Anak Sakit dan Ketegangan yang Menyertainya

Sejak minggu anak kami demam. Dua hari, sabtu dan minggu, sepertinya dia terlalu berlebihan ketika bermain. Sejak minggu pagi matanya menyipit, pertanda bahwa sesungguhnya dia sudah tidak enak badan. Tetapi, ya dasar anak kecil, dia tetap aktif, lari sana sini, sulit sekali diminta istirahat. Dan sore harinya pun badannya mulai hareeng. Suhunya masih kisaran 37. Masih aman.

Ternyata demamnya berlanjut. Dina kemudian mengontak dokter anak favorit kami. Beliau adalah dokter yang sangat baik. Semenjak diberi rekomendasi oleh Mba Sita kami tak pernah bisa berpaling dari Sang Dokter yang baik hati ini. Dari dulu, setiap sakit kami selalu mendatanginya. Tidak hanya sakit, imunisasi juga ke beliau. Pembawaannya yang santai dan tidak membuat tegang membuat kami selalu mendapatkan ketenangan ketika membawa Raje berobat ke beliau. Hingga usia dua tahun, ketika kami masih banyak di Bogor, ia adalah tumpuan terbaik kami.

Bahkan sampai kami tinggal di Bekasi. Setiap Raje sakit, ketika bisa pulang ke Bogor kami selalu berusaha mendatangi sang dokter. Jujur, hingga kini kami belum mendapatkan dokter anak yang menenangkan. Meski belakangan, ada satu dokter anak yang relatif menenangkan. Tetapi tetap saja Bu Dokter yang praktik di Hermina Bogor dan Pertamedika Sentul ini adalah yang terbaik bagi kami.

Dina, sering sekali WA ke Bu Dokter ini ketika Raje sakit. Seperti biasa ia selalu menenangkan. Ketika Raje sakit kemarin, Dina coba WA Bu Dokter favorit kami. Seperti biasa responnya sangat cepat. Ia menyarankan obat yang bisa diminum dan menyarankan agar Raje tidak ke klinik atau RS dahulu. Jika kondisinya tidak membaik dalam 72 jam baru ibu ke dokter, itu sebutnya. Ia pun bilang, silakan ibu hubungi saya jika ada apa-apa. Selama tiga hari, Raje terus berkomunikasi. Hingga di jumat pagi, karena panas Raje naik turun, meski tidak pernah melampaui panas tertinggi, 39,2, Dina kembali menghubungi sang dokter. Bawa ke dokter, sebutnya. Itu lebih baik.

Karena terbentang jarak dan situasi yang tidak memungkinkan untuk ke Bogor akhirnya kami ke Hermina Grand Wisata. Dari beberapa pertemuan, dokter yang kami datangi juga menenangkan. Jadi kami memilihnya. Setelah mendaftar kami bertanya prosedur apa yang harus kami lalui jika ingin ke Rumah Sakit.

Costumer Service yang menerima telpon kami menyatakan bahwa ada prosedur yang harus dilakukan. Pertama pasien hanya bisa diantar satu orang dan sebelum masuk akan ada cek awal oleh dokter dan perawat.

Kami pun bersiap. Jujur agak degdegan. Pertama, deg-degan dengan kondisi anak kami, meski pagi itu dia sudah tidak demam, tapi kami khawatir di siang nanti ia kembali demam. Raje pucat sekali. Meski dia tetap aktif dan makan minumnya masih banyak. Tapi ya tetap saja tegang. Kedua, tegang untuk ke rumah sakit. Selama 2 minggu WFH, pergi keluar untuk membeli keperluan sehari-hari kami tegang apalagi harus ke rumah sakit.

Kami pun bersiap. Masker dan hand sanitizer kami siapkan. Bundanya yang akan mengawal Raje sampai periksa. Saya akan menunggu di luar. Waktunya tiba. Ketika di RS sebelum masuk Dina dan Raje dicek suhu tubuh, diminta cuci tangan, dan diwawancarai. Proses wawancara antara lain terkait gejala-gejala Covid-19, apakah kami masih bekerja atau stay at home, apakah dalam beberapa hari ke belakang pernah ke daerah zona merah, ke luar negeri, atau mendapat kunjungan dari orang lain. Karena semua pertayaan dijawab tidak maka Raje dan Bundanya boleh masuk.

Di dalam rumah sakit, menurut cerita istri, suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa pasien yang datang. Tempat duduknya sudah diberi silang, tanda harus ada jarak ketika duduk. Ketika bertemu dengan dokter, ia Raje menggunakan APD. Dokter menyebut bahwa sementara ini tidak dibolehkan memeriksa tenggorokan. Jadi anak kami diminta langsung cek darah, untuk mengecek DB atau tidak. Setelah menunggu sambil deg-degan, akhirnya hasil tes keluar. Negatif, alhamdulillah. Setelah itu, Raje diberi obat. Lega.

Tapi, itulah anak-anak. Setelah dari dokter, meski belum meminum obat yang diresepkan, ia sudah kembali membaik. Suhunya normal. Makannya kembali banyak. Sepertinya, jika kami tak membawanya ke dokter dia akan baik-baik saja. Tapi, dengan ke dokter, setelah diperiksa, dan sampan periksa darah, kami merasa lebih lega.

Dari suasana dan situasi yang kami rasakan ketika membawa Raje ke RS. Kami merasa betapa para petugas kesehatan seperti dokter dan perawat, juga para pendukungnya seperti bagian administrasi sampai petugas kebersihan telah berjuang sekuat tenaga di masa pandemi ini. Di saat kita diminta untuk diam di rumah, mereka meninggalkan orang-orang yang dicintai untuk tetap bekerja. Memastikan agar orang-orang yang sakit tetap tertangani dengan baik. Dengan risiko yang menghadang di depan mata.

Istri pernah bercerita tentang salah satu temannya yang baru saja menikah  dan harus berpisah dengan istrinya selama masa pandemi ini. Suaminya mengontrak di tempat lain karena khawatir. Membayangkannya saja sudah sedih.

Di beberapa berita, kita juga lihat para dokter dan perawat yang gugur menjadi syuhada di masa pandemi ini. Ada juga orang-orang positif Covid-19 yang ditolak dimakamkan di beberapa tempat. Kisah-kisah tersebut, tercatat dan terus terjadi.

Ketegangan yang kami rasakan tidak ada apa-apanya dibanding oleh mereka yang berjuang di garda depan.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Semoga kita selalu sehat.

Cimuning, 12 April 2020

 

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: