Featured

Catatan Pengingat: Tahapan Mengikuti Tes CPNS LIPI

Hari-hari ini ramai kembali mengenai pendaftaran PNS. Saya kembali teringat ketika tahun 2014 lalu saya pun mengikuti perkembangan CPNS ini. Sebab saat itulah saya mencoba mencari peruntungan menjadi abdi negara.

Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi guru. Saya ingin jadi guru sebab hampir semua keluarga saya berprofesi sebagai guru. Dua kakek dari pihak ibu dan bapak adalah guru. Ua, Bibi, Mamang saya banyak yang berprofesi sebagai guru. Kedua orangtua saya guru. Imajinasi terbaik dari profesi saya pun akhirnya mentok di guru. Guru itu asyik, itu yang saya lihat dari kedua orangtua saya. Mereka bisa mengajar banyak orang, dikenal banyak orang, dan tak begitu melelahkan. Itulah yang membuat saya kemudian mendaftar di kampus pencetak guru, Universitas Negeri Jakarta.

Karir saya pun setelah lulus tak jauh-jauh dari guru. Saya pernah mengajar di SD, SMA, Kampus, tempat bimbel, adalah dunia saya setelah lulus. Sejak lulus 2009 saya beberapa kali pindah tempat mengajar. Dunia pendidikan memang takdir yang harus saya jalani. Sampai saat ini. Saya tak jauh dari dunia pendidikan. Meskipun tidak mengajar. Saya sekarang menjadi peneliti yang menggeluti bidang pendidikan. Allah Mahabaik. Ini memang bidang yang begitu saya sukai. Alhamdulillah.

Orangtua saya tak pernah memaksa saya menjadi seorang PNS, mereka membebaskan. Namun, setiap ada berita tentang pembukaan CPNS mereka akan segera kontak dan meminta saya untuk mencobanya. Saya pun tak pernah menentang itu. Jadi beberapa kali ada info (meskipun belum valid), saya berusaha memenuhi beragam hal yang harus dilengkapi ketika kita bersiap untuk mendaftar CPNS. Beberapa kali saya membuat SKCK, Kartu Kuning, Legalisir Ijazah dan lain sebagainya.

Namun, rentang 2009-2013 ada moratorium CPNS. Kalaupun ada, hanya ada beberapa formasi. Yang jelas sulit bagi kualifikasi akademik yang saya miliki yaitu S1 PPKn. Setelah dua tahun mengajar di Al Izhar, saya mulai gamang dengan masa depan saya. Rasanya ingin mengajar kembali di kampus. Saya pun nekat resign tanpa tahu akan mengajar di mana.

Ketika saya mulai mengajar di kampus dan ikut membantu di Kemdikbud, ternyata dibuka kembali formasi CPNS. Ketika itu saya bingung menentukan. Tahun 2014 saya sudah lulus S2 Sosiologi di UI. Namun jika saya melamar menjadi dosen, hambatannya selalu saja sama. Ijazah saya tidak linear. S1 saya PPKn sedangkan S2nya Sosiologi. Kemungkinan diterima di PT sangat tipis. Saya khawatir di seleksi dokumen saja sudah mentok dan gagal. Mau mencoba di beberapa kementerian, saya merasa tak begitu cocok untuk bekerja di lembaga tersebut. Ketika teliti mengecek, ternyata di LIPI ada satu formasi yang begitu menarik yaitu Peneliti Sosiologi Pendidikan.

Saya tak langsung memutuskan. Pada tahun itu, pendaftar hanya boleh mendaftar pada satu lembaga saja. Saya pun berkonsultasi ke beberapa orang. Satu orang yang begitu sering saya tanya adalah Pak Rakhmat. Saya tak pernah diajar beliau di kelas. Saya bertemu beliau di salah satu lembaga penelitian dan pengabdian di UNJ, PKPIS FIS UNJ. Meskipun demikian, ia seperti suhu spiritual saya di bidang akademik. Saya memilih masuk ke sosiologi UI untuk S2 salah satunya karena sering berkomunikasi dengan beliau. Ia pun menyarankan agar saya memilih LIPI saja. Dan setelah pertimbangan banyak hal saya akhirnya memilih formasi Peneliti Sosiologi Pendidikan itu.

Saya pun mencoba peruntungan dan mendaftar. Tahap pertama adalah seleksi berkas. Saya berhasil lolos di verifikasi dokumen ini dan diundang untuk melaksanakan tes kemampuan dasar (TKD).

Screenshot_2014-10-01-09-01-13.png

Jujur saya tak pernah belajar serius. Saya hanya membeli satu buku di Gramedia. Saya lupa judulnya. Yang jelas tentang pembahasan soal-soal tes CPNS. Kita tahu ini adalah salah satu buku best seller disamping buku tes persiapan UN dan SNMPTN. Hehe. Itupun tak serius saya pelajari. Saya kerjakan cepat sambil (kalau tidak tahu) mengintip kunci jawaban di bagian belakang, utamanya untuk soal aritmatika, matematika dsb, yang merupakan kelemahan saya. Untuk soal pendidikan kewarganegaraan relatif aman sebab saya kan memang mengajar Mata Kuliah dan Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila. Dan ternyata itu memang nyata setelah tes CPNS. Saya melalui tes dengan lancar. Sisa waktu ketika itu masih sembilan menit lagi. Karena sudah bosan dan takut jika saya cek justru nilainya semakin rendah, saya pun mengakhirinya. Skor pun langsung keluar, 345. Lumayan. Saya berhasil lengkap di semua syarat di tiap sesi soal. Karena ada aturan (saya aga lupa) nilai minimal masing-masing di tiap sesi (matematika dasar, kewarganegaraan, dan satu lagi sy lupa). Saya beruntung di matematika dasar nilai saya betul dua (sepuluh poin) dari nilai minimal. Saya langsung cek di bawah posisi saya ada di berapa besar. Ternyata pada sesi hari itu (dibagi 4 hari tes) nilai peserta lain tinggi-tinggi. Ada yang lebih dari 400 nilainya. Gak apa-apalah.

Screenshot_2014-12-17-11-22-17.png

Saya dipanggil untuk sesi tes selanjutnya. Yaitu tes psikotes dan wawancara. Saya tak belajar sama sekali untuk psikotest. Tes ini berat. Soalnya saya tak pernah ikut psikotest sebelumnya. Bodohnya saya tak pernah browsing. Setelah tes saya baru browsing, ternyata tesnya mirip dengan apa yang banyak di internet. Di internet juga banyak tips dan trik menjawab psikotes. Saya sendiri? Ya karena tak pernah mencari tahu akhirnya mengerjakan sebisa-bisanya saja. Haha.

Screenshot_2014-10-28-15-39-06.png

Pada tahap wawancara ada tiga orang pewawancara. Tiga orang itu belakang saya ketahui adalah Bu Haning (Kapus Pusat Penelitian Kependudukan LIPI), Bu Deny Hidayati (Ketua Kelompok Penelitian Ekologi Manusia), dan Bu Titik Handayani (Peneliti Senior dari Kelompok Penelitian SDM dan Sumber Daya Manusia). Wawancara berlangsung selama 30 menit. Saya ditanya motivasi masuk ke LIPI, apa rencana saya ke depan, pengalaman-pengalaman sebelumnya, minat pada bidang, dan tentang penelitian apa yang sudah dilakukan termasuk tesis. Pada sesi tanya jawab tentang tesis dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Saya jawab dengan terbata-bata karena memang bahasa inggris saya begitu memprihatinkan. Waktu 30 menit pun berakhir. Saya dipersilakan menunggu kabar selanjutnya. Saya pernah baca di blog seseorang yang juga kemudian menjadi peneliti LIPI. Dia bercerita “mungkin” yang membuatnya diterima adalah tema tesisnya sesuai dengan formasi yang dilamarnya. Tema tesis saya memang tentang pendidikan. Meskipun isu multikulturalisme bukan bagian dari isu yang sering dikaji di bidang kependudukan.

Jika tahapan sebelumnya relatif sebentar dan tepat waktu informasinya. Tahapan kelulusan ini agak lama tahapannya. Sambil menunggu saya tetap mengajar. Sampai akhir tahun pengumuman yang ditunggu tak ada-ada juga. Padahal saya sudah libur mengajar. Saya pun mesti berhitung, jika tak diterima harus bagaimana. Maka saya menulis banyak lamaran untuk ke beberapa perguruan tinggi.

Screenshot_2015-01-06-09-55-48.png

Saya lupa, awal januari atau februari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah saya lulus. Diterima sebagai peneliti sosiologi pendidikan. Penantian panjang pun berakhir.

Screenshot_2015-01-13-15-51-17.png

Saya langsung melengkapi beragam berkas yang harus dilengkapi. Enaknya mendaftar di LIPI adalah sebelum kita dinyatakan lulus, berkas-berkas yang diperlukan tidak begitu merepotkan. Ijazah yang dilegalisir, SKCK, menulis lamaran, mengisi ini dan itu hanya dilakukan setelah kita dinyatakan lulus. Jadi tak begitu banyak uang yang harus dikeluarkan. Namun, bagi yang tinggal di luar Jakarta memang jadi pertaruhan yang luar biasa. Karena ada tiga kali (kurang lebih) mereka harus bolak-balik ke Jakarta. Biayanya pasti besar. Jika yang tinggal di Jakarta sih relatif mudah. Paling harus beberapa kali ijin ke kantor. Saya sendiri mudah mendapat ijin. Ada beberapa teman yang ijin sakit atau keperluan lain, padahal ikut tes cpns dan mengurus berkas arena aturan kantornya yang ketat.

Screenshot_2015-01-18-23-41-08.png

Seorang teman pernah bilang jalan saya begitu mulus. Resign langsung dapat pekerjaan, setelah itu dapat PNS, juga mendapat kabar istri saya hamil. Allah Mahabaik. Saya meyakini, ini karena doa orangtua yang begitu teguh setiap saat.  Saya membiasakan setiap hendak tes meminta doa kepada orangtua (orangtua kandung maupun mertua). Doa-doa itulah yang menjaga kita. Insya Allah.

Bagi yang hendak tes tetaplah semangat, berusaha, dan berdoa sekuat-kuatnya. Semoga berhasil. Fighting.

Ujian Nasional dan Kemerdekaan Belajar

BEBERAPA waktu lalu Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan empat pokok kebijakan Merdeka Belajar, salah satunya ialah penghapusan Ujian Nasional (UN). 2020 menjadi tahun pamungkas bagi pelaksanaan UN sebab di 2021 akan ada asesmen kompetensi minimum (ASK) dan survei karakter (SK) yang fokus pada literasi, numerasi, dan karakter. ASK dan SK dilakukan ketika siswa yang berada di tengah jenjang sekolah agar mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Selain itu, keduanya tidak digunakan sebagai basis seleksi untuk ke jenjang pendidikan lanjutan.

Kebijakan penghapusan UN ini disambut dengan sukacita. Keberanian Mendikbud untuk menghapus UN patut diapresiasi karena UN sudah seperti ritus tahunan sakral yang seolah tidak dapat digugat. Penghapusan UN hanya menjadi wacana dan ramai diperdebatkan pada saat Pilpres 2014 dan 2019. Pada saat Muhadjir Effendy menjadi menteri sesungguhnya pernah ada wacana moratorium UN yang kemudian tidak pernah terealisasi.

Padahal, UN telah merenggut banyak korban. Anak-anak yang stres bahkan sampai memutuskan untuk mengakhiri hidup ialah catatan dari kelamnya kebijakan UN. Psikologi massa terganggu sebab UN menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak, orangtua, pihak sekolah, maupun pemerintah daerah. Meskipun belakangan tidak menjadi penentu kelulusan, UN tetap membuat sekolah harus bekerja ekstra untuk mencapai nilai yang baik. Kita tidak boleh juga menutup mata, setiap UN berlangsung selalu saja ada cerita tentang kecurangan. Tidak dalam konteks individual, tetapi dalam bangunan struktural yang melibatkan banyak pihak. Pada titik tersebut kegagalan pendidikan begitu nyata.

Korelasi pembangunan pendidikan karakter yang terus didengungkan terbentur dengan suasana pragmatis, nilai UN yang tinggi menjadi tujuan apa pun caranya. Apakah memang UN sangat berpengaruh bagi pola belajar anak-anak di Indonesia? Apakah tiadanya UN akan membuat anak-anak menjadi malas belajar? Jika demikian, apa sesungguhnya tujuan pendidikan kita? Apakah tujuan pendidikan di negeri ini–khusus untuk pendidikan dasar dan menenga–ialah menyelesaikan soal-soal UN dan mendapatkan nilai yang bagus saja?

Tujuan pendidikan nasional Untuk menjawabnya, kita kembalikan saja ke tujuan pendidikan nasional. Mengutip UU Sisdiknas 20/2003, pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka itu, yang perlu kita lakukan ialah berfokus pada upaya membuat bangunan pendidikan yang memungkinkan tercapainya tujuan nasional tersebut.

Jangan sampai ruang-ruang pendidikan justru membonsai upaya tercapainya tujuan pendidikan itu. Apalagi selama ini tampak sekali adanya ambiguitas antara tujuan pendidikan dan langkah untuk mencapainya. Kebijakan UN yang terus dipertahankan beberapa tahun belakangan ialah salah satunya. Alih-alih menjadi medium untuk mengetahui kondisi mutu pendidikan, UN justru menjadi ajang perlombaan pendidikan.

UN telah mengubah orientasi kebijakan pendidikan karena semua pihak dipacu untuk berlomba agar nilai UN di sekolah bagus. Para kepala daerah berupaya keras agar capaian UN di daerahnya tinggi sebab tingginya capaian UN dianggap sejalan dengan keberhasilan pendidikan daerah. Penghapusan UN menjadi langkah awal untuk mencapai kemerdekaan belajar.

Ide kemerdekaan belajar sesungguhnya bukan hal baru. Ki Hadjar Dewantara sudah mengemukakan konsep pendidikan yang memerdekakan sejak awal menggawangi lahirnya Taman Siswa. Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang memerdekakan memampukan seseorang untuk bersandar pada kekuatannya sendiri (mandiri). Anak-anak yang merdeka harus mampu berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung pada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfbeschikking) (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013).

Ide Ki Hadjar Dewantara tersebut masih relevan dalam kondisi saat ini. Yang menjadi sulit ialah mempraktikkan etos pendidikan yang memerdekakan di ruang-ruang kelas. Apalagi, sudah bertahun-tahun anak-anak maupun guru tidak merasa merdeka dalam setiap aktivitas pendidikan di ruang kelas. Guru kadung cenderung mekanis dalam pembelajaran di kelas karena berpacu dengan berbagai kerumitan administratif, sementara siswa mendapatkan beragam beban penugasan yang menyita waktu. Keduanya–karena berfokus pada beban yang harus dituntaskan–kemudian kehilangan waktu untuk merefleksikan diri. Kita jangan terjebak dan larut pada euforia dihapusnya UN.

Sudah saatnya bergerak ke depan dan merancang pendidikan yang memang sesuai dengan laju zaman dan kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam. Inisiatif dari guru dan sekolah memang penting, tetapi upaya pemerintah sebagai pemegang regulasi, anggaran, dan kebijakan merupakan hal yang paling utama. Pemerintah harus membangun ekosistem yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan janji negara dalam mencerdaskan anak bangsa.

Pemerintah perlu mendesain pendidikan secara komprehensi–yang dibangun secara kolaboratif dan partisipatif–yang memungkinkan setiap guru otonom dalam mengelola kelas. Tentu saja, kapasitas guru menjadi utama sebab mereka berada di barisan paling depan untuk membangun potensi anak. Tugas-tugas yang diberikan harus mampu memperkukuh kompetensi anak. Jangan sampai justru tugas-tugas itu memenjarakan anak dan membunuh potensinya.

Pembenahan di dunia pendidikan ialah hal yang niscaya dan tidak dapat ditunda. Bonus demografi, jendela peluang (window of opportunity), atau apa pun itu hanya akan jadi angan-angan jika pendidikan negeri ini berjalan di tempat. SDM Unggul Indonesia Maju yang dinarasikan di mana-mana hanya akan menuai kegagalan jika tidak ada pembenahan yang sistematis dan masif.

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/284914/ujian-nasional-dan-kemerdekaan-belajar

Anak Muda, Ruang Publik dan Perjumpaan

Di dekat sekolah anak saya terdapat begitu banyak tempat nongkrong bagi anak-anak muda. Sambil menunggu anak selesai bersekolah, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di salah satu tempat nongkrong tersebut. Makanan minuman yang variatif dan tidak terlalu mahal, tempat duduk nyaman, ruangan dingin, Wi-Fi kencang, dan dapat mengecas laptop membuat saya memilih tempat nongkrong tersebut.

Anak-anak pulang sekolah pada waktu tersebut, sehingga suasananya begitu ramai. Sambil makan dan menyeruput teh saya mengamati apa yang dikerjakan anak-anak sekolah yang ada di situ. Ada dua anak yang asyik mengobrol di meja samping saya duduk. Lelaki dan perempuan yang sepertinya sedang PDKT (pendekatan) kisaran kelas 11 SMA. Obrolannya seru mulai dari soal fotografi, pelajaran favorit, keseharian di sekolah, dan lain sebagainya. Uniknya, setelah lama mengobrol mereka kemudian membuka gawai masing-masing dan serius mengerjakan tugas.

Di sudut lainnya ada beberapa kelompok anak. Dari seragam yang digunakan, mereka adalah anak-anak SMP dan SMA. Mereka memesan makanan dan minuman, bicara macam-macam mulai dari K-Pop, gosip sekolah, gebetan yang mereka sasar dan obrolan random lainnya. Tak lama mereka membuka koran. Saya mendengar dengan jelas mereka mendapat tugas untuk menganalisis berita di koran. Di meja lain, anak-anak membuat maket dari sterofoam. Mereka memotong, menggunting, dan menempel dengan serius.

https://2916b5029edd17987faa455436a32603.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.htmlFenomena tersebut tentu bukan hal yang baru dalam realitas masyarakat perkotaan. Beban tugas anak-anak yang bersekolah semakin berat. Mau tidak mau mereka harus memanfaatkan waktu yang ada secara bijak agar tugas-tugas tersebut selesai tepat waktu.

Hadirnya tempat-tempat nongkrong di perkotaan menjadi arena baru bagi anak-anak tersebut untuk mengerjakan beragam tugas sekolah. Mudah sekali ditemui anak-anak yang seharian nongkrong di kafe-kafe atau kedai kopi hanya untuk mengerjakan tugas. Mereka tentu harus merogoh lebih banyak uang. Tetapi itu setara dengan akses internet yang kencang dan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.

Tentu saja anak-anak itu berasal dari kelompok kelas menengah perkotaan. Mereka memiliki kapital untuk mengakses beragam lokasi yang cozy di mana mereka bisa berkonsentrasi untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jika dahulu biasanya hal tersebut hanya dilakukan oleh para mahasiswa, saat ini tidak sulit menemukan anak-anak SMP atau SMA mewarnai tempat-tempat nongkrong sebagai tempat “nugas”.

Tempat nongkrong menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mengaktualisasikan dirinya. Tidak hanya sok gaya-gayaan saja, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran. Belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja terimplementasi dengan baik di tempat-tempat nongkrong tersebut. Situasi yang berbeda dengan sekolah yang memiliki aura “memenjarakan” membuat anak-anak ini mengoptimalkan potensinya. Di tempat nongkrong, mereka bisa mengerjakan tugas sambil tertawa riang atau kadang sambil leyeh-leyeh ketika rasa penat menghampiri. Mereka merdeka mengerjakan tugas yang diberikan.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, akses terhadap tempat nongkrong yang nyaman ini hanya dapat dijangkau oleh anak-anak yang berasal dari kelas menengah atas. Pada situasi ini intervensi dari pemerintah sangatlah penting. Ruang publik yang nyaman sebagai working space harus dapat diakses oleh siapapun. Ruang publik tersebut, mengutip Gert Biesta (2012), adalah arena public pedagogy. Di ruang publik tersebut diciptakan kebersamaan antar beragam kelompok dan memungkinkan mereka untuk saling belajar.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah memang semakin menaruh perhatian terhadap penciptaan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Namun memang working space yang ramah anak namun ekonomis masih sangat terbatas. Pembuatan working space ramah anak ini perlu dibuka sebanyak-banyaknya.

Arena tersebut harus dilengkapi dengan beragam infrastruktur penunjang seperti Wi-Fi gratis, arena jajanan murah meriah dan sehat, juga beragam fasilitas lainnya yang membuat belajar anak menjadi lebih nyaman. Apalagi anak-anak di wilayah perkotaan sudah dibebani begitu banyak tugas yang memerlukan akses internet yang memadai. Tidak semua orangtua mampu membiayai tagihan internet tersebut sehingga peran pemerintah sangatlah krusial.

Sangat memungkinkan membuat working space ini di setiap kelurahan atau desa. Ruang interaksi menjadi lebih terbuka dan terjadi alami. Siapa saja bisa masuk dan memanfaatkan fasilitas publik tersebut. Ruang publik sesungguhnya dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk saling mengenal pihak yang berbeda. Semaraknya anak-anak muda mengunjungi tempat nongkrong sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk membuka kesempatan perjumpaan di kalangan anak-anak muda.

Di tempat nongkrong “premium dan berbayar”, peluang perjumpaan substantif –di mana mereka dapat saling mengenal, berdialog, atau bertukar ide– sangatlah minim karena mereka yang nongkrong sejak awal sudah mengelompok secara eksklusif menjadi beberapa sub-grup dan tidak mungkin intens bertemu.

Di working space “ekonomis” yang dibuat oleh kelurahan atau pemerintah desa harus dibuat beberapa program yang membuat anak-anak dapat saling mengenal dan bertegur sapa. Ruang publik perkotaan, mengutip Sven De Visscher dkk (2011), menjadi ruang untuk mengkonstruksi kehidupan sosial di mana anak-anak dapat belajar bersosialisasi dan menghadapi beragam perbedaan. 

Yang perlu menjadi perhatian adalah proses menjaga working space yang sudah dibangun tersebut. Harus ada rasa kepemilikan dari setiap orang yang mengakses ruang publik ini sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan bersama.

Dimuat di: https://news.detik.com/kolom/d-4818245/anak-muda-ruang-publik-dan-perjumpaan

Guru Pembaca Zaman

Guru sebagai para pembaca zaman memiliki tugas yang berat. Para guru tidak sekadar memberi materi pelajaran, tapi juga memberi visi yang maju ke depan bagi anak-anak didiknya. Materi pelajaran akan usang tertelan waktu dan menjadi tidak relevan, tapi visi yang kokoh akan selalu aktual menghadapi setiap tantangan zaman.

Guru menjadi bagian penting dalam membangun pola pikir anak-anak, tentu saja berdasarkan usia dan jenjang anak-anak yang diajarnya. Guru tidak bisa hanya berpedoman kaku pada kurikulum yang harus dirujuk. Dia harus mampu berselancar secara fleksibel, bukan terpaku pada standar nasional dan merasa sudah menjadi guru setelah menggenapi beragam tugas administratif tersebut.

Era disrupsi menjajakan beragam tantangan. Relevansi guru sangat bergantung pada cara guru dalam membangun kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jika guru hanya menjadi bagian dari guru penerus pengetahuan, seperti diungkap oleh Mochtar Buchori (2007), mereka akan kalah bertanding oleh mesin pencari informasi. Di mesin pencari informasi, ragam informasi begitu mudah didapat hanya dengan satu klik.

Maka, guru harus melampaui posisinya sebagai “penerus pengetahuan”. Para guru, kata Buchori, harus mampu menjadi pembimbing belajar, pembimbing siswa, dan pembimbing transformasi kultural. Dengan demikian, guru harus mampu membangun kemampuan belajar dari setiap peserta didik.

Senada dengan yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara (2013) yang menyebut guru tidak hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik, tapi juga harus mendidik murid untuk dapat mencari pengetahuan sendiri dan memanfaatkannya untuk kepentingan umum.

Dengan demikian, para pembelajar ini memiliki daya tahan yang ajek dalam menghadapi perubahan zaman. “Otot” yang kokoh agar konsisten mempelajari beragam hal yang dibutuhkan dalam mengarungi hidup ini sangat penting dilatih oleh para guru. Kemampuan adaptasi adalah salah satu kunci yang dibutuhkan dalam berlayar pada era disrupsi.

Pendekatan yang terbuka dan fleksibel untuk dapat membangun kemampuan belajar seumur hidup menjadi sangat penting, seperti yang disampaikan oleh laporan UNESCO, “Rethinking Education Towards a Global Common Good?” (2015). Pendekatan humanistis dibutuhkan untuk membangun potensi peserta didik untuk menghadapi masa depan dan kehidupan yang lebih berkelanjutan dan bermartabat. Peran pendidik menjadi sangat penting, selain memperhatikan pesatnya perkembangan teknologi baru.

Berbagai beban berat dalam mendidik anak tentu tidak adil jika hanya diletakkan di pundak guru. Pendekatan struktural, dalam hal ini political will pemerintah, menjadi sangat krusial. Pemerintah sebagai regulator menjadi penting peranannya dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat, sehingga berbagai tujuan pendidikan dapat dieksekusi oleh para guru.

Ada dua arena yang penting dibangun agar negeri ini tak kekurangan guru yang berkualitas. Pertama, penyiapan calon guru. Lembaga Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan (LPTK) menjadi poros untuk mendidik guru-guru tangguh. LPTK harus cermat membaca zaman yang bergerak dan mempersiapkan kurikulum pendidikan berbasis pada kondisi tersebut. Kedua, para guru di sekolah harus mendapat kesempatan untuk memperbarui beragam kemampuannya.

Selain itu, dalam konteks Indonesia yang multikultural, calon guru maupun guru di sekolah harus dibekali kapasitas mengenai pemahaman multikultural. Sebab, mereka akan menghadapi aneka ragam peserta didik dan lokasi pengabdian yang berbeda-beda. Tanpa itu, para guru akan kesulitan untuk mengabdi dan mendidik anak-anak.

Finlandia, lagi-lagi, merupakan negara yang patut dirujuk. Reformasi pendidikan di sana dimulai dari mengubah paradigma guru. Salah satu aspek pertama yang diubah, menurut seorang rekan yang sedang studi di Negara Nordik tersebut, adalah kepala guru. Guru harus memiliki visi dan keberpihakan terhadap pendidikan serta mengetahui situasi sosial, ekonomi, dan politik negaranya.

Di Finlandia, menurut Björn Furuhagen, Janne Holmén, dan Janne Säntt dalam The Ideal Teacher: Orientations of Teacher Education in Sweden and Finland after the Second World War (2019), pendidikan guru telah berkembang menjadi program berbasis penelitian. Syarat untuk menjadi guru pun ketat, perlu meraih gelar master. Tanpa hal tersebut, reformasi pendidikan di negeri tersebut tidak akan berhasil. Dengan demikian, posisi guru di sana memang sangat terhormat.

Para guru yang mampu membaca zaman tidak hadir tiba-tiba. Belajar dari negara maju, desain pendidikan dan pelatihan yang terstruktur dan memadai untuk meningkatkan kemampuan para guru disiapkan dengan sangat terencana. Indonesia dapat belajar dari negara-negara tersebut untuk memperbaiki kualitas pendidikannya.

Di sisi lain, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru menjadi aspek penting. Penjenjangan karier guru yang memberi kepastian bagi kehidupan mereka harus benar-benar diperhatikan, sehingga kita tidak mendengar lagi cerita guru dengan kondisi hidup yang tak layak.

Dimuat di: https://kolom.tempo.co/read/1277913/guru-pembaca-zaman

Buku, Imajinasi dan Masa Depan Anak

PADA saat melakukan penelitian di Distrik Senopi, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, kami mengunjungi salah satu SMP negeri di sana. Kepala Sekolah di SMP tersebut sosok yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak di wilayahnya. Kami berdiskusi terkait persoalan pendidikan, termasuk soal kebiasaan membaca buku. Ia mengajak kami berkunjung ke perpustakaan sekolah. Buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah memang jauh dari lengkap, hanya ada dua rak buku, itu pun tidak penuh dengan buku, tapi dengan koleksi yang sangat terbatas.

Kepala Sekolah sangat ingin koleksi buku di sekolahnya menjadi lengkap agar anak-anak dapat membaca banyak buku. Ia dan guru-guru berupaya agar anak-anak mau membaca buku. Ada dua guru yang tinggal di dalam kompleks sekolah. Mereka bercerita, setiap sore ada saja anak-anak yang datang ke sekolah. Biasanya mereka menggunakan perpustakaan dan kemudian mengajar apa saja, termasuk mengenalkan buku-buku agar anak gemar membaca. Sulit memang, tetapi ikhtiar itu konsisten mereka lakukan.

Di lain tempat, saya berkesempatan mengunjungi salah satu sekolah internasional di Bekasi. Perpustakaan dan koleksi bukunya lengkap, bahkan lebih didominasi buku-buku berbahasa Inggris. Koleksi bukunya disesuaikan dengan jenjang yang ada di sekolah, yaitu mulai PAUD sampai SMA. Perpustakaan tersebut tidak berdiri dengan sia-sia. Sekolah membuat mekanisme yang membuat anak-anak harus membaca beragam koleksi buku yang ada di perpustakaan.

Di jenjang taman kanak-kanak (TK), setiap hari Kamis secara reguler anak-anak diajak ke perpustakaan. Mereka kemudian diminta untuk memilih dua buku yang paling disukai untuk dibaca di akhir pekan. Orangtua di sekolah itu ialah para pekerja yang sibuk. Salah satu pemberian pekerjaan rumah membaca buku ini merupakan terciptanya ikatan emosional yang erat antara orangtua dan anak. Setelah dibacakan orangtua, anak diminta untuk menyebutkan bagian yang paling disukai dari buku tersebut. Orangtua mencatat apa yang disampaikan anak di buku kontrol yang diberikan sekolah. Anak diminta menggambar dengan bebas apa yang menjadi bagian favorit.

Lain dunia
Dua sekolah tersebut jelas bukan untuk dibandingkan. Keduanya seolah berada di realitas yang berbeda. Namun, dua sekolah tersebut memiliki satu irisan yang sama, yaitu keinginan sekolah untuk mendidik anak-anak yang mencintai buku. Satu sekolah berjuang dengan segala keterbatasannya, sedangkan sekolah satunya didukung dengan kelengkapan referensi dan program yang spesifik untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Keduanya perlu diapresiasi dalam meningkatkan minat baca anak.

Ada kegigihan di situ meski dalam dimensi yang berbeda. SMP di Distrik Senopi berada dalam ekosistem pendidikan yang tidak memadai dan memiliki beragam keterbatasan, tapi memiliki aktor penggerak. Kepala sekolah dan guru-guru yang gigih menggunakan beragam cara agar anak-anak mau membaca. Sementara itu, sekolah di Bekasi memiliki segalanya dan memanfaatkannya untuk menggerakkan literasi secara intensif dan terprogram yang didukung orangtua di rumah. Membaca bukan perkara mempelajari isi buku. Membaca merupakan soal membangkitkan imajinasi anak mengenai kehidupan. Dari buku-buku, anak-anak dapat mengenal realitas lain di luar keseharian mereka. Mengajak anak melompat ke masa lalu, masa kini, juga masa depan. Buku-buku yang dihadirkan tentu harus sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Buku-buku bergizi dan bernutrisi baik sangat baik bagi asupan otak. Mereka akan menjadi pribadi yang memiliki wawasan luas serta mampu berpikir analitis dan kritis.

Finlandia, negara yang sering dirujuk dalam bidang pendidikan dapat menjadi contoh. Timothy D Walker (2017) dalam buku Teach Like Finland: 33 Simple Strategies for Joyful Classrooms pada beberapa bagian menjabarkan tentang upaya sekolah membentuk para pembaca. Pada beberapa momen anak-anak diberi kesempatan untuk membaca buku apa pun yang diminati secara bebas selama sepuluh menit dalam jeda waktu istirahat. Membaca menjadi ruang yang mana anak-anak beristirahat dengan santai, bukan menjadi paksaan.

Finlandia dapat melakukan hal tersebut karena secara sadar, baik sekolah, orangtua maupun masyarakat membangun ekosistem yang menopang anak-anak menyenangi buku dan mau membaca apa saja. Kerja gotong royong Pada konteks itulah beragam strategi perlu dilakukan oleh para guru di sekolah, orangtua di rumah, juga masyarakat. Gotong royong dalam membangun ekosistem yang memungkinkan anak-anak memiliki ketangguhan membaca menjadi sangat penting. Lagi-lagi ini memerlukan kerja keras dan itu tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal.

Komunitas membaca di seluruh Tanah Air begitu menggeliat pada tahun-tahun belakangan ini untuk membangun budaya baca. Apalagi adanya kebijakan gratis pengiriman buku (free cargo literacy) setiap tanggal 17 melalui PT Pos Indonesia beberapa waktu yang lalu. Buku-buku yang dikirimkan para relawan ke berbagai tempat itu berhasil menghidupi geliat komunitas yang berjihad untuk menyemarakkan minat baca masyarakat di penjuru Nusantara. Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), misalnya, menjadi salah satu pionir yang secara sukarela membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal untuk menyebarkan bebagai bacaan yang bermutu, khususnya ke daerah-daerah yang sulit diakses.

PBI bermitra dengan berbagai pihak yang peduli. Menariknya, mitra lokal PBI memiliki beragam latar belakang, mulai tukang rawat kuda, tambal ban, seniman, mantan wartawan, mahasiswa putus sekolah, atau lainnya (pustakabergerak.id). PBI ingin mematahkan anggapan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Karena itu, yang dibutuhkan ialah buku-buku bermutu yang dapat dijangkau semua kalangan sehingga mereka dapat memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhan. Lalu, apakah melalui beragam upaya tersebut anak-anak menjadi senang membaca? Belum tentu. Akan tetapi, melalui proses tersebut anak-anak dikenalkan sejak dini tentang menyenangkannya membaca buku. Mereka diberikan alternatif untuk mencari pengetahuan secara mandiri melalui buku-buku yang dibacanya. Membaca merupakan hak setiap anak bangsa dan menjadi wujud nyata menggenapi upaya untuk mencerdaskan anak bangsa sesuai amanah konstitusi. Buku-buku berkualitas sangat krusial untuk membangun imajinasi juga masa depan anak-anak bangsa.

Dimuat di: https://mediaindonesia.com/opini/273127/buku-imajinasi-dan-masa-depan-anak

Ikhtiar Memperbaiki Pendidikan

Presiden Joko Widodo meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di Tanah Air agar lebih merata. Presiden juga meminta peninjauan dan penyesuaian kurikulum besar-besaran karena cepatnya perubahan zaman.

Keinginan Presiden untuk menggunakan teknologi dan menyesuaikan kurikulum tentu patut didukung karena zaman memang berubah. Apa yang disampaikan Presiden juga sesuai dengan amanat Pasal 36 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang salah satu poinnya adalah kurikulum harus disesuaikan dengan tuntutan dunia kerja dan dinamika perkembangan global.

Namun kedua hal tersebut harus mempertimbangkan berbagai aspek. Pertama, pemanfaatan teknologi perlu ditopang oleh infrastruktur yang memadai, seperti kelengkapan listrik dan Internet. Kedua, kurikulum secanggih apa pun tidak akan berjalan jika tidak ditopang oleh para guru yang mampu menyebarluaskannya di ruang kelas secara optimal.

Dua aspek tersebut akan berjalan jika beban pendidikan tidak hanya ditanggung oleh Kementerian Pendidikan, tapi juga melibatkan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan elemen masyarakat sipil. Teknologi, misalnya, akan berjalan jika akses listrik dan Internetnya memadai. Kementerian Pendidikan harus bergotong-royong dengan lembaga lain agar pembangunan infrastruktur tersebut dapat dilakukan.

Untuk aspek pertama, belum semua daerah di Indonesia memiliki infrastruktur listrik dan Internet yang memadai. Jadi, kedua infrastruktur tersebut harus dipenuhi lebih dulu.

Misalnya, ketika saya melakukan penelitian di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, mudah sekali menemukan sekolah-sekolah yang mendapat bantuan komputer dari pemerintah. Namun komputer tersebut tidak dapat digunakan anak-anak secara optimal karena akses listrik tidak memadai. Mereka mengandalkan panel tenaga surya yang sangat bergantung pada cuaca dan genset yang menggunakan solar. Untuk membeli solar, mereka harus pergi ke kota dengan jarak tempuh yang jauh, tidak mudah, dan biaya transportasi yang mahal. Akhirnya, komputer tersebut mangkrak.

Di sisi lain, habituasi pemanfaatan teknologi menjadi penting. Jangan sampai anak-anak menjadi gegar budaya karena mereka belum terbiasa menghadapi arus informasi yang begitu masif. Dalam beberapa kasus, ketika daerah mendapat aliran listrik, ternyata tidak dimanfaatkan untuk belajar, tapi menonton televisi.

Aspek kedua juga menjadi fundamen penting, yakni penguatan kapasitas guru melalui berbagai cara, seperti pelatihan dan kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi akademik. Seusai reformasi, partisipasi guru untuk mengikuti pelatihan memang lebih terbuka. Berbagai beasiswa untuk peningkatan kapasitas dan kualifikasi guru pun diberikan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Meskipun demikian, menurut Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, rata-rata uji kompetensi guru (UKG) masih di bawah 70 (TK: 68,23; SD: 62,22; SMP: 67,76; dan SMA: 69,55), kecuali untuk guru SLB (71,70).

Guru adalah garda terdepan yang akan mengimplementasikan kurikulum tersebut di ruang-ruang pendidikan di seluruh Indonesia. Lagi-lagi, kita mengetahui betapa beragamnya negeri ini, juga kondisi gurunya. Kurikulum secanggih apa pun akan tumpul jika guru-guru tidak dapat memahami apa yang diinginkan dari kurikulum tersebut.

Pengembangan kurikulum perlu juga memperhatikan potensi daerah, kondisi satuan pendidikan, dan peserta didiknya yang berprinsip pada diversifikasi sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah amanat undang-undang itu bahwa pendidikan harus dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, serta menjunjung hak asasi manusia, nilai keagamaan, budaya, dan kemajemukan bangsa.

Meskipun setelah reformasi kurikulum yang “bias” Pulau Jawa sudah jauh berkurang, guru-guru di daerah masih mengeluhkan kurikulum yang diproduksi oleh pemerintah. Jadi, meskipun kurikulum berubah, ternyata materi, pola, dan metode pembelajaran di sekolah tidak berubah.

Di sisi lain, kurikulum yang dibuat, karena tidak memperhatikan lokalitas atau kondisi sosioekonomi setempat, ternyata hanya menjadikan pendidikan sebagai reproduksi sosialseperti yang dinyatakan oleh Bourdieu dan Passeron (1977)yang menguntungkan kelas sosial ekonomi tertentu karena mereka memiliki privilege dalam berbagai hal.

Kondisi tersebut membuat anak-anak yang tidak beruntungkarena tidak memiliki guru yang kompeten dan perangkat pembelajaran yang memadaisemakin tertinggal. Mereka akan merasa sekolah tidak relevan bagi mereka dan akhirnya menurunkan semangat atau motivasi untuk sukses.

Pada akhirnya, mempersiapkan anak-anak dan meningkatkan kapasitasnya tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Pendidikan semata. Gotong-royong menjadi kunci dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan. Salah satu penyebab tidak berjalannya berbagai kebijakan pendidikan hingga saat ini adalah kurangnya gotong-royong lintas sektor untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Padahal pada pendidikanlah berbagai mimpi disematkan. Berbagai ikhtiar untuk memperbaiki pendidikan perlu dilakukan sepenuh hati.

Dimuat di: https://kolom.tempo.co/read/1268754/ikhtiar-memperbaiki-pendidikan

Perjalanan Awal Perisai Diri MAN Cipasung: Sebuah Memoar Singkat

Salam Bunga Sepasang,

Bicara Perisai Diri MAN Cipasung berarti bicara mengenai Almarhum Kang Aip Suhara. Ia adalah pelatih sekaligus perintis bagi keberadaan Perisai Diri di MAN Cipasung. Perisai Diri ketika itu (tahun 2002) adalah salah satu bagian dari ekstrakurikuler di MAN Cipasung.

