka puasa bersama, tarawih bersama, ataupun salat berjamaah adalah momen pertemuan antar beragam kalangan menjadi bagian penting rekonsiliasi antar beragam kalangan yang sebelumnya sempat berbeda pendapat soal pilihan politik.

Jika sebelumnya sungkan untuk saling bertemu, maka Ramadan lalu maupun Idulfitri adalah momen tepat untuk menjalin kembali silaturahmi. Momen-momen mengharukan begitu banyak terpotret selama Ramadhan. Haru rasanya ketika melihat kalangan saudara non-muslim ikut merayakan kegembiraan ketika berbuka puasa dengan menyiapkan beragam makanan. Ataupun ketika kita menyaksikan masyarakat yang memiliki rezeki berlebih berbagi kepada kalangan masyarakat yang kurang mampu.

Situasi yang sama dirasakan ketika perayaan Idulfitri. Pertemuan antarmasyarakat begitu hangat dan menyenangkan. Silaturahmi yang dilakukan elite politik pun menjadi bagian penting bagi rekonsiliasi politik pascapilpres yang begitu menguras tenaga.

Momen-momen tersebut menghadirkan tawa bahagia dan perasaan hangat. Inilah Indonesia yang kita bayangkan bersama. Indonesia yang meskipun berbeda-beda, tapi tetap berkomitmen untuk terus bersama. Saling bahu untuk menolong atas nama kasih sayang.

Dinamika politik tidak boleh mencerabut rasa bahagia dan keinginan untuk berbagi di antara kita. Kontestasi yang terjadi tidak boleh membuat kita mudah marah atau mudah dihasut oleh mereka yang ingin memanaskan situasi menjadi tidak nyaman.

Ramadhan lalu membuat kita leluasa merenungkan kembali hakikat diri juga relasi dengan lingkungan sekitar. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan (2007) mengemukakan bahwa ibadah puasa tidak hanya menyangkut masalah personal, tetapi juga terkait dimensi sosial. Ramadhan adalah waktu untuk menumbuhkan sikap-sikap terpuji salah satunya dengan mendahulukan berprasangka baik terhadap orang lain yang sangat sesuai dengan konsep fitrah.
Berprasangka baik, lanjut Cak Nur, berkaitan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Karena ketika berpuasa umat Islam dianjurkan untuk menjauhi sikap tidak terpuji seperti iri, dengki, berkata kotor, dan segala sikap yang merugikan lainnya. Catatan reflektif dari Cak Nur dapat menjadi pengingat kita semua. Ramadhan menjadi ruang penting untuk mengikis rasa curiga berlebihan kepada pihak yang berbeda. Ada keinginan untuk memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.

Kita tentu berharap ibadah puasa yang dijalani sebulan penuh lalu tidak menjadi sia-sia. Ramadhan sebagai sekolah terbaik yang membuat kita meraih derajat takwa. Sehingga kita dapat menjauhkan diri dari perilaku yang tidak terpuji yang coba kita hindari selama sebulan lamanya.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: