Menulis, Menulis dan Tetap Menulis

Dalam situasi saat ini, di mana dia di rumah adalah yang terbaik, maka membaca dan menulis menjadi obat pelipur lara. Sudah banyak ahli dan rekan-rekan yang menulis tentang Covid-19 dan anjuran-anjuran tentang pentingnya tinggal di rumah. Banyak konten positif tentang anjuran tersebut. Ada baiknya, tentu saja demi kemaslahatan diri dan orang banyak, kita tetap diam di rumah. Kita support tenaga medis yang berjuang di garda terdepan. Semoga mereka selalu sehat dan diberi kemudahan serta kelancaran.

Setelah lama sekali tidak mengisi tulisan di blog, siang ini saya mau bercerita tentang pengalaman berproses menulis di media cetak/koran dan online.

Setelah lima tahun mencoba menulis ke media massa. Saya semakin menyadari bahwa proses menulis adalah ruang bagi saya untuk belajar begitu banyak hal. Ketika saya menulis, maka otomatis saya harus membaca berbagai sumber, entah itu buku, majalah, media online, koran, ataupun jurnal untuk mendukung argumentasi yang saya ajukan. Hingga kini saya berhasil menulis di beberapa Media Cetak,  Media Online, maupun Blog. Beberapa tulisan saya sudah dimuat di Koran Kompas, Koran Berita Cianjur, Jawa Pos, Koran Jakarta, Media Indonesia, Harian Republika, Koran Sindo, Koran Tempo, Lampung Post, Radar Bangka, Radar Tasikmalaya, Padang Ekspress, detiknews, NU Online, Qureta, Kumparan, Geo Times, dan Kompasiana, dan Harakatuna.

Ketika awal masuk LIPI, kantor saya, saya memang menargetkan agar setiap bulan bisa menulis di koran. Untuk menulis di jurnal, itu tentu kewajiban saya sebagai peneliti, sementara menulis koran atau media online bukanlah kewajiban. Meski, ada angka kredit diraih (lumayan dua poin, entah untuk kebijakan saat ini belum saya cek lagi) tentu ini bukan prioritas utama. Meski demikian, semangat untuk mewujudkan satu artikel pendek perbulan begitu menggebu-gebu. Saat ini, target itu sudah terealisasi. Kadang sudah lebih dari satu artikel perbulan, meskipun jarang-jarang sih.

Mengapa saya menulis? Ada alasan idealis dan pragmatis. Idealisnya untuk menyebarkan gagasan yang saya miliki. Saya banyak menulis tentang isu pendidikan. Isu yang saya geluti bertahun-tahun baik sebagai peneliti maupun pengajar di SMA dan Perguruan Tinggi. Saya memiliki perhatian besar terhadap isu pendidikan. Mengapa? Karena saya merasa pendidikan di negeri ini belum memberikan perhatian yang memadai untuk membangun manusia Indonesia. Pendidikan kita masih dihinggapi berbagai harapan palsu. Jadi, selain saat ini banyak terlibat di penelitian pendidikan, saya juga merasa terpanggil untuk mengirimkan gagasan sederhana saya tentang isu yang saya geluti.

Secara pragmatis, menulis itu mendatangkan rezeki bagi kami sekeluarga. Hidup di Jakarta, meski tinggal di Bekasi, membutuhkan begitu banyak amunisi untuk hidup. Dengan menulis, ada tambahan rezeki yang kami dapatkan. Ya, setiap menulis dan dimuat ada honor yang diberikan oleh redaksi. Jumlahnya  tentu bervariasi. Untuk memotivasi, rentang yang saya dapatkan mulai dari 400 ribu sampai 1 juta rupiah.

Untuk pembayarannya juga sangat bervariasi. Ada yang 1 minggu setelah dimuat honor sudah ditransfer, ada yang dua minggu, sampai dua bulan. Apakah ada media yang tidak menyediakan honor? Saya pernah menulis di media yang tidak ada honornya juga. Meski demikian, ya tetap senang karena tulisan dimuat dan dibaca orang lain. Meski, jika ada honornya tentu kesenangannya menjadi berlipat. Tentu saja tidak bisa diharapkan dengan rajin menulis akan mendapat rumah, mobil, dan harta berlimpah. Tentu tidak semudah itu, hehe.

Dari proses menulis pun saya mengenal banyak orang. Ternyata tulisan dan ide saya dihargai oleh orang lain. Yang menyenangkan ketika ada lembaga lain yang mengundang setelah membaca tulisan yang saya buat. Atau beberapa tulisan saya dibaca oleh media televisi dan kemudian mengundang saya untuk diskusi. Duh senang sekali. Semakin berlipat-lipat saja senangnya. Ada banyak teman baru yang saya kenal baik via online dan offline setelah saya rutin menulis. Dari sini jejaring pertemanan bertambah, juga diiringi pertambahan rezeki.

Motivasi menulis memang menjadi sangat penting. Semangat untuk pantang menyerah adalah yang utama. Sampai saat ini, saya masih merasakan penolakan atau tidak dimuatnya tulisan. Jika demikian, biasanya saya akan merevisinya dan mengirim ke media lain. Dan seringkali tulisan yang tidak dimuat di satu media akan di muat media lain. Seperti yang disampaikan oleh salah satu rekan di kantor bahwa setiap tulisan memiliki jodohnya masing-masing. Oleh karena itu saya tak pernah risau ketika tulisan saya tidak dimuat.

Hal lain yang menjadi sangat penting juga menurut saya adalah jangan merasa pintar. Kalau merasa pintar, ketika tulisan ditolak pasti ada perasaan kesal dan malas mengirim lagi. Jika ego yang dikedepankan tentu saja akan mudah menyerah, sebab merasa kepintarannya terusik.  Mengapa tidak boleh menyerah? Karena menulis adalah perihal tentang keinginan untuk terus belajar. Mencoba untuk mengartikulasikan gagasan agar bisa dipahami oleh publik yang lebih luas. Jadi tidak boleh mudah menyerah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Mari kita terus menulis. Menulis, menulis dan tetap menulis.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

4 thoughts on “Menulis, Menulis dan Tetap Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: