Pancasila dalam Perbuatan

PADA 2014, Yudi Latif, intelektual yang begitu telaten menelisik Pancasila merilis buku Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Buku tersebut berisi aktualisasi nilai-nilai Pancasila di dalam realitas keseharian, baik yang dilakukan tokoh-tokoh bangsa di masa silam ataupun masa kini.

Penggunaan istilah ‘Pancasila dalam Perbuatan’, menurut saya, sangatlah penting sebab hingga saat ini Pancasila lebih banyak dijadikan jargon semata, bukan dioperasionalkan dalam kegiatan sehari-hari. Nilai-nilai dari Pancasila belum mewarnai segenap perjalanan bangsa ini.

Hari-hari ini kita disuguhkan berbagai persoalan bangsa. Negeri ini seolah tidak pernah dibiarkan tenang karena terpaan berbagai persoalan yang datang bertubi-tubi. Tanah Papua yang kita cintai bersama hingga saat ini masih bergejolak. Sepertinya, ‘rasa aman’ ialah harga yang teramat mahal untuk diwujudkan di Tanah Papua. Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan dan Sumatra juga sangat memilukan hati. Udara segar yang menjadi sangat mahal untuk dihirup karena ulah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Di beberapa kota besar di Indonesia mahasiswa dan elemen masyarakat sipil beraksi menyampaikan tujuh tuntutan. Regulasi yang seharusnya memberi rasa aman bagi setiap warga negara, justru berpotensi menjadi alat pemukul bagi siapa saja yang kritis. Mereka bergerak karena peduli terhadap masa depan bangsa ini dan cinta terhadap republik ini.

Dari berbagai persoalan yang begitu mengganggu ruang hidup seluruh bangsa, tampak jelas bahwa Pancasila sebagai dasar negara belum menjadi pijakan dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial tidak menjadi rujukan dan dipinggirkan.

Ruang politik yang idealnya menjadi ruang aktualisasi bagi penguatan kebijakan kebangsaan yang memperhatikan aspirasi masyarakat, justru menampakkan wajah yang sebaliknya. Terlalu banyak drama politik yang dihadirkan para elite politik. Tugas mereka untuk mengawal aspirasi masyarakat belum sepenuhnya dilakukan. Padahal, setiap saat masyarakat memantau apa yang mereka tampilkan.

Hanya normatif

Jika kita refleksikan kondisi saat ini sangat jelas bahwa pemahaman normatif mengenai nilai-nilai Pancasila tidaklah cukup. Di masa lalu nilai-nilai Pancasila diberikan kepada masyarakat dengan bobot normatif yang terlalu besar. Setelah mengikuti penataran P4 dan hafal butir-butir Pancasila seolah masyarakat sudah menjadi sosok yang Pancasilais.

Dari situ jelas terlihat bahwa pemahaman dan laku Pancasila tidak hanya bisa dilakukan dengan pola-pola pendidikan atau pelatihan yang hanya menguatkan kognitif. Tidak cukup dengan menghafal sila-sila, butir-butir, atau mengetahui sejarah lahirnya Pancasila. Pengetahuan yang didapat memang penting untuk memberi konteks bahwa konsepsi Pancasila merupakan kesepakatan bersama dan sangat cocok untuk Indonesia yang beragam.

Narasi Pancasila sebagai fundamen kehidupan bangsa tidak hanya bisa dipaksakan sebagai nilai-nilai ideal yang cenderung sulit untuk dilakukan. Pancasila dalam perbuatan harus hadir dalam berbagai aktivitas anak bangsa.

Pada titik ini, sering kali beban bagi penguatan Pancasila diberikan kepada lembaga pendidikan. Padahal, ruang pendidikan hanyalah salah satu cara untuk menguatkan Pancasila karena justru yang paling penting ialah menguatkannya pada ruang-ruang keseharian. Pada praktik-praktik aktual yang tampak di keseharian.

Sementara ini memang bobot terbesar untuk menguatkan Pancasila lebih banyak diberikan di sekolah. Pada kajian akademik yang cenderung normatif dan menegasikan praktik. Efeknya, selalu ada jarak antara nilai-nilai Pancasila yang diajarkan dan laku keseharian karena secara praktikal nilai-nilai Pancasila tersebut terasa berat untuk dilaksanakan.

Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di masa lalu, misalnya, sangat dianggap mudah dan cenderung disepelekan. Misalnya saja, dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika ujian siswa akan memilih jawaban yang paling panjang karena memang itu yang paling benar. Siswa dilatih untuk mengetahui hal yang benar, tetapi tidak terlatih melakukannya.

Saat ini kita cenderung gagap menghadapi berbagai situasi kompleks yang hadir. Maraknya penggunaan teknologi, tata nilai yang berubah, dan berbagai situasi lainnya membuat kita kesulitan untuk menghadapinya. Bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dioperasikan dalam kehidupan keseharian menjadi perlu terus disesuaikan dengan langgam zaman.

Praktik

Oleh sebab itu, yang perlu dikuatkan ialah pada level operasionalisasi nilai-nilai. Biarkan nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan atau beroperasi dalam laku keseharian Pancasila yang disemai melalui berbagai proses pendidikan di sekolah, keluarga, masyarakat, bahkan di dunia maya.

Sangat banyak contoh yang dapat membuktikan betapa sesungguhnya negeri ini belum habis stok aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Tentang bagaimana orang-orang Papua yang melindungi para pendatang ketika terjadi kerusuhan di Wamena ialah contoh nyata dari pengejawantahan nilai Pancasila yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan tersebut ialah bentuk kemanusiaan yang adil beradab dalam hakikat yang sesungguhnya. Situasi konflik tidak membuat kemanusiaan hilang. Pada dasarnya manusia harus menolong manusia lain bagaimanapun kondisinya.

Atau di ruang maya, pemanfaatan aplikasi kitabisa.com yang selama ini digunakan untuk membantu individu atau kelompok yang dalam kesulitan dapat menjadi contoh nyata dari implementasi nilai keseharian. Melalui aplikasi tersebut, berbagai bantuan dapat diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang agama, kelompok, suku, ataupun identitas lainnya. Hanya dengan sekali klik, begitu banyak individu atau kelompok yang tertolong.

Pancasila dalam perbuatan hanya bisa hadir dengan upaya keras dari segenap pihak-pihak yang menyadari bahwa lima sila yang ada sangatlah penting dalam memandu langkah bangsa ini di masa kini dan masa depan. Perwujudan nilai-nilai Pancasila harus melekat dalam setiap jejak langkah anak-anak bangsa.

sebelumnya dimuat di: https://mediaindonesia.com/read/detail/264186-pancasila-dalam-perbuatan

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

2 thoughts on “Pancasila dalam Perbuatan

  1. pancasila bukan untuk memata-matai rakyat, tapi sudahkah kita berbansa dan bernegara sesuai dengan pancasila? …. juga keteladanan, itu Mas yang perlu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: