Perlunya keterampilan di bidang pertukangan

WhatsApp Image 2020-03-27 at 15.16.07
Dibantu Menyelesaikan Masalah Kelistrikan

Saya tidak memiliki keterampilan yang memadai di bidang pertukangan Misal pengetahuan saya soal instalasi listrik, air, kendaraan bermotor, juga pertukangan lain sangatlah minim, kalau bisa dibilang nol.

Apakah saya tidak mendapat latihan memadai dari bapak saya? Jelas tidak. Bapak saya adalah sosok yang sangat baik dalam menata rumah. Kelemahannya mungkin soal instalasi listrik. Meski belakangan biasanya dia meminta tolong tukang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Karena saya ingat ketika kecil dulu bapak selalu mengerjakan banyak hal sendiri. Buat kolam ikan, saung, kaligrafi nama (ini bahkan jadi bahan jualan), dan pekerjaan pertukangan lainnya. Ia juga orang sangat rajin bebenah rumah. Berkebalikan dengan saya yang rajin rebahan setiap liburan.

Bapak bukan orang yang banyak bicara. Dia menunjukkan banyak hal lewat perbuatannya. Saya jadi ingat di salah satu Drama Korea yang saya tonton, entah apa judulnya dan saya menyetujui perkataan tersebut, bahwa seorang anak belajar menyaksikkan dari balik punggung orangtuanya. Intinya perbuatan adalah yang utama, bukan kata-kata. Dan itu Bapak dan mama lakukan.

Kembali soal pertukangan. Ketika kita menguasai banyak hal soal pertukangan itu sesungguhnya akan memudahkan hidup. Listrik mati, motor tidak bisa jalan, ada genteng bocor, keran air patah, torn air tidak berfungsi, dan lain sebagainya adalah perkara ringan bagi sebagian besar orang. Tetapi tidak bagi saya. Keterampilan saya soal itu sangatlah minim. Dari dulu saya malas mengurus hal-hal tersebut. Tidak ada minat sama sekali. Dan berpikir lebih baik memanggil orang yang ahli untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Sekarang selain memanggil tukang yang ahli, kadang saya meminta bantuan salah satu tetangga kami yang ahli berbagai hal. Dia bisa soal instalasi listrik, membenarkan pintu, jetpam, dan perbengkelan dan lainnya. Sakti pokoknya. Kapan pun butuh bantuan dia selalu datang membantu. Semua masalah beres, tuntas.

Ternyata, ketidakmampuan saya itu berdampak ketika saya memulai kehidupan rumah tangga. Ternyata, ketika kita tinggal mandiri ada saja hal yang harus diperbaiki. Tanpa skill yang memadai berbagai persoalan tersebut tentu menjadi beban. Gagang pintu bermasalahpun saya tidak bisa menggantinya. Padahal kadang, masalahnya sepele. Di tangan ahlinya dalam hitungan menit semua bisa diperbaiki. Merakit kipas angin, lemari buku, atau berbagai lemari (yang sudah ada manualnya pun) bukan perkara mudah bagi saya. Istri saya lebih canggih dan sering gereget melihat saya yang kesulitan dan berlama-lama menyelesaikan rakitan (dengan berkeringat dan mudah menyerah).

Apalagi Papah, bapaknya istri, adalah orang yang bisa semua hal. Dia juga punya semua perkakas elektronik juga pertukangan. Mengerti soal listrik, elektronik, perbengkelan, dan pertukangan. Maka jika datang ke rumah kedua orangtua kami selalu mengontrol rumah. Ada saluran listrik yang bermasalahkah? pintu yang engselnya lepas, tembok retak, atau tanaman yang belum dipotong. Biasanya sebelum mereka datang kami request beberapa hal yang perlu diperbaiki. Memang jenis anak tidak tahu malu. Tapi mereka tetap saja dengan senang hati mengecek semua hal bagi kami.

Makanya, saya pribadi, ketika bisa menyelesaikan persoalan di rumah secara mandiri rasanya kok bangga sekali. Misal air tidak bisa naik, saya berusaha cari cara kenapa air tersebut tidak naik. Beruntunganya semua jawaban atas setiap permasalahan terkait pertukangan ada di youtube. Ketika air tidak naik berarti harus dipancing. Itu jelas pengetahuan mudah dan umum. Tapi ya jelas saya tidak mengerti. Dan youtube lah pembantu saya menyelaikan persoalan. Pernah juga air tidak nyala. Sudah dipancing tidak nyala juga. Saya kemudian naik mengecek penampung air. Ternyata pemberat airnya putus. Bagi banyak orang tentu itu perkara mudah. Bagi saya itu perkara sulit. Butuh waktu untuk membongkar dan mengaitkan tali pemberatnya. Dan ketika selesai, duh berasa bangga sekali. Receh sekali memang.

Atau, ketika musim bakar sate di waktu idul adha. Saya bukan pengamat yang baik. Ketika idul adha biasanya kerjaan saya kipas-kipas saja. Atau lebih banyaknya ya tinggal makan satenya saja. Yang mengerjakan semua ya bapak saya. Duh durhaka sekali. Tapi seperti saya bilang, bapak tidak pernah menyuruh saya ini dan itu. Dia hanya mencontohkan. Dan saya anak yang kurang baik, jadi saya lebih banyak rebahan kalau di rumah. Efek buruknya ya sekarang ini. Saya tidak bisa jadi bapak yang mencontohkan ini dan itu ke anak saya kecuali kebiasaan membaca. Ini juga bukan suatu kebanggaan sih.

Soal bakar-bakaran saja saya lemah. Nah ternyata tentangga saya tidak ada yang tahu cara membuat api menyala tanpa menggunakan minyak tanah. Waduh. Parah sekali anak-anak muda tentangga saya itu, termasuk saya. Untung ada youtube. Dari youtube saya tahu caranya adalah menggunakan minyak sayur dan tissue. Lagi-lagi ini pengetahuan receh dan saya yakin banyak yang tahu. Dan setelah mengikuti youtube, maka arang pun terbakar. Pembakaran sate pun berjalan dengan hikmat dan lancar. Terima kasih youtube.

Soal motor yang mogok pun saya tidak terlalu ahli. Youtubelah tempat bertanya. Karena di sana beragam tutorial dihadirkan. Meski kadang saya hanya bisa bongkar, sesekali bisa pasang, selebihnya tidak bisa terpasang dengan baik.

Keahlian saya ya hanya gogoleran dan rebahan sambil baca komik. Ketika menikah saya baru sadar itu jelas bukan suatu keahlian. Oya, keahlian saya sekarang adalah berusaha untuk tidak membuat rumah berantakan. Itupun karena istri saya sangat tertib soal kerapihan dan kebersihan rumah. Kontribusi saya adalah tidak membuat semuanya berantakkan. Dan itu pun sangat sulit apalagi saya memiliki patner dalam berbuat kriminal dalam membuat semua sudut rumah berantakan. Siapa dia? Dia adalah anak kami.

Dan tahu sendiri, ketika Work From Home (WFH) selama dua minggu ini berjalan istri sayalah yang paling sakit kepala. Karena, saya dan Raje berkolaborasi membuat rumah menjadi berantakan. Betapa sulit hidup istri saya di era WFH ini. Karena kami membuat jejak berantakan di mana-mana.

Tak salah memang jika di Finlandia ada pelajaran soal ketermpilan rumah tangga. Ini jelas hal yang perlu dilakukan. Kalau tidak salah Ki Hadjar Dewantara pun menganjurkan keterampilan-keterampilan hidup macam ini. Soal-soal tersebut adalah bagian penting dalam bertahan hidup.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: