Perjalanan Awal Perisai Diri MAN Cipasung: Sebuah Memoar Singkat

Salam Bunga Sepasang,

Bicara Perisai Diri MAN Cipasung berarti bicara mengenai Almarhum Kang Aip Suhara. Ia adalah pelatih sekaligus perintis bagi keberadaan Perisai Diri di MAN Cipasung. Perisai Diri ketika itu (tahun 2002) adalah salah satu bagian dari ekstrakurikuler di MAN Cipasung.

Saya mungkin bisa dianggap sebagai generasi pertama Perisai Diri di MAN Cipasung. Meskipun sebelum saya masuk, sudah ada beberapa siswa MAN Cipasung yang lebih awal bergabung. Mereka lebih awal enam bulan berlatih. Seingat saya mereka adalah Wahyu Hadi Kusuma, Taufikurrohim, Ismet, Efa dan Haeti. Masih ada nama lainnya, namun saya tak bisa mengingatnya secara detil. Saya masuk berbarengan dengan Andriyana Maryadi, M. Arlan Akbar dan Jajang. Walaupun kemudian hanya saya dan Andriyana yang aktif di Perisai Diri sampai lulus dari Aliyah. Andriyana adalah Ketua Perisai Diri Ranting MAN Cipasung dan saya adalah Bendaranya.

Jadwal latihan Perisai Diri MAN Cipasung ketika itu dilaksanakan setiap hari Jumat, tepatnya setelah Shalat Jumat. Latihan biasanya diadakan setiap hari jumat. Hari jumat adalah hari di mana kegiatan aktivitas pengajian sore diliburkan. Pelatihnya adalah Kang Aip Suhara. Beberapa senior biasanya ikut berlatih, mereka adalah siswa di sekolah lain yang sudah lebih awal bergabung dengan Perisai Diri Cabang Kab. Tasikmalaya. Yang bisa saya ingat antara lain: Kang Wandi, Kang Asep Deni, Teh Selvi, Kang Elan, dan Kang Dicky, Kang Dadan, Ai dan lainnya. Setahun kemudian saya kenal Kang Firman. Alhamdulillah, Kang Wandi lah yang saat ini menjadi pelatih Perisai Diri di MAN Cipasung melanjutkan tongkat estafet dari Kang Aip Suhara. 

Ada beberapa hal yang saya pelajari selama mengikuti Perisai Diri di Cipasung antara lain bagaimana kita harus selalu rendah hati dan tidak merasa sombong walaupun sudah berlatih silat. Kalau kata alm. Kang Aip, “tong kawas boga bisul di kelek“, maksudnya jangan seperti punya bisul di ketiak. Artinya jangan mentang-mendang berlatih bela diri maka dari gaya jalan sudah sok gagah dan merasa paling jagoan. Tong sok polontong (sombong), kata Kang Aip.

Sikap tersebut mendarah daging di anggota Perisai Diri. Dari yang saya tahu para pesilat PD yang memiliki prestasi bagus adalah pribadi yang ramah, baik hati, dan tidak sombong. Tidak senior yang mendominasi, merundung atau bahkan mengintimidasi. Yang dibangun oleh Kang Aip ketika itu adalah suasana kekeluargaan. Tidak ada perpeloncoan yang dilakukan oleh senior ke junior.

Meski senang bercanda, jangan harap kita bisa bercanda dalam setiap latihan. Kang Aip biasanya begitu tegas dan serius dalam setiap sesi latihannya. Begitu juga senior-senior yang membantu Kang Aip melatih. Mereka sepenuh hati mengawal setiap latihan.

Banyak suka duka selama menjadi anggota Perisai Diri MAN Cipasung. Saya beruntung mengikuti beberapa kali pertandingan selama mengikuti Perisa Diri. Pertandingan yang pernah saya ikuti antara lain Pekan Olah Raga Pesantren Nasional (POSPENAS) tingkat Priangan Timur di Garut, Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten di Jakarta Timur, Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten di Purwakarta, POPWIL tingkat Priangan Timur di Bandung, dan POPDA Jabar di Bandung. Saya pernah meraih Juara Satu Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat Banten di Purwakarta, Juara dua POPWIL di Bandung, dan Juara Tiga POPDA Jabar di Jawa Barat. Biasanya ada tahapan seleksi dari level kabupaten menuju wilayah Priangan Timur dan Provinsi.

Saya ingat, jika pertandingan di internal Perisai Diri (seperti Sirkuit DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten) biasanya kami mengandalkan operasional pribadi. Menggunakan bis umum untuk mencapai lokasi pertandingan, tidur dan makan seadanya. Namun itu semua begitu menyenangkan. Apalagi jika sampai meraih juara. Saya ingat saat bertanding di Jakarta Timur dan Purwakarta, kami harus berdesak-desakan tidur di lantai. Beda ceritanya jika bertanding mewakili Kabupaten Tasikmalaya. Kami bisa tidur di hotel (bukan yang mewah) atau biasanya di barak militer. Pernah, pada saat mewakili Kab. Tasikmalaya di Bandung untuk kegiatan Pekan Olah Raga Pelajar Wilayah (POPWIL), kami kontingen Pencak Silat tidak diberikan baju maupun jaket seperti kontingen dari daerah lainnya. Jadi kostum yang kami kenakan adalah pakain silat hitam dan kaki tanpa alas alias nyeker.

Perjuangan selama menjadi anggota Perisai Diri MAN Cipasung begitu mengesankan. Kami dilatih menjadi pesilat yang tangguh ketika bertanding, namun menjadi pribadi yang berkarakter. Latihan ini tentu saja sesuai dengan wejangan atau pesan dari Pendiri Perisai Diri Raden Mas Soebandiman Dirjo Atmodjo “tujuan berlatih silat adalah untuk memelihara kesehatan, keselamatan, dan kepercayaan diri sendiri. Dilarang untuk berkelahi, sombong, mencari musuh dan berbuat apapun yang akan mengakibatkan tidak baik untuk diri pribadi maupun pihak lain. Pokoknya semua itu untuk keselamatan dan kebaikan budi. Itulah PERISAI DIRI yang ampuh”.

Pesan agung dari sang pendiri Perisai Diri itulah yang wajib menjadi pegangan kita bersama. Saya berharap tentu saja, saat ini Perisai Diri MAN Cipasung tetap berjaya mengharumkan nama baik sekolah dengan memberikan prestasi-prestasi terbaiknya.

Salam Akhir

* Alumni MAN Cipasung (2002-2005), Anggota Perisai Diri MAN Cipasung (2002-2005).

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: