Pendidikan Belum Berhasil Jadikan Anak Sebagai Pribadi yang Baik

OlehSONYA HELLEN SINOMBOR

JAKARTA, KOMPAS — Kasus kekerasan seperti perundungan yang terjadi sekolah maupun di luar sekolah yang melibatkan anak-anak menggambarkan bahwa proses pendidikan belum berhasil menjadikan anak menjadi pribadi yang lebih baik. Ekosistem pendidikan saat ini belum menjadikan peserta didik sebagai manusia.

Sejumlah program yang terkait dengan pendidikan seperti program sekolah ramah anak, pengembangan pendidikan karakter yang diatur dalam peraturan presiden, ternyata belum operasional dan implementatif.

“Semua itu seperti sia-sia ketika menghadapi kasus seperti saat ini. Pendidikan belum menyentuh relung akal budi anak didik. Dalam kasus ini, para perundung tak sadar bahwa tindakannya membahayakan orang lain dan juga masa depannya sendiri,” ujar Anggi Afriansyah, peneliti Bidang Pendidikan Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis (11/4/2019), di Jakarta, menanggapi kasus kekerasan yang dialami siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat dengan pelaku siswa SMA.

Anggi menilai proses hukum tentu perlu dilakukan dan prosedur hukum harus dijalankan. Ia menegaskan, perundungan merupakan persoalan laten, sudah sangat mengakar dan tidak bisa diabaikan. Kasusnya sudah banyak, demikian pula korbannya. Pelakunya bisa siapa saja, biasanya diawali kekerasan verbal yang diikuti kekerasan fisik.

Perundungan merupakan persoalan laten, sudah sangat mengakar dan tidak bisa diabaikan.

“Di era medsos (media sosial) (perundungan) kemudian beralih dalam bentuk cyber bullying. Dalam banyak kasus ini menjadi lebih mengerikan karena terekam di medsos dan dibaca banyak orang. Sayangnya, seringkali publik baru guncang dan aware ketika ada kekerasan fisik yang menimbulkan korban. Upaya preventif yang menjadi sangat penting dilakukan,” ujar Anggi.

Hentikan publikasi

Di Jakarta, sejumlah lembaga non pemerintah (NGO) antara lain, Aliansi untuk Keadilan yang Memulihkan bagi Anak, ICJR, ILRC, YLBHI, LBH Jakarta, Institut Perempuan Bandung, Yayasan Pulih,MaPPI FHUI,PKBI, Jaringan AKSI, Alinasi PKTA, pAsah kahanJAK, PWAG Indonesia, KePPaK Perempuan, PP3M, Biro Hukum, Perempuan dan Anak – Negeriku Indonesia Jaya, LBH APIK Jakarta, ECPAT Indonesia, dan lain-lain, meminta semua media terutama media sosial, masyarakat, dan aparat penegak hukum menghentikan publikasi yang berlebihan terkait kasus yang terjadi di Pontianak.

Identitas anak, anak korban, dan/atau anak saksi wajib dirahasiakan dalam pemberitaan di media cetak atau pun elektronik. Identitas meliputi nama anak pelaku, nama anak korban, nama anak saksi, nama orangtua, alamat, wajah, dan hal lain yang dapat mengungkapkan jati diri anak pelaku, anak korban, dan/atau anak saksi.

Mereka menyesalkan adanya keterangan pers kepada media massa yang dilakukan Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) setempat yang menghadirkan anak-anak pelaku kekerasan, begitu juga kepolisian yang menampilkan korban di hadapan media.

Dalam proses hukum aparat penegak hukum diharapkan mengedepankan hak-hak anak dalam kasus yang terjadi di Pontianak. Karena baik korban maupun pelaku, sama-sama adalah anak. Pemenjaraan tidak akan membuat korban dan pelaku anak lebih baik

Untuk itu, mereka mendorong adanya penyelesaian kasus tersebut melalui diversi, yakni penyelesaian melalui pendekatan restorative justice (keadilan restoratif). “Diversi bukan berarti tidak ada penghukuman, bukan berarti menghilangkan pertanggungjawaban pidana dan memaksakan korban untuk berdamai,” ujar Maidina Rahmawati, dari Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).

Diversi bukan berarti tidak ada penghukuman, bukan berarti menghilangkan pertanggungjawaban pidana dan memaksakan korban untuk berdamai.

Langkah diversi dilakukan, untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Dalam proses tersebut peran pembimbing kemasyarakatan penting untuk diperhatikan, untuk menggali kerugian yang ditimbulkan oleh pelaku anak, dan harus mendorong pemenuhan hak anak korban, termasuk mengupayakan ganti rugi bagi korban.

Diversi dapat berbentuk pengembalian kerugian dalam hal ada korban, rehabilitasi medis dan psikososial,  penyerahan kembali kepada orangtua/wali, keikutsertaan dalam pendidikan atau pelatihan di lembaga pendidikan, atau pelayanan masyarakat paling lama tiga  bulan.

“Dengan demikian proses diversi bukan berarti pelaku anak bebas dari perbuatan yang dilakukannya. Keadilan untuk pelaku anak yang dicapai melalui proses diversi sejalan dengan keadilan bagi korban untuk didengarkan suaranya,” tambah Siti Aminah dari The Indonesian Legal Resource Center (ILRC).

Pada bagian lain, NGO meminta agar kepolisian dan LPSK segera berkoordinasi untuk menjamin hak atas perlindungan korban termasuk hak atas restitusi, termasuk dengan melibatkan Komnas Perempuan. Masyarakat mengawal proses diversi kasus ini agar mencapai tujuannya yaitu pelaku anak bertanggungjawab dan korban terpulihkan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) juga menyatakan akan mengawal kasus penganiayaan anak di Kota Pontianak, serta membantu menemukan jalan terbaik bagi korban dan pelaku yang sama-sama masih berusia anak.

“Korban akan terus mendapatkan penanganan dalam bentuk trauma healingdari psikolog. Sementara pihak rumah sakit berencana akan melakukan hypnotherapy bagi korban. Kementerian PPPA berharap agar korban mendapatkan proses pemulihan terbaik,” ujar Sekretaris Menteri PPPA Pribudiarta N Sitepu.

Editor:YOVITA ARIKA

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: