Berdiam Di Rumah, Selemah-lemahnya Iman, Sebaik-baiknya Kontribusi

Begitu banyak cerita sedih ketika ada pasien positif Covid-19 yang meninggal. Pertanggal 23 maret terdapat 579 yang positif Covid-19, 30 yang sembuh, dan 49 yang meninggal. Termasuk tinggi dibanding negara-negara lain. Singapura bahkan bisa menekan angka kematian “hanya” dua pasien saja.

Gegabahnya elit merespon isu Covid-19 dengan beragam guyonan tentu sangat menyakitkan jika diingat. Di saat negara maju yang insfrastruktur kesehatannya sudah maju saja sangat ketat membatasi pergerakan manusia, membuat border di tiap pintu masuk kedatangan internasional dengan pemeriksaan kesehatan yang presisi, kita masih santai-santai saja. Bahkan membuka ruang bagi wisatawan asing untuk datang ke beragam tempat di Indonesia.

Dengan pendekatan berbasis data dan kepercayaan penuh pada sains virus ini bisa dihadapi. Bukan dengan kata-kata serampangan yang tak berbasis pada data. Semua bisa diatasi ketika solidaritas dikuatkan, gotong royong dilakukan. Jangan sampai setelah begitu banyak korban berjatuhan, kita baru mulai menyadari, dan bergerak.

Artikel yang ditulis oleh Iqbal ElyazarEijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU)Sudirman NasirUniversitas Hasanuddin, dan Suharyo SumowidagdoIndonesian Institute of Sciences (LIPI) bertajukPenularan COVID-19 di Indonesia bisa tembus 11-71 ribu akhir April jika tak ada intervensi cepat menggunakan analisis fungsi eksponensial –dengan data kasus sejak 2 Maret dan asumsi level penggandaan waktu kasus seperti Iran dan Italia–memperkirakan pada akhir April 2020 akan terdapat 11.000-71.000 kasus COVID-19 di Indonesia (https://theconversation.com/penularan-covid-19-di-indonesia-bisa-tembus-11-71-ribu-akhir-april-jika-tak-ada-intervensi-cepat-129619).

Pemerintah saat ini lebih sigap dalam menangani kasus ini. Meskipun dengan beragam keterbatasan berupaya untuk mengejar bolong-bolong ketertinggalan.  Tentu kita tidak berharap semakin banyak pasien yang positif Covid-19. Pembatasan sosial diharapkan menjadi sarana efektif untuk membatasi laju penyebaran virus korona ini. Maka di rumah saja adalah pilihan yang sangat baik. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah dari rumah, begitu anjuran Presiden Jokowi.

Selama satu minggu lebih kami diam saja di rumah. Keluar rumah ketika ada keperluan mendesak. Itu pun dengan kesiagaan penuh. Setelah keluar dari rumah kami bebersih, berganti pakaian. Seminggu lalu, ketika saya sudah mulai kerja dari rumah dan anak sudah belajar dari rumah, istri saya masih harus ke sekolah. Meski siswa-siswanya sudah dirumahkan, para guru masih harus masuk. Istri saya tetap mengajar seperti biasa, hanya saja via online. Saya agak heran juga, mengapa harus masuk, toh masih bisa online di rumah. Alhamdulillah, minggu ini istri sudah libur. Karena memang di bulan Maret sekolahnya libur satu minggu.

Setiap pagi saya mengantarnya untuk meminimalisir perjumpaan yang rapat dengan banyak orang di transportasi publik. Kemudian saya dan anak diam di rumah. Setiap pulang, kami menjaga jarak darinya ketika dia tiba. Pintu sudah kami buka, juga kamar mandi. Ia pun langsung masuk membersihkan diri. Setelah bersih baru kami berkumpul kembali. Lebay? Parno? Ya bisa jadi. Tapi lebih baik over protektif dari pada terlalu cuek. Apakah aman? Ya jelas belum tentu. Tapi, bukankah ikhtiar merupakah hal yang wajib dilakukan? Apalagi belakangan ada satu pasien positif Covid-19 di kecamatan kami tinggal.

Setiap keluar, kewaspadaan ditingkatkan. Intinya tidak serampangan. Tidak pegang ini itu. Pergi secepat mungkin untuk kembali. Di sosial media bahkan ada yang bilang ke luar rumah saja berasa jihad. Ya, itu juga yang kami, terutama, saya rasakan. Intinya di rumah saja yang terbaik. Untungnya kami memang anak rumahan. Jadi betah-betah saja. Hanya, anak kami perlu memiliki banyak hal yang bisa dilakukan agar dia betah. Karena sebentar-sebentar dia ingin ke luar rumah.

Dari rumah kami memantau beragam informasi. Tentu berusaha dari sumber-sumber yang valid. Karena memang informasi yang beredar begitu banyak. Hari-hari ini berita sedih karena meninggalnya para dokter di garda terdepan menjadi kisah kelabu. Mereka, meninggalkan keluarganya untuk berjihad membantu saudara-saudara kita yang sakit akibat virus korona. Sementara jihad kita, adalah selemah-lemahnya iman, diam di rumah. Jika punya sedikit kapital maka begitu banyak lembaga dan masyarakat sipil yang berusaha mengumpulkan bantuan.

Meskipun selemah-lemahnya iman, masih banyak yang tidak bisa menahan diri untuk berdiam diri di rumah. Padahal, upaya selemah-lemahnya iman ini bisa berkontribusi besar untuk menghambat persebaran virus korona. Jangan biarkan tenaga medis di garda depan, dengan segala keterbatasannya, harus dibebani oleh pasien yang semakin banyak karena ketidakdisiplin kita menjaga diri dan keluarga dengan berkeluyuran tanpa alasan yang penting. Dengan gegabah dan gaga-gagahan menggunakan argumentasi keagamaan untuk merasa tidak takut dengan virus ini.

Diam di rumah sangat baik karena mengurangi beban tenaga medis. Apalagi kita tahu insfrastruktur kesehatan di negeri ini tidak terlalu baik. Apalagi ada begitu banyak penyakit lain, DBD contohnya, yang juga perlu mendapatkan penanganan. Maka tetap sehat, tetap di rumah, adalah kontribusi yang sangat baik. Risiko kelelahan, terpapar virus, stress, bahkan sampai meninggal ada di depan mata para tenaga medis tersebut. Mereka bertaruh antara hidup dan mati, sementara kita bertaruh dengan kebosanan. Terutama bagi kita yang masih punya kemewahan bekerja dari rumah.

Bagi yang punya kemewahan diam di rumah dan bekerja dari rumah. Begitu banyak juga bonus yang didapat. Berkumpul dengan keluarga, saling bercengkrama, mengajar anak, berolahraga di rumah, ibadah di rumah adalah bonus. Berbeda dengan saudara kita yang masih menempuh risiko berhadap-hadapan dengan pasien, bekerja keras demi kesembuhan mereka. Juga mereka yang harus bekerja karena perusahaan masih perlu beroperasi. Atau para pedagang kecil yang nasibnya digantungkan pada penjualan harian mereka, pengemudi taksi, angkutan umum, atau transportasi online yang harus ke luar rumah jika ingin mendapatkan sesuap nasi. Maka diamlah di rumah, nikmati, meski mungkin bosan. Itulah selemah-lemahnya kontribusi kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: