Nama Saya Anggi Afriansyah

Ketika kecil, bapak tidak pernah cerita, kenapa saya diberi nama Anggi. Dan saya tidak pernah sadar bahwa nama “Anggi” itu lebih banyak digunakan oleh perempuan.

Yang saya tahu ketika kecil tidak pernah ada nama pemain Persib Bandung, klub favorit bapak, yang bernama Anggi. Bahkan tidak ada pemain sepak bola yang namanya Anggi, ini setahu saya ketika kecil dulu. Tapi teman-teman saya tidak ada yang pernah meledek atau merundung soal nama sih. Di sekolah pernah ada juga teman yang bernama Anggi Agustian, dan dia seorang lelaki.

Di SMP baru saya sadar bahwa nama Anggi lebih banyak dipakai orangtua untuk menamai anak perempuan. Cilakanya, di absen SMP jenis kelamin saya selalu P (Perempuan). Di dunia kerja, semasa menjadi guru dan mengikuti beberapa pelatihan, beberapa kali saya ditempatkan sekamar dengan Ibu-ibu karena nama saya.

Atau sekarang seringnya ketika abang Gojek menyapa saya ketika ia mau menjemput. Mau dijemput di mana Mba?. Sampai saya mengganti nama menjadi Afriansyah. Karena nama di aplikasi gojek si Abang adalah Anggia.

Selain itu, meski sudah jelas foto profil FB dan media sosial lainnya ataupun WA saya adalah foto lelaki, seringkali saya dipanggil Mba atau Ibu. Kalau tidak penting-penting banget seringkali tidak saya jelaskan bahwa saya lelaki. Tetapi jika harus kontak berkali-kali saya akan jelaskan, “maaf saya lelaki, Mas, Mba, Bu, Pak”. Tentu saja ketika menuliskan penjelasan tersebut ada perasaan aneh.

Ketika sudah agak besar saya bertanya, sebetulnya apa arti nama saya, dan mengapa saya diberi nama Anggi bukan Angga, bukan Adi, bukan nama-nama lainnya. Pertanyaan ini saya hadirkan setelah salah satu guru olahraga di SMP bertanya apakah Bapak saya menyukai The Rolling Stones? Selain juga salah satu teman saya menanyakan hal yang sama. Saya tak bisa menjawab, karena saya tak tahu makhluk macam apa itu The Rolling Stones. Saya hanya tahu Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih. Paling banter grup band dalam negeri yang hits ketika SMP seperti Dewa 19, Sheila On 7, Padi, Slank dsb.

Bapak pun tak menjawab iya. Saya yakin beliau tak kanal siapa itu The Rolling Stones. Jawaban pertanyaan guru dan teman saya terjawab setelah saya besar. Tepatnya ketika ada kasus Angelina Sondakh. Ada media yang mempertanyakan kasus tersebut dengan mengutip lagu The Rolling Stones yang berjudul Angie, “Angie, you’re beautiful, but ain’t it time we said goodbye?” Saya baru tahu, oh ini yang membuat guru dan teman saya bertanya mengapa nama saya Anggi.

Anggi menurut Bapak berasal dari kata Anggrek. Apakah bapak terinspirasi dari nama bunga Anggrek. Ternyata tidak saudara-saudara. Anggrek adalah nama sekolah di mana Ibu saya mengabdi bertahun-tahun sebagai guru. Tempat di mana kami tinggal selama puluhan tahun, di perumahan sekolah yang hanya punya satu kamar itu. Entah bagaimana dari Anggrek menjadi Anggi. Ini saya tanyakan, dan Bapak tak pernah menjawab dengan jelas. Afriansyah dicuplik dari April. Karena saya lahir bulan April. Kenapa menggunakan F bukan P? Alasannya jelas, Bapak dan Mamah orang sunda. Nama adik saya pun ada unsur Fnya. Syah, menandakan bahwa saya sah dan asli anak Bapak dan Mamah. Itu saja katanya.

Dalam absen nama saya pun sering salah. Anggi Apriansyah. Di Ijazah SD juga tertulis Anggi Apriansyah. Karena Bapak ahli menulis ijazah dengan tulis tangan, “p” nya kemudian dikerik menjadi “f”. Di sertifikat lainnya beberapa kali nama saya berubah menjadi Anggi Firmansyah. Entah dari mana nama itu berasal. Satu yang menyenangkan dari nama Anggi Afriansyah adalah ketika seorang teman di Aliyah bercerita, bahwa secara hitungan (entah hitungan apa) nama saya itu membawa keberuntungan. Ya, semoga saja demikian. Saya anggap itu merupakan doa. Nama ini jelas pusaka dari orangtua saya.

Mengapa saya menulis soal ini? Karena tiba-tiba di blog ada yang menyapa saya dengan sapaan Mba. Padahal jelas di foto blog tersebut wajah saya tidaklah cantik.

Selamat bermalam minggu.

Cimuning, 29 Mei 2020

Anak Sakit dan Ketegangan yang Menyertainya

Sejak minggu anak kami demam. Dua hari, sabtu dan minggu, sepertinya dia terlalu berlebihan ketika bermain. Sejak minggu pagi matanya menyipit, pertanda bahwa sesungguhnya dia sudah tidak enak badan. Tetapi, ya dasar anak kecil, dia tetap aktif, lari sana sini, sulit sekali diminta istirahat. Dan sore harinya pun badannya mulai hareeng. Suhunya masih kisaran 37. Masih aman.

Ternyata demamnya berlanjut. Dina kemudian mengontak dokter anak favorit kami. Beliau adalah dokter yang sangat baik. Semenjak diberi rekomendasi oleh Mba Sita kami tak pernah bisa berpaling dari Sang Dokter yang baik hati ini. Dari dulu, setiap sakit kami selalu mendatanginya. Tidak hanya sakit, imunisasi juga ke beliau. Pembawaannya yang santai dan tidak membuat tegang membuat kami selalu mendapatkan ketenangan ketika membawa Raje berobat ke beliau. Hingga usia dua tahun, ketika kami masih banyak di Bogor, ia adalah tumpuan terbaik kami.

Bahkan sampai kami tinggal di Bekasi. Setiap Raje sakit, ketika bisa pulang ke Bogor kami selalu berusaha mendatangi sang dokter. Jujur, hingga kini kami belum mendapatkan dokter anak yang menenangkan. Meski belakangan, ada satu dokter anak yang relatif menenangkan. Tetapi tetap saja Bu Dokter yang praktik di Hermina Bogor dan Pertamedika Sentul ini adalah yang terbaik bagi kami.

Dina, sering sekali WA ke Bu Dokter ini ketika Raje sakit. Seperti biasa ia selalu menenangkan. Ketika Raje sakit kemarin, Dina coba WA Bu Dokter favorit kami. Seperti biasa responnya sangat cepat. Ia menyarankan obat yang bisa diminum dan menyarankan agar Raje tidak ke klinik atau RS dahulu. Jika kondisinya tidak membaik dalam 72 jam baru ibu ke dokter, itu sebutnya. Ia pun bilang, silakan ibu hubungi saya jika ada apa-apa. Selama tiga hari, Raje terus berkomunikasi. Hingga di jumat pagi, karena panas Raje naik turun, meski tidak pernah melampaui panas tertinggi, 39,2, Dina kembali menghubungi sang dokter. Bawa ke dokter, sebutnya. Itu lebih baik.

Karena terbentang jarak dan situasi yang tidak memungkinkan untuk ke Bogor akhirnya kami ke Hermina Grand Wisata. Dari beberapa pertemuan, dokter yang kami datangi juga menenangkan. Jadi kami memilihnya. Setelah mendaftar kami bertanya prosedur apa yang harus kami lalui jika ingin ke Rumah Sakit.

Costumer Service yang menerima telpon kami menyatakan bahwa ada prosedur yang harus dilakukan. Pertama pasien hanya bisa diantar satu orang dan sebelum masuk akan ada cek awal oleh dokter dan perawat.

Kami pun bersiap. Jujur agak degdegan. Pertama, deg-degan dengan kondisi anak kami, meski pagi itu dia sudah tidak demam, tapi kami khawatir di siang nanti ia kembali demam. Raje pucat sekali. Meski dia tetap aktif dan makan minumnya masih banyak. Tapi ya tetap saja tegang. Kedua, tegang untuk ke rumah sakit. Selama 2 minggu WFH, pergi keluar untuk membeli keperluan sehari-hari kami tegang apalagi harus ke rumah sakit.

Kami pun bersiap. Masker dan hand sanitizer kami siapkan. Bundanya yang akan mengawal Raje sampai periksa. Saya akan menunggu di luar. Waktunya tiba. Ketika di RS sebelum masuk Dina dan Raje dicek suhu tubuh, diminta cuci tangan, dan diwawancarai. Proses wawancara antara lain terkait gejala-gejala Covid-19, apakah kami masih bekerja atau stay at home, apakah dalam beberapa hari ke belakang pernah ke daerah zona merah, ke luar negeri, atau mendapat kunjungan dari orang lain. Karena semua pertayaan dijawab tidak maka Raje dan Bundanya boleh masuk.

Di dalam rumah sakit, menurut cerita istri, suasananya sepi sekali. Hanya ada beberapa pasien yang datang. Tempat duduknya sudah diberi silang, tanda harus ada jarak ketika duduk. Ketika bertemu dengan dokter, ia Raje menggunakan APD. Dokter menyebut bahwa sementara ini tidak dibolehkan memeriksa tenggorokan. Jadi anak kami diminta langsung cek darah, untuk mengecek DB atau tidak. Setelah menunggu sambil deg-degan, akhirnya hasil tes keluar. Negatif, alhamdulillah. Setelah itu, Raje diberi obat. Lega.

Tapi, itulah anak-anak. Setelah dari dokter, meski belum meminum obat yang diresepkan, ia sudah kembali membaik. Suhunya normal. Makannya kembali banyak. Sepertinya, jika kami tak membawanya ke dokter dia akan baik-baik saja. Tapi, dengan ke dokter, setelah diperiksa, dan sampan periksa darah, kami merasa lebih lega.

Dari suasana dan situasi yang kami rasakan ketika membawa Raje ke RS. Kami merasa betapa para petugas kesehatan seperti dokter dan perawat, juga para pendukungnya seperti bagian administrasi sampai petugas kebersihan telah berjuang sekuat tenaga di masa pandemi ini. Di saat kita diminta untuk diam di rumah, mereka meninggalkan orang-orang yang dicintai untuk tetap bekerja. Memastikan agar orang-orang yang sakit tetap tertangani dengan baik. Dengan risiko yang menghadang di depan mata.

Istri pernah bercerita tentang salah satu temannya yang baru saja menikah  dan harus berpisah dengan istrinya selama masa pandemi ini. Suaminya mengontrak di tempat lain karena khawatir. Membayangkannya saja sudah sedih.

Di beberapa berita, kita juga lihat para dokter dan perawat yang gugur menjadi syuhada di masa pandemi ini. Ada juga orang-orang positif Covid-19 yang ditolak dimakamkan di beberapa tempat. Kisah-kisah tersebut, tercatat dan terus terjadi.

Ketegangan yang kami rasakan tidak ada apa-apanya dibanding oleh mereka yang berjuang di garda depan.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Semoga kita selalu sehat.

Cimuning, 12 April 2020

 

 

Pendidikan Belum Berhasil Jadikan Anak Sebagai Pribadi yang Baik

OlehSONYA HELLEN SINOMBOR

JAKARTA, KOMPAS — Kasus kekerasan seperti perundungan yang terjadi sekolah maupun di luar sekolah yang melibatkan anak-anak menggambarkan bahwa proses pendidikan belum berhasil menjadikan anak menjadi pribadi yang lebih baik. Ekosistem pendidikan saat ini belum menjadikan peserta didik sebagai manusia.

Sejumlah program yang terkait dengan pendidikan seperti program sekolah ramah anak, pengembangan pendidikan karakter yang diatur dalam peraturan presiden, ternyata belum operasional dan implementatif.

“Semua itu seperti sia-sia ketika menghadapi kasus seperti saat ini. Pendidikan belum menyentuh relung akal budi anak didik. Dalam kasus ini, para perundung tak sadar bahwa tindakannya membahayakan orang lain dan juga masa depannya sendiri,” ujar Anggi Afriansyah, peneliti Bidang Pendidikan Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis (11/4/2019), di Jakarta, menanggapi kasus kekerasan yang dialami siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat dengan pelaku siswa SMA.

Anggi menilai proses hukum tentu perlu dilakukan dan prosedur hukum harus dijalankan. Ia menegaskan, perundungan merupakan persoalan laten, sudah sangat mengakar dan tidak bisa diabaikan. Kasusnya sudah banyak, demikian pula korbannya. Pelakunya bisa siapa saja, biasanya diawali kekerasan verbal yang diikuti kekerasan fisik.

Perundungan merupakan persoalan laten, sudah sangat mengakar dan tidak bisa diabaikan.

“Di era medsos (media sosial) (perundungan) kemudian beralih dalam bentuk cyber bullying. Dalam banyak kasus ini menjadi lebih mengerikan karena terekam di medsos dan dibaca banyak orang. Sayangnya, seringkali publik baru guncang dan aware ketika ada kekerasan fisik yang menimbulkan korban. Upaya preventif yang menjadi sangat penting dilakukan,” ujar Anggi.

Hentikan publikasi

Di Jakarta, sejumlah lembaga non pemerintah (NGO) antara lain, Aliansi untuk Keadilan yang Memulihkan bagi Anak, ICJR, ILRC, YLBHI, LBH Jakarta, Institut Perempuan Bandung, Yayasan Pulih,MaPPI FHUI,PKBI, Jaringan AKSI, Alinasi PKTA, pAsah kahanJAK, PWAG Indonesia, KePPaK Perempuan, PP3M, Biro Hukum, Perempuan dan Anak – Negeriku Indonesia Jaya, LBH APIK Jakarta, ECPAT Indonesia, dan lain-lain, meminta semua media terutama media sosial, masyarakat, dan aparat penegak hukum menghentikan publikasi yang berlebihan terkait kasus yang terjadi di Pontianak.

Identitas anak, anak korban, dan/atau anak saksi wajib dirahasiakan dalam pemberitaan di media cetak atau pun elektronik. Identitas meliputi nama anak pelaku, nama anak korban, nama anak saksi, nama orangtua, alamat, wajah, dan hal lain yang dapat mengungkapkan jati diri anak pelaku, anak korban, dan/atau anak saksi.

Mereka menyesalkan adanya keterangan pers kepada media massa yang dilakukan Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) setempat yang menghadirkan anak-anak pelaku kekerasan, begitu juga kepolisian yang menampilkan korban di hadapan media.

Dalam proses hukum aparat penegak hukum diharapkan mengedepankan hak-hak anak dalam kasus yang terjadi di Pontianak. Karena baik korban maupun pelaku, sama-sama adalah anak. Pemenjaraan tidak akan membuat korban dan pelaku anak lebih baik

Untuk itu, mereka mendorong adanya penyelesaian kasus tersebut melalui diversi, yakni penyelesaian melalui pendekatan restorative justice (keadilan restoratif). “Diversi bukan berarti tidak ada penghukuman, bukan berarti menghilangkan pertanggungjawaban pidana dan memaksakan korban untuk berdamai,” ujar Maidina Rahmawati, dari Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).

Diversi bukan berarti tidak ada penghukuman, bukan berarti menghilangkan pertanggungjawaban pidana dan memaksakan korban untuk berdamai.

Langkah diversi dilakukan, untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Dalam proses tersebut peran pembimbing kemasyarakatan penting untuk diperhatikan, untuk menggali kerugian yang ditimbulkan oleh pelaku anak, dan harus mendorong pemenuhan hak anak korban, termasuk mengupayakan ganti rugi bagi korban.

Diversi dapat berbentuk pengembalian kerugian dalam hal ada korban, rehabilitasi medis dan psikososial,  penyerahan kembali kepada orangtua/wali, keikutsertaan dalam pendidikan atau pelatihan di lembaga pendidikan, atau pelayanan masyarakat paling lama tiga  bulan.

“Dengan demikian proses diversi bukan berarti pelaku anak bebas dari perbuatan yang dilakukannya. Keadilan untuk pelaku anak yang dicapai melalui proses diversi sejalan dengan keadilan bagi korban untuk didengarkan suaranya,” tambah Siti Aminah dari The Indonesian Legal Resource Center (ILRC).

Pada bagian lain, NGO meminta agar kepolisian dan LPSK segera berkoordinasi untuk menjamin hak atas perlindungan korban termasuk hak atas restitusi, termasuk dengan melibatkan Komnas Perempuan. Masyarakat mengawal proses diversi kasus ini agar mencapai tujuannya yaitu pelaku anak bertanggungjawab dan korban terpulihkan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) juga menyatakan akan mengawal kasus penganiayaan anak di Kota Pontianak, serta membantu menemukan jalan terbaik bagi korban dan pelaku yang sama-sama masih berusia anak.

“Korban akan terus mendapatkan penanganan dalam bentuk trauma healingdari psikolog. Sementara pihak rumah sakit berencana akan melakukan hypnotherapy bagi korban. Kementerian PPPA berharap agar korban mendapatkan proses pemulihan terbaik,” ujar Sekretaris Menteri PPPA Pribudiarta N Sitepu.

Editor:YOVITA ARIKA

Perlunya keterampilan di bidang pertukangan

WhatsApp Image 2020-03-27 at 15.16.07
Dibantu Menyelesaikan Masalah Kelistrikan

Saya tidak memiliki keterampilan yang memadai di bidang pertukangan Misal pengetahuan saya soal instalasi listrik, air, kendaraan bermotor, juga pertukangan lain sangatlah minim, kalau bisa dibilang nol.

Apakah saya tidak mendapat latihan memadai dari bapak saya? Jelas tidak. Bapak saya adalah sosok yang sangat baik dalam menata rumah. Kelemahannya mungkin soal instalasi listrik. Meski belakangan biasanya dia meminta tolong tukang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Karena saya ingat ketika kecil dulu bapak selalu mengerjakan banyak hal sendiri. Buat kolam ikan, saung, kaligrafi nama (ini bahkan jadi bahan jualan), dan pekerjaan pertukangan lainnya. Ia juga orang sangat rajin bebenah rumah. Berkebalikan dengan saya yang rajin rebahan setiap liburan.

Bapak bukan orang yang banyak bicara. Dia menunjukkan banyak hal lewat perbuatannya. Saya jadi ingat di salah satu Drama Korea yang saya tonton, entah apa judulnya dan saya menyetujui perkataan tersebut, bahwa seorang anak belajar menyaksikkan dari balik punggung orangtuanya. Intinya perbuatan adalah yang utama, bukan kata-kata. Dan itu Bapak dan mama lakukan.

Kembali soal pertukangan. Ketika kita menguasai banyak hal soal pertukangan itu sesungguhnya akan memudahkan hidup. Listrik mati, motor tidak bisa jalan, ada genteng bocor, keran air patah, torn air tidak berfungsi, dan lain sebagainya adalah perkara ringan bagi sebagian besar orang. Tetapi tidak bagi saya. Keterampilan saya soal itu sangatlah minim. Dari dulu saya malas mengurus hal-hal tersebut. Tidak ada minat sama sekali. Dan berpikir lebih baik memanggil orang yang ahli untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Sekarang selain memanggil tukang yang ahli, kadang saya meminta bantuan salah satu tetangga kami yang ahli berbagai hal. Dia bisa soal instalasi listrik, membenarkan pintu, jetpam, dan perbengkelan dan lainnya. Sakti pokoknya. Kapan pun butuh bantuan dia selalu datang membantu. Semua masalah beres, tuntas.

Ternyata, ketidakmampuan saya itu berdampak ketika saya memulai kehidupan rumah tangga. Ternyata, ketika kita tinggal mandiri ada saja hal yang harus diperbaiki. Tanpa skill yang memadai berbagai persoalan tersebut tentu menjadi beban. Gagang pintu bermasalahpun saya tidak bisa menggantinya. Padahal kadang, masalahnya sepele. Di tangan ahlinya dalam hitungan menit semua bisa diperbaiki. Merakit kipas angin, lemari buku, atau berbagai lemari (yang sudah ada manualnya pun) bukan perkara mudah bagi saya. Istri saya lebih canggih dan sering gereget melihat saya yang kesulitan dan berlama-lama menyelesaikan rakitan (dengan berkeringat dan mudah menyerah).

Apalagi Papah, bapaknya istri, adalah orang yang bisa semua hal. Dia juga punya semua perkakas elektronik juga pertukangan. Mengerti soal listrik, elektronik, perbengkelan, dan pertukangan. Maka jika datang ke rumah kedua orangtua kami selalu mengontrol rumah. Ada saluran listrik yang bermasalahkah? pintu yang engselnya lepas, tembok retak, atau tanaman yang belum dipotong. Biasanya sebelum mereka datang kami request beberapa hal yang perlu diperbaiki. Memang jenis anak tidak tahu malu. Tapi mereka tetap saja dengan senang hati mengecek semua hal bagi kami.

Makanya, saya pribadi, ketika bisa menyelesaikan persoalan di rumah secara mandiri rasanya kok bangga sekali. Misal air tidak bisa naik, saya berusaha cari cara kenapa air tersebut tidak naik. Beruntunganya semua jawaban atas setiap permasalahan terkait pertukangan ada di youtube. Ketika air tidak naik berarti harus dipancing. Itu jelas pengetahuan mudah dan umum. Tapi ya jelas saya tidak mengerti. Dan youtube lah pembantu saya menyelaikan persoalan. Pernah juga air tidak nyala. Sudah dipancing tidak nyala juga. Saya kemudian naik mengecek penampung air. Ternyata pemberat airnya putus. Bagi banyak orang tentu itu perkara mudah. Bagi saya itu perkara sulit. Butuh waktu untuk membongkar dan mengaitkan tali pemberatnya. Dan ketika selesai, duh berasa bangga sekali. Receh sekali memang.

Atau, ketika musim bakar sate di waktu idul adha. Saya bukan pengamat yang baik. Ketika idul adha biasanya kerjaan saya kipas-kipas saja. Atau lebih banyaknya ya tinggal makan satenya saja. Yang mengerjakan semua ya bapak saya. Duh durhaka sekali. Tapi seperti saya bilang, bapak tidak pernah menyuruh saya ini dan itu. Dia hanya mencontohkan. Dan saya anak yang kurang baik, jadi saya lebih banyak rebahan kalau di rumah. Efek buruknya ya sekarang ini. Saya tidak bisa jadi bapak yang mencontohkan ini dan itu ke anak saya kecuali kebiasaan membaca. Ini juga bukan suatu kebanggaan sih.

Soal bakar-bakaran saja saya lemah. Nah ternyata tentangga saya tidak ada yang tahu cara membuat api menyala tanpa menggunakan minyak tanah. Waduh. Parah sekali anak-anak muda tentangga saya itu, termasuk saya. Untung ada youtube. Dari youtube saya tahu caranya adalah menggunakan minyak sayur dan tissue. Lagi-lagi ini pengetahuan receh dan saya yakin banyak yang tahu. Dan setelah mengikuti youtube, maka arang pun terbakar. Pembakaran sate pun berjalan dengan hikmat dan lancar. Terima kasih youtube.

Soal motor yang mogok pun saya tidak terlalu ahli. Youtubelah tempat bertanya. Karena di sana beragam tutorial dihadirkan. Meski kadang saya hanya bisa bongkar, sesekali bisa pasang, selebihnya tidak bisa terpasang dengan baik.

Keahlian saya ya hanya gogoleran dan rebahan sambil baca komik. Ketika menikah saya baru sadar itu jelas bukan suatu keahlian. Oya, keahlian saya sekarang adalah berusaha untuk tidak membuat rumah berantakan. Itupun karena istri saya sangat tertib soal kerapihan dan kebersihan rumah. Kontribusi saya adalah tidak membuat semuanya berantakkan. Dan itu pun sangat sulit apalagi saya memiliki patner dalam berbuat kriminal dalam membuat semua sudut rumah berantakan. Siapa dia? Dia adalah anak kami.

Dan tahu sendiri, ketika Work From Home (WFH) selama dua minggu ini berjalan istri sayalah yang paling sakit kepala. Karena, saya dan Raje berkolaborasi membuat rumah menjadi berantakan. Betapa sulit hidup istri saya di era WFH ini. Karena kami membuat jejak berantakan di mana-mana.

Tak salah memang jika di Finlandia ada pelajaran soal ketermpilan rumah tangga. Ini jelas hal yang perlu dilakukan. Kalau tidak salah Ki Hadjar Dewantara pun menganjurkan keterampilan-keterampilan hidup macam ini. Soal-soal tersebut adalah bagian penting dalam bertahan hidup.

Agenda Pendidikan untuk Masa Depan

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development 2018 berjudul The Future of Education and Skills Education 2030 memaparkan beberapa kapabilitas yang perlu dikokohkan ke personal anak-anak. Pertama, rasa ingin tahu, imajinasi, daya tahan, dan kemampuan mengatur diri secara mandiri. Kedua, kemampuan menghormati, menghargai gagasan, perspektif, dan nilai-nilai orang lain. Ketiga, kemampuan mengatasi kegagalan dan penolakan. Keempat, kemampuan bergerak maju untuk menghadapi beragam kesulitan.

Kemampuan-kemampuan tersebut harus dapat diaplikasikan oleh siswa dalam berbagai situasi dan kondisi. Kapabilitas tersebut perlu diinternalisasikan sehingga menjadi inheren dalam diri anak-anak bangsa. Meskipun demikian, berbagai kapabilitas yang coba diinternalisasikan di ruang pendidikan tersebut juga perlu diimbangi dengan semangat pendidikan yang responsif terhadap lokalitas kultural dan alam Nusantara yang sangat kaya.

Kita semua mafhum, masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan alam yang kaya. Dari situ beragam pengetahuan dibangun sebagai mekanisme survival menghadapi alamnya masing-masing. Begitu banyak stock of knowledge yang berserakan di masyarakat yang sesungguhnya dapat menjadi mutiara yang begitu bagus untuk dipelajari anak-anak.

Tetapi, pendidikan di negeri ini, terutama pendidikan formal, sangat kurang porsinya dalam mengakomodasi keragaman pengetahuan atau sering disebut kearifan lokal yang terserak di masyarakat tersebut. Bahkan dalam tensi yang paling buruk, pendidikan di persekolahan (pendidikan formal) cenderung mendegradasi pengetahuan anak-anak tentang lingkungan alam dan sosial budayanya.

Perubahan paradigma dalam pembangunan pendidikan di negeri ini menjadi hal yang niscaya. Apalagi masih lazim kita temui di berbagai tempat yang masih memposisikan anak sebagai objek bukan sebagai subjek pendidikan. Menempatkan mereka sebagai gelas kosong yang harus diisi pengetahuan sebanyak-banyaknya tanpa melihat realitas faktual di sekitarnya. Lembaga pendidikan baik formal, non-formal, dan informal harus mengubah cara pandang.

Menghargai Pengetahuan Lokal

Dalam konteks Indonesia, pendidikan yang memperhatikan kondisi global tetapi tetap menghargai pengetahuan-pengetahuan lokal yang begitu kaya dan terserak di Nusantara perlu diarusutamakan.

Anak seringkali dipacu untuk belajar sesuatu yang begitu berbeda dengan realita kesehariannya. Orientasi persekolahan menuju ke modernitas dan menjauh dari alam. Padahal di banyak tempat di Indonesia situasi alam dan lingkungan kultural merupakan sumber pembelajaran terbaik yang justru dipinggirkan. Kondisi yang menunjukkan seolah ada benteng yang memisahkan dunia persekolahan dengan alam sekitar.

Indonesia yang begitu kaya alam dan sosio-kulturalnya membutuhkan pendidikan yang memberikan keleluasaan anak didik berkembang berdasar potensi diri dan alam di sekitarnya. Lembaga pendidikan sepatutnya tidak membawa anak-anak menjauh dari jati diri kultural, alam, dan sosialnya. Apalagi Indonesia begitu beragam baik dari situasi geografis, kultural, agama, ataupun kelas sosialnya.

Finlandia dapat dirujuk untuk menerapkan pendidikan yang menghargai keberagaman. Di sana, sekolah diposisikan sebagai bagian dari komunitas. Sekolah sangat menghargai keunikan siswa dan menjamin haknya untuk mendapat pendidikan yang baik. Setiap siswa dihargai pertumbuhannya untuk menjadi manusia yang berpendidikan dan warga negara yang aktif di masyarakat demokratis. Keanekaragaman budaya dijadikan sumber kekayaan dan rujukan untuk memahami kehidupan yang berkelanjutan (Halinen, 2018)

Sayangnya memang pendidikan berbasis sosial budaya ini seolah absen dari realitas pendidikan di negeri ini. Di sinilah peran penting guru sebagai garda terdepan mempraktikkan pendidikan yang menghargai alam dan kultural yang ada di sekitar sekolah. Meskipun memang tidak mudah karena pada praktiknya guru lebih banyak menghabiskan waktunya menyelesaikan berbagai tugas administratif.

Waktu membaca menjadi terbatas apalagi untuk mengeksplorasi lingkungan alam yang ada di sekitarnya tidaklah mudah. Guru harus memiliki imajinasi dan visi pembelajaran yang mumpuni untuk membuat pembelajaran yang mampu mendekatkan anak ke alam dan situasi sosial.

Visi Pemerintah

Pengaplikasian model pendidikan yang lebih mengakomodasi ruang kebebasan bagi anak-anak mengeksplorasi alam dan lingkungan sosial budayanya memang bukan perkara mudah. Perubahan bangunan paradigma pendidikan sangat diperlukan. Apalagi di sisi lain pemerintah cenderung lebih banyak berusaha untuk mengakomodasi standar-standar yang dibangun oleh dunia internasional.

Untuk di tingkatan pendidikan menengah khususnya SMK misalnya muatan lokal dapat dikembangkan sebagai mata pelajaran dapat memancing minat wirausaha anak-anak. Mereka diajak untuk mengembangkan kesenian, pangan lokal, industri kreatif, dan mampu mengkapitalisasinya secara ekonomi sehingga menjadi sumber penghidupan baru menyokong kehidupan industri daerah.

Pemerintah daerah juga harus memetakan kondisi demografi daerah dan memprediksi dunia kerja apa yang dapat dimasuki anak-anak yang saat ini masih ada di bangku sekolah. Jika fokus pemerintah saat ini pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, maka agenda pendidikan yang memperhatikan situasi global tetapi tanggap terhadap lokalitas harus dihadirkan di ruang-ruang pendidikan di negeri ini. Kita perlu menyusun ulang agenda pendidikan ke depan.

Anggi Afriansyah peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Pancasila dalam Perbuatan

PADA 2014, Yudi Latif, intelektual yang begitu telaten menelisik Pancasila merilis buku Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Buku tersebut berisi aktualisasi nilai-nilai Pancasila di dalam realitas keseharian, baik yang dilakukan tokoh-tokoh bangsa di masa silam ataupun masa kini.

Penggunaan istilah ‘Pancasila dalam Perbuatan’, menurut saya, sangatlah penting sebab hingga saat ini Pancasila lebih banyak dijadikan jargon semata, bukan dioperasionalkan dalam kegiatan sehari-hari. Nilai-nilai dari Pancasila belum mewarnai segenap perjalanan bangsa ini.

Hari-hari ini kita disuguhkan berbagai persoalan bangsa. Negeri ini seolah tidak pernah dibiarkan tenang karena terpaan berbagai persoalan yang datang bertubi-tubi. Tanah Papua yang kita cintai bersama hingga saat ini masih bergejolak. Sepertinya, ‘rasa aman’ ialah harga yang teramat mahal untuk diwujudkan di Tanah Papua. Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan dan Sumatra juga sangat memilukan hati. Udara segar yang menjadi sangat mahal untuk dihirup karena ulah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Di beberapa kota besar di Indonesia mahasiswa dan elemen masyarakat sipil beraksi menyampaikan tujuh tuntutan. Regulasi yang seharusnya memberi rasa aman bagi setiap warga negara, justru berpotensi menjadi alat pemukul bagi siapa saja yang kritis. Mereka bergerak karena peduli terhadap masa depan bangsa ini dan cinta terhadap republik ini.

Dari berbagai persoalan yang begitu mengganggu ruang hidup seluruh bangsa, tampak jelas bahwa Pancasila sebagai dasar negara belum menjadi pijakan dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial tidak menjadi rujukan dan dipinggirkan.

Ruang politik yang idealnya menjadi ruang aktualisasi bagi penguatan kebijakan kebangsaan yang memperhatikan aspirasi masyarakat, justru menampakkan wajah yang sebaliknya. Terlalu banyak drama politik yang dihadirkan para elite politik. Tugas mereka untuk mengawal aspirasi masyarakat belum sepenuhnya dilakukan. Padahal, setiap saat masyarakat memantau apa yang mereka tampilkan.

Hanya normatif

Jika kita refleksikan kondisi saat ini sangat jelas bahwa pemahaman normatif mengenai nilai-nilai Pancasila tidaklah cukup. Di masa lalu nilai-nilai Pancasila diberikan kepada masyarakat dengan bobot normatif yang terlalu besar. Setelah mengikuti penataran P4 dan hafal butir-butir Pancasila seolah masyarakat sudah menjadi sosok yang Pancasilais.

Dari situ jelas terlihat bahwa pemahaman dan laku Pancasila tidak hanya bisa dilakukan dengan pola-pola pendidikan atau pelatihan yang hanya menguatkan kognitif. Tidak cukup dengan menghafal sila-sila, butir-butir, atau mengetahui sejarah lahirnya Pancasila. Pengetahuan yang didapat memang penting untuk memberi konteks bahwa konsepsi Pancasila merupakan kesepakatan bersama dan sangat cocok untuk Indonesia yang beragam.

Narasi Pancasila sebagai fundamen kehidupan bangsa tidak hanya bisa dipaksakan sebagai nilai-nilai ideal yang cenderung sulit untuk dilakukan. Pancasila dalam perbuatan harus hadir dalam berbagai aktivitas anak bangsa.

Pada titik ini, sering kali beban bagi penguatan Pancasila diberikan kepada lembaga pendidikan. Padahal, ruang pendidikan hanyalah salah satu cara untuk menguatkan Pancasila karena justru yang paling penting ialah menguatkannya pada ruang-ruang keseharian. Pada praktik-praktik aktual yang tampak di keseharian.

Sementara ini memang bobot terbesar untuk menguatkan Pancasila lebih banyak diberikan di sekolah. Pada kajian akademik yang cenderung normatif dan menegasikan praktik. Efeknya, selalu ada jarak antara nilai-nilai Pancasila yang diajarkan dan laku keseharian karena secara praktikal nilai-nilai Pancasila tersebut terasa berat untuk dilaksanakan.

Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di masa lalu, misalnya, sangat dianggap mudah dan cenderung disepelekan. Misalnya saja, dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika ujian siswa akan memilih jawaban yang paling panjang karena memang itu yang paling benar. Siswa dilatih untuk mengetahui hal yang benar, tetapi tidak terlatih melakukannya.

Saat ini kita cenderung gagap menghadapi berbagai situasi kompleks yang hadir. Maraknya penggunaan teknologi, tata nilai yang berubah, dan berbagai situasi lainnya membuat kita kesulitan untuk menghadapinya. Bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dioperasikan dalam kehidupan keseharian menjadi perlu terus disesuaikan dengan langgam zaman.

Praktik

Oleh sebab itu, yang perlu dikuatkan ialah pada level operasionalisasi nilai-nilai. Biarkan nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan atau beroperasi dalam laku keseharian Pancasila yang disemai melalui berbagai proses pendidikan di sekolah, keluarga, masyarakat, bahkan di dunia maya.

Sangat banyak contoh yang dapat membuktikan betapa sesungguhnya negeri ini belum habis stok aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Tentang bagaimana orang-orang Papua yang melindungi para pendatang ketika terjadi kerusuhan di Wamena ialah contoh nyata dari pengejawantahan nilai Pancasila yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan tersebut ialah bentuk kemanusiaan yang adil beradab dalam hakikat yang sesungguhnya. Situasi konflik tidak membuat kemanusiaan hilang. Pada dasarnya manusia harus menolong manusia lain bagaimanapun kondisinya.

Atau di ruang maya, pemanfaatan aplikasi kitabisa.com yang selama ini digunakan untuk membantu individu atau kelompok yang dalam kesulitan dapat menjadi contoh nyata dari implementasi nilai keseharian. Melalui aplikasi tersebut, berbagai bantuan dapat diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang agama, kelompok, suku, ataupun identitas lainnya. Hanya dengan sekali klik, begitu banyak individu atau kelompok yang tertolong.

Pancasila dalam perbuatan hanya bisa hadir dengan upaya keras dari segenap pihak-pihak yang menyadari bahwa lima sila yang ada sangatlah penting dalam memandu langkah bangsa ini di masa kini dan masa depan. Perwujudan nilai-nilai Pancasila harus melekat dalam setiap jejak langkah anak-anak bangsa.

sebelumnya dimuat di: https://mediaindonesia.com/read/detail/264186-pancasila-dalam-perbuatan

Menggantung Asa di Sekolah

KURANG dari satu minggu ke depan anak-anak sudah kembali bersekolah. Bagi sebagian besar ­orang, bersekolah ialah salah satu ikhtiar untuk menjemput mimpi. Sudah banyak kisah sukses yang berkisah tentang keberhasilan orang-orang yang tak beruntung secara ekonomi kemudian hidup sukses karena berhasil mengarungi dunia persekolahan yang keras. Kita tak bisa menutup mata, banyak yang menginvestasikan beragam upaya hanya untuk bersekolah, tetapi menuai kegagalan.

Ada begitu banyak jalan menuju sukses dan sekolah ialah salah satunya karena memang tidak ada jalan pintas menuju keberhasilan hidup. Meski demikian, secara pragmatis, sebagian besar masyarakat masih mengganggap bersekolah tinggi berarti berkorelasi dengan kehidupan yang lebih baik dan bersekolah tinggi berarti lebih dihormati masyarakat.

Begitu banyak asa tertanam di sekolah. Hingga kita berlebih­an memberikan beban bagi sekolah. Membuat orang pintar secara akademis, berkarakter baik, hingga memperoleh pekerjaan. Semua orang berharap pada sekolah. Kita semua berharap agar anak-anak kita menjadi lebih baik setelah mereka bersekolah.

Perburuan terhadap sekolah favorit ialah contoh nyatanya. Sekolah negeri favorit masih menjadi rebutan, setidaknya itu yang masih kita lihat dalam polemik zonasi beberapa waktu ini. Orangtua masih terus berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Untuk orangtua kelas menengah atas tak segan merogoh koceknya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.

Sekolah menjadi arena pergulatan karena banyak orang yang memercayakan asa pada lembaga ini. Mereka berjuang sepenuh hati demi mengubah nasibnya di masa depan. Bahkan ada yang harus terpisah dengan orangtuanya, pergi me­rantau di usia yang sangat belia karena memang tak ada sekolah di dekat rumah mereka.

Orangtua mereka harus berutang sana-sini untuk membiayai sekolah. Ada asa digantungkan di goresan pena yang dituliskan pada kertas-kertas dan pada bacaan-bacaan yang ditekuni. Mereka berjuang demi ilmu pengetahuan demi kemajuan dan masa depan yang lebih cerah.

Isu pragmatis
Setelah sekolah kamu bisa apa, menjadi apa, atau memiliki apa? Itu kira-kira beberapa pertanyaan yang diajukan masyarakat kepada mereka yang bersekolah tinggi. Pertanyaan tersebut menunjukkan betapa masyarakat berharap sekolah memiliki daya dobrak untuk mengubah nasib seseorang.

Sekolah juga kadung diposisikan sebagai salah satu pabrik penghasil tenaga kerja. Oleh karenanya, pemerintah pun turut masuk ke arena pragmatis tersebut. Dibuatlah sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memang difokuskan untuk menciptakan lulusan yang siap kerja. Minat masyarakat terhadap SMK pun begitu besar.

Namun, kita pun tahu masih banyak lulusan SMK yang tak terserap ke pasar kerja. Tiga tahun terakhir (2017-2019) meskipun secara statistik terdapat penurunan (9,27%, 8,92%, dan 8,63%), merujuk pada data BPS (2019) pemegang urutan pertama tingkat pe­ngangguran terbuka berdasar tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan merupakan lulusan SMK.

Tak ayal ada juga masyarakat yang sudah antipati terhadap pendidikan formal karena investasi besar yang dilakukan untuk bersekolah baik dari segi waktu dan biaya tidak terbayarkan ketika anak-anak mereka lulus. Toh sudah sekolah tinggi pun masih harus menganggur. Atau jika bekerja tidak relevan dengan ilmu yang dipelajari ketika sekolah. Atau sudah bekerja tapi tidak mendapatkan penghasilan yang memadai. Buat apa sekolah tinggi jika tetap menganggur?

Kemampuan setiap anak yang di awal masuk ke dunia persekolahan tidaklah sama. Ada anak yang sudah matang secara emosional dan siap secara akademik, juga sebaliknya. Anak-anak yang matang ini ditempa keluarganya. Ada habitus, jika merujuk Bourdieu, yang dibangun di keluarga. Karakter, penguasaan bahasa, kemampuan berkomunikasi, pengenalan terhadap buku dan lain sebagainya sehingga mereka biasanya tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika masuk dunia sekolah karena itu dunia yang biasa mereka hadapi.

Sementara itu, untuk siswa yang memiliki banyak ke­terbatasan harus beradaptasi di dunia persekolahan. Penyesuai­an pada beragam aspek harus dilakukan. Mereka belum memiliki kemampuan yang sama dengan anak yang matang secara emosional maupun akademik, tetapi mendapatkan perlakuan yang sama.

Apalagi kultur penyeragam­an masih begitu laku keras di dunia pendidikan kita, padahal anak-anak itu jelas beragam. Maka dari itu, pendekatan bagi mereka pun perlu memerhatikan keberagaman. Tak bisa gebyah-uyah disamaratakan. Sayangnya, melakukan pendekatan pendidikan yang meng­anggap setiap anak sebagai se­suatu yang unik memang belum menjadi perhatian bersama.

Cap malas, tak mau berubah, tak mau bekerja keras sering kali mudah disematkan kepada siswa. Tanpa berupaya untuk menelusuri secara cermat mengapa mereka berperilaku seperti itu. Tanpa bertanya dan mencoba untuk tahu. Hanya menghakimi tanpa mengetahui sebab sesungguhnya.

Padahal, jika merujuk padatemuan Howard Gardner (1993) tentang kecerdasan jamak, setiap anak memiliki kecerdasannya sendiri-sendiri. Kita harus menghargai kecerdasan tiap anak-anak tersebut. Ini memang sulit karena sejak lama orientasi pendidikan kita memang lebih menghargai kecerdasan akademik. Ukuran penilaian lebih pada aspek kognitif, dari seleksi masuk sekolah sampai penghargaan terhadap siswa yang memiliki akademisi yang tinggi.

Dalam kondisi ini upaya keras untuk membangun sekolah yang menghargai ragam peserta didik menjadi sangat utama. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang memadai sesuai dengan potensinya. Juga perhatian terhadap aspek sosial budaya yang mana sekolah itu ada menjadi sangat penting.

Pada titik inilah seharusnya sekolah dibangun menjadi rumah nyaman yang setiap anak diterima apa adanya. Di sekolah, mereka mendapatkan perhatian yang intensif. Diperhatikan secara seksama apa bakat dan potensinya, juga kekurangannya. Ditemani sampai mereka mampu memiliki pilihan-pilihan hidup yang mereka inginkan. Menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi kehidupan.

Tentu kita tidak ingin kerja keras anak-anak bangsa yang mendampak hidup lebih baik itu dikhianati karena negara tidak dapat sepenuhnya menjamin upaya pencerdasan yang dijanjikannya itu. Begitu banyak asa digantungkan pada sekolah, maka tugas negara ialah menunaikannya.

Sebelumnya dimuat di: https://mediaindonesia.com/read/detail/246128-menggantung-asa-di-sekolah

 

Gado-Gado Budaya Pop dan Komodifikasi Agama

Judul Buku: Politik Sirkulasi Budaya Pop: Media Baru, Pelintiran Agama, dan Pergeseran Otoritas; Penulis: Wahyudi Akmaliah; Penerbit: Buku Mojok, 2019; Tebal : xiv + 193 hlm

Studi tentang budaya populer semakin naik pamornya saat ini. Apalagi diiringi oleh semakin mudahnya akses internet. Dalam konteks politik, populisme yang menggejala saat ini pun memanfaatkan varian media sosial untuk mendongkrak posisi tawar mereka yang bermain di arena politik. Selain juga terkait perdebatan agama, yang dahulu hanya tersirkulasi di arena yang lebih eksklusif menjadi lebih mudah menyebar di dunia maya.

Perdebatan yang sering kali mengarah kepada pertengkaran tanpa akhir, yang sesungguhnya fenomena lama, kembali hadir dalam wajah yang berbeda. Di sisi lain penebalan-penebalan kebencian yang diakibatkan pelintiran agama sangat mudah dilakukan. Apalagi, literasi digital yang yang masih terbatas menyebabkan operasi-operasi hoaks begitu menggejala dan merusak tatanan.

Buku Politik Sirkulasi Budaya Pop: Media Baru, Pelintiran Agama, dan Pergeseran Otoritas karya Wahyudi Akmaliah menjadi salah satu karya yang berusaha menjelaskan berbagai pergeseran tersebut. Dalam pengantarnya penulis menyebut judul buku ini terinspirasi dari karya David Beer yang berjudul Popular Culture and New Media: The Politics of Circulation (Palgrave, 2013). Politik sirkulasi mengutip Beer (2013) merupakan pendekatan materiil dengan melihat infrastruktur media baru yang bergerak melalui jejaring dan keterhubungan. Infrastruktur media baru tersebut adalah objek dan infrastruktur, pengarsipan, algoritma, dan permainan data.

Buku ini memaparkan tiga tema besar, budaya pop dalam pusaran kekuasaan, media baru dan pergeseran otoritas, serta gelombang islamisasi dan komodifikasi agama. Ketiga tema yang diangkat oleh penulis melalui buku ini merupakan tema aktual dan dalam kurun waktu beberapa tahun ini hilir mudik mewarnai perdebatan di Indonesia.

Pada bagian awal penulis mengajukan argumen bahwa medan budaya pop merupakan salah satu arena pertempuran yang dipilih oleh para kandidat dalam pertarungan politik. Media pop menjadi media propaganda yang digunakan oleh tiap pasangan calon yang bertarung untuk merebut suara. Produk budaya popular ini dibuat dalam rangka merebut hati konstituen. Pertarungan di ranah politik diramaikan dengan kerja-kerja kreatif dengan produksi media pop yang kemudian menjadi sarana ampuh untuk meningkatkan citra diri sambil mengkritisi pihak lawan.

Penulis dengan tajam menarasikan perkembangan budaya pop terkini. Misalnya, soal Via Vallen dan Nella Kharisma yang memiliki basis masa yang luar biasa hingga digunakan sebagai bagian dari kampanye politik. Juga tentang Ahmad Dhani yang menurutnya salah memilih jalan, Ratna Sarumpaet yang dianggap kreator hoaks terbaik, tentang Sabyan yang menghadirkan wajah Islam yang berbeda, serta budaya pop lainnya yang begitu hits saat ini tak luput dari amatan kritisnya.

Penulis secara cermat mengamati pergeseran otoritas yang terjadi karena hadirnya media baru. Dalam bagian ini, ia menghadirkan analisis-analisis kontemporer tentang betapa kekuatan media internet menjadi ruang baru bagi pergumulan, juga pertarungan politik. Peran media baru baik televisi maupun internet juga memungkinkan munculnya figur-figur baru yang kemudian berpengaruh di berbagai ranah seperti politik maupun keagamaan. Kita kemudian mengenal figur Ustad Abdul Somad, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Habib Rizieq Shihab ataupun Aa Gym. Figur agama yang memiliki pengaruh di kalangan umat.

Kehadiran media baru menjadi lahan subur ruang diskursif, tidak hanya bagi makna agama, tetapi juga pengalaman islam baru yang dimediasikan secara transnasional, demikian sebut penulis mengutip Nabil Echchaibi dalam artikelnya From Audio Tapes to Video Blogs: The Delocalisation of Authority in Islam (2010). Ia juga mengutip Dale F. Eickelman dan Jon W. Anderson (2003) yang menyebut bahwa bentuk-bentuk komunikasi baru di dunia muslim secara global memberikan peranan secara signifikan dalam fragmentasi dan kontestasi, baik politik maupun keagamaan.

Gelombang islamisasi dan komodifikasi agama tak luput dari telisik penulis. Di bagian ini ia menghadirkan analisisnya tentang lebih lekatnya kelompok terdidik dan menengah secara ekonomi kepada arus islamisasi. Ia kemudian mengelaborasi hasil-hasil riset dari Setara Institute, Alvara Research, Wahid Instute, Maarif Institue juga lembaga lainnya yang menunjukkan semangat kaum muda untuk tergabung ke gelombang radikalisme. Mereka terbujuk pada daya pikat terorisme dan radikalisme.

Infiltrasi paham radikalisme dan terorisme tersebut tidak hanya melalui internet, tetapi juga melalui pengajian-pengajian yang ada baik di sekolah maupun tempat kerja. Sorotan terhadap proses politik yang lebih menebal ke arah sentiment etnisitas dan agama juga menjadi amatan penulis dalam buku ini. Ini juga yang membuat Jokowi memilih KH Maruf Amin sebagai pendampingnya. Politik SARA adalah ancaman terbesar bagi Jokowi dalam kontestasinya di Pilpres 2019 lalu.

Sayangnya, meskipun sudah membagi buku ini dalam tiga babak tematik, masih terasa betul cita rasa buku ini sebagai artikel pendek yang dikumpulkan dari berbagai media. Jika buku ini dirajut dan dirangkai ulang dengan mengkaitkan tema-tema yang dikedepankan, tentu buku ini menjadi lebih renyah dibaca. Khusus untuk bagian tiga, terkait gelombang islamisasi dan komodifikasi agama, terasa betul adanya penggabungan tema, yang terlihat tidak selaras dan cenderung dipaksakan. Sehingga terasa kurang panjang penjelasan terkait isu tersebut.

Meskipun demikian, buku ini sangat penting dibaca oleh siapapun yang aktif mengikuti isu-isu mutakhir terkait relasi antara budaya pop, politik, dan agama, yang ketiganya berkelindan mewarnai hari-hari kita belakangan ini. Penulis relatif berhasil memotret relasi ketiganya dalam arus pertarungan di media sosial kini. Daya kritis penulis membantu kita untuk membaca narasi-narasi yang hadir dari relasi tersebut.

Anggi Afriansyah peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

sebelumnya dimuat di: https://news.detik.com/kolom/d-4604898/gado-gado-budaya-pop-dan-komodifikasi-agama

Berdiam Di Rumah, Selemah-lemahnya Iman, Sebaik-baiknya Kontribusi

Begitu banyak cerita sedih ketika ada pasien positif Covid-19 yang meninggal. Pertanggal 23 maret terdapat 579 yang positif Covid-19, 30 yang sembuh, dan 49 yang meninggal. Termasuk tinggi dibanding negara-negara lain. Singapura bahkan bisa menekan angka kematian “hanya” dua pasien saja.

Gegabahnya elit merespon isu Covid-19 dengan beragam guyonan tentu sangat menyakitkan jika diingat. Di saat negara maju yang insfrastruktur kesehatannya sudah maju saja sangat ketat membatasi pergerakan manusia, membuat border di tiap pintu masuk kedatangan internasional dengan pemeriksaan kesehatan yang presisi, kita masih santai-santai saja. Bahkan membuka ruang bagi wisatawan asing untuk datang ke beragam tempat di Indonesia.

Dengan pendekatan berbasis data dan kepercayaan penuh pada sains virus ini bisa dihadapi. Bukan dengan kata-kata serampangan yang tak berbasis pada data. Semua bisa diatasi ketika solidaritas dikuatkan, gotong royong dilakukan. Jangan sampai setelah begitu banyak korban berjatuhan, kita baru mulai menyadari, dan bergerak.

Artikel yang ditulis oleh Iqbal ElyazarEijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU)Sudirman NasirUniversitas Hasanuddin, dan Suharyo SumowidagdoIndonesian Institute of Sciences (LIPI) bertajukPenularan COVID-19 di Indonesia bisa tembus 11-71 ribu akhir April jika tak ada intervensi cepat menggunakan analisis fungsi eksponensial –dengan data kasus sejak 2 Maret dan asumsi level penggandaan waktu kasus seperti Iran dan Italia–memperkirakan pada akhir April 2020 akan terdapat 11.000-71.000 kasus COVID-19 di Indonesia (https://theconversation.com/penularan-covid-19-di-indonesia-bisa-tembus-11-71-ribu-akhir-april-jika-tak-ada-intervensi-cepat-129619).

Pemerintah saat ini lebih sigap dalam menangani kasus ini. Meskipun dengan beragam keterbatasan berupaya untuk mengejar bolong-bolong ketertinggalan.  Tentu kita tidak berharap semakin banyak pasien yang positif Covid-19. Pembatasan sosial diharapkan menjadi sarana efektif untuk membatasi laju penyebaran virus korona ini. Maka di rumah saja adalah pilihan yang sangat baik. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah dari rumah, begitu anjuran Presiden Jokowi.

Selama satu minggu lebih kami diam saja di rumah. Keluar rumah ketika ada keperluan mendesak. Itu pun dengan kesiagaan penuh. Setelah keluar dari rumah kami bebersih, berganti pakaian. Seminggu lalu, ketika saya sudah mulai kerja dari rumah dan anak sudah belajar dari rumah, istri saya masih harus ke sekolah. Meski siswa-siswanya sudah dirumahkan, para guru masih harus masuk. Istri saya tetap mengajar seperti biasa, hanya saja via online. Saya agak heran juga, mengapa harus masuk, toh masih bisa online di rumah. Alhamdulillah, minggu ini istri sudah libur. Karena memang di bulan Maret sekolahnya libur satu minggu.

Setiap pagi saya mengantarnya untuk meminimalisir perjumpaan yang rapat dengan banyak orang di transportasi publik. Kemudian saya dan anak diam di rumah. Setiap pulang, kami menjaga jarak darinya ketika dia tiba. Pintu sudah kami buka, juga kamar mandi. Ia pun langsung masuk membersihkan diri. Setelah bersih baru kami berkumpul kembali. Lebay? Parno? Ya bisa jadi. Tapi lebih baik over protektif dari pada terlalu cuek. Apakah aman? Ya jelas belum tentu. Tapi, bukankah ikhtiar merupakah hal yang wajib dilakukan? Apalagi belakangan ada satu pasien positif Covid-19 di kecamatan kami tinggal.

Setiap keluar, kewaspadaan ditingkatkan. Intinya tidak serampangan. Tidak pegang ini itu. Pergi secepat mungkin untuk kembali. Di sosial media bahkan ada yang bilang ke luar rumah saja berasa jihad. Ya, itu juga yang kami, terutama, saya rasakan. Intinya di rumah saja yang terbaik. Untungnya kami memang anak rumahan. Jadi betah-betah saja. Hanya, anak kami perlu memiliki banyak hal yang bisa dilakukan agar dia betah. Karena sebentar-sebentar dia ingin ke luar rumah.

Dari rumah kami memantau beragam informasi. Tentu berusaha dari sumber-sumber yang valid. Karena memang informasi yang beredar begitu banyak. Hari-hari ini berita sedih karena meninggalnya para dokter di garda terdepan menjadi kisah kelabu. Mereka, meninggalkan keluarganya untuk berjihad membantu saudara-saudara kita yang sakit akibat virus korona. Sementara jihad kita, adalah selemah-lemahnya iman, diam di rumah. Jika punya sedikit kapital maka begitu banyak lembaga dan masyarakat sipil yang berusaha mengumpulkan bantuan.

Meskipun selemah-lemahnya iman, masih banyak yang tidak bisa menahan diri untuk berdiam diri di rumah. Padahal, upaya selemah-lemahnya iman ini bisa berkontribusi besar untuk menghambat persebaran virus korona. Jangan biarkan tenaga medis di garda depan, dengan segala keterbatasannya, harus dibebani oleh pasien yang semakin banyak karena ketidakdisiplin kita menjaga diri dan keluarga dengan berkeluyuran tanpa alasan yang penting. Dengan gegabah dan gaga-gagahan menggunakan argumentasi keagamaan untuk merasa tidak takut dengan virus ini.

Diam di rumah sangat baik karena mengurangi beban tenaga medis. Apalagi kita tahu insfrastruktur kesehatan di negeri ini tidak terlalu baik. Apalagi ada begitu banyak penyakit lain, DBD contohnya, yang juga perlu mendapatkan penanganan. Maka tetap sehat, tetap di rumah, adalah kontribusi yang sangat baik. Risiko kelelahan, terpapar virus, stress, bahkan sampai meninggal ada di depan mata para tenaga medis tersebut. Mereka bertaruh antara hidup dan mati, sementara kita bertaruh dengan kebosanan. Terutama bagi kita yang masih punya kemewahan bekerja dari rumah.

Bagi yang punya kemewahan diam di rumah dan bekerja dari rumah. Begitu banyak juga bonus yang didapat. Berkumpul dengan keluarga, saling bercengkrama, mengajar anak, berolahraga di rumah, ibadah di rumah adalah bonus. Berbeda dengan saudara kita yang masih menempuh risiko berhadap-hadapan dengan pasien, bekerja keras demi kesembuhan mereka. Juga mereka yang harus bekerja karena perusahaan masih perlu beroperasi. Atau para pedagang kecil yang nasibnya digantungkan pada penjualan harian mereka, pengemudi taksi, angkutan umum, atau transportasi online yang harus ke luar rumah jika ingin mendapatkan sesuap nasi. Maka diamlah di rumah, nikmati, meski mungkin bosan. Itulah selemah-lemahnya kontribusi kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Menulis, Menulis dan Tetap Menulis

Dalam situasi saat ini, di mana dia di rumah adalah yang terbaik, maka membaca dan menulis menjadi obat pelipur lara. Sudah banyak ahli dan rekan-rekan yang menulis tentang Covid-19 dan anjuran-anjuran tentang pentingnya tinggal di rumah. Banyak konten positif tentang anjuran tersebut. Ada baiknya, tentu saja demi kemaslahatan diri dan orang banyak, kita tetap diam di rumah. Kita support tenaga medis yang berjuang di garda terdepan. Semoga mereka selalu sehat dan diberi kemudahan serta kelancaran.

Setelah lama sekali tidak mengisi tulisan di blog, siang ini saya mau bercerita tentang pengalaman berproses menulis di media cetak/koran dan online.

Setelah lima tahun mencoba menulis ke media massa. Saya semakin menyadari bahwa proses menulis adalah ruang bagi saya untuk belajar begitu banyak hal. Ketika saya menulis, maka otomatis saya harus membaca berbagai sumber, entah itu buku, majalah, media online, koran, ataupun jurnal untuk mendukung argumentasi yang saya ajukan. Hingga kini saya berhasil menulis di beberapa Media Cetak,  Media Online, maupun Blog. Beberapa tulisan saya sudah dimuat di Koran Kompas, Koran Berita Cianjur, Jawa Pos, Koran Jakarta, Media Indonesia, Harian Republika, Koran Sindo, Koran Tempo, Lampung Post, Radar Bangka, Radar Tasikmalaya, Padang Ekspress, detiknews, NU Online, Qureta, Kumparan, Geo Times, dan Kompasiana, dan Harakatuna.

Ketika awal masuk LIPI, kantor saya, saya memang menargetkan agar setiap bulan bisa menulis di koran. Untuk menulis di jurnal, itu tentu kewajiban saya sebagai peneliti, sementara menulis koran atau media online bukanlah kewajiban. Meski, ada angka kredit diraih (lumayan dua poin, entah untuk kebijakan saat ini belum saya cek lagi) tentu ini bukan prioritas utama. Meski demikian, semangat untuk mewujudkan satu artikel pendek perbulan begitu menggebu-gebu. Saat ini, target itu sudah terealisasi. Kadang sudah lebih dari satu artikel perbulan, meskipun jarang-jarang sih.

Mengapa saya menulis? Ada alasan idealis dan pragmatis. Idealisnya untuk menyebarkan gagasan yang saya miliki. Saya banyak menulis tentang isu pendidikan. Isu yang saya geluti bertahun-tahun baik sebagai peneliti maupun pengajar di SMA dan Perguruan Tinggi. Saya memiliki perhatian besar terhadap isu pendidikan. Mengapa? Karena saya merasa pendidikan di negeri ini belum memberikan perhatian yang memadai untuk membangun manusia Indonesia. Pendidikan kita masih dihinggapi berbagai harapan palsu. Jadi, selain saat ini banyak terlibat di penelitian pendidikan, saya juga merasa terpanggil untuk mengirimkan gagasan sederhana saya tentang isu yang saya geluti.

Secara pragmatis, menulis itu mendatangkan rezeki bagi kami sekeluarga. Hidup di Jakarta, meski tinggal di Bekasi, membutuhkan begitu banyak amunisi untuk hidup. Dengan menulis, ada tambahan rezeki yang kami dapatkan. Ya, setiap menulis dan dimuat ada honor yang diberikan oleh redaksi. Jumlahnya  tentu bervariasi. Untuk memotivasi, rentang yang saya dapatkan mulai dari 400 ribu sampai 1 juta rupiah.

Untuk pembayarannya juga sangat bervariasi. Ada yang 1 minggu setelah dimuat honor sudah ditransfer, ada yang dua minggu, sampai dua bulan. Apakah ada media yang tidak menyediakan honor? Saya pernah menulis di media yang tidak ada honornya juga. Meski demikian, ya tetap senang karena tulisan dimuat dan dibaca orang lain. Meski, jika ada honornya tentu kesenangannya menjadi berlipat. Tentu saja tidak bisa diharapkan dengan rajin menulis akan mendapat rumah, mobil, dan harta berlimpah. Tentu tidak semudah itu, hehe.

Dari proses menulis pun saya mengenal banyak orang. Ternyata tulisan dan ide saya dihargai oleh orang lain. Yang menyenangkan ketika ada lembaga lain yang mengundang setelah membaca tulisan yang saya buat. Atau beberapa tulisan saya dibaca oleh media televisi dan kemudian mengundang saya untuk diskusi. Duh senang sekali. Semakin berlipat-lipat saja senangnya. Ada banyak teman baru yang saya kenal baik via online dan offline setelah saya rutin menulis. Dari sini jejaring pertemanan bertambah, juga diiringi pertambahan rezeki.

Motivasi menulis memang menjadi sangat penting. Semangat untuk pantang menyerah adalah yang utama. Sampai saat ini, saya masih merasakan penolakan atau tidak dimuatnya tulisan. Jika demikian, biasanya saya akan merevisinya dan mengirim ke media lain. Dan seringkali tulisan yang tidak dimuat di satu media akan di muat media lain. Seperti yang disampaikan oleh salah satu rekan di kantor bahwa setiap tulisan memiliki jodohnya masing-masing. Oleh karena itu saya tak pernah risau ketika tulisan saya tidak dimuat.

Hal lain yang menjadi sangat penting juga menurut saya adalah jangan merasa pintar. Kalau merasa pintar, ketika tulisan ditolak pasti ada perasaan kesal dan malas mengirim lagi. Jika ego yang dikedepankan tentu saja akan mudah menyerah, sebab merasa kepintarannya terusik.  Mengapa tidak boleh menyerah? Karena menulis adalah perihal tentang keinginan untuk terus belajar. Mencoba untuk mengartikulasikan gagasan agar bisa dipahami oleh publik yang lebih luas. Jadi tidak boleh mudah menyerah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Mari kita terus menulis. Menulis, menulis dan tetap menulis.