Saya mungkin bisa dianggap sebagai generasi pertama Perisai Diri di MAN Cipasung. Meskipun sebelum saya masuk, sudah ada beberapa siswa MAN Cipasung yang lebih awal bergabung. Mereka lebih awal enam bulan berlatih. Seingat saya mereka adalah Wahyu Hadi Kusuma, Taufikurrohim, Ismet, Efa dan Haeti. Masih ada nama lainnya, namun saya tak bisa mengingatnya secara detil. Saya masuk berbarengan dengan Andriyana Maryadi, M. Arlan Akbar dan Jajang. Walaupun kemudian hanya saya dan Andriyana yang aktif di Perisai Diri sampai lulus dari Aliyah. Andriyana adalah Ketua Perisai Diri Ranting MAN Cipasung dan saya adalah Bendaranya.

Jadwal latihan Perisai Diri MAN Cipasung ketika itu dilaksanakan setiap hari Jumat, tepatnya setelah Shalat Jumat. Latihan biasanya diadakan setiap hari jumat. Hari jumat adalah hari di mana kegiatan aktivitas pengajian sore diliburkan. Pelatihnya adalah Kang Aip Suhara. Beberapa senior biasanya ikut berlatih, mereka adalah siswa di sekolah lain yang sudah lebih awal bergabung dengan Perisai Diri Cabang Kab. Tasikmalaya. Yang bisa saya ingat antara lain: Kang Wandi, Kang Asep Deni, Teh Selvi, Kang Elan, dan Kang Dicky, Kang Dadan, Ai dan lainnya. Setahun kemudian saya kenal Kang Firman. Alhamdulillah, Kang Wandi lah yang saat ini menjadi pelatih Perisai Diri di MAN Cipasung melanjutkan tongkat estafet dari Kang Aip Suhara. 

Ada beberapa hal yang saya pelajari selama mengikuti Perisai Diri di Cipasung antara lain bagaimana kita harus selalu rendah hati dan tidak merasa sombong walaupun sudah berlatih silat. Kalau kata alm. Kang Aip, “tong kawas boga bisul di kelek“, maksudnya jangan seperti punya bisul di ketiak. Artinya jangan mentang-mendang berlatih bela diri maka dari gaya jalan sudah sok gagah dan merasa paling jagoan. Tong sok polontong (sombong), kata Kang Aip.

Sikap tersebut mendarah daging di anggota Perisai Diri. Dari yang saya tahu para pesilat PD yang memiliki prestasi bagus adalah pribadi yang ramah, baik hati, dan tidak sombong. Tidak senior yang mendominasi, merundung atau bahkan mengintimidasi. Yang dibangun oleh Kang Aip ketika itu adalah suasana kekeluargaan. Tidak ada perpeloncoan yang dilakukan oleh senior ke junior.

Meski senang bercanda, jangan harap kita bisa bercanda dalam setiap latihan. Kang Aip biasanya begitu tegas dan serius dalam setiap sesi latihannya. Begitu juga senior-senior yang membantu Kang Aip melatih. Mereka sepenuh hati mengawal setiap latihan.

Banyak suka duka selama menjadi anggota Perisai Diri MAN Cipasung. Saya beruntung mengikuti beberapa kali pertandingan selama mengikuti Perisa Diri. Pertandingan yang pernah saya ikuti antara lain Pekan Olah Raga Pesantren Nasional (POSPENAS) tingkat Priangan Timur di Garut, Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten di Jakarta Timur, Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten di Purwakarta, POPWIL tingkat Priangan Timur di Bandung, dan POPDA Jabar di Bandung. Saya pernah meraih Juara Satu Sirkuit Perisai Diri DKI Jakarta, Jawa Barat Banten di Purwakarta, Juara dua POPWIL di Bandung, dan Juara Tiga POPDA Jabar di Jawa Barat. Biasanya ada tahapan seleksi dari level kabupaten menuju wilayah Priangan Timur dan Provinsi.

Saya ingat, jika pertandingan di internal Perisai Diri (seperti Sirkuit DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten) biasanya kami mengandalkan operasional pribadi. Menggunakan bis umum untuk mencapai lokasi pertandingan, tidur dan makan seadanya. Namun itu semua begitu menyenangkan. Apalagi jika sampai meraih juara. Saya ingat saat bertanding di Jakarta Timur dan Purwakarta, kami harus berdesak-desakan tidur di lantai. Beda ceritanya jika bertanding mewakili Kabupaten Tasikmalaya. Kami bisa tidur di hotel (bukan yang mewah) atau biasanya di barak militer. Pernah, pada saat mewakili Kab. Tasikmalaya di Bandung untuk kegiatan Pekan Olah Raga Pelajar Wilayah (POPWIL), kami kontingen Pencak Silat tidak diberikan baju maupun jaket seperti kontingen dari daerah lainnya. Jadi kostum yang kami kenakan adalah pakain silat hitam dan kaki tanpa alas alias nyeker.

Perjuangan selama menjadi anggota Perisai Diri MAN Cipasung begitu mengesankan. Kami dilatih menjadi pesilat yang tangguh ketika bertanding, namun menjadi pribadi yang berkarakter. Latihan ini tentu saja sesuai dengan wejangan atau pesan dari Pendiri Perisai Diri Raden Mas Soebandiman Dirjo Atmodjo “tujuan berlatih silat adalah untuk memelihara kesehatan, keselamatan, dan kepercayaan diri sendiri. Dilarang untuk berkelahi, sombong, mencari musuh dan berbuat apapun yang akan mengakibatkan tidak baik untuk diri pribadi maupun pihak lain. Pokoknya semua itu untuk keselamatan dan kebaikan budi. Itulah PERISAI DIRI yang ampuh”.

Pesan agung dari sang pendiri Perisai Diri itulah yang wajib menjadi pegangan kita bersama. Saya berharap tentu saja, saat ini Perisai Diri MAN Cipasung tetap berjaya mengharumkan nama baik sekolah dengan memberikan prestasi-prestasi terbaiknya.

Salam Akhir

* Alumni MAN Cipasung (2002-2005), Anggota Perisai Diri MAN Cipasung (2002-2005).

Selamat Hari Santri

73071521_10215450842880290_1391732028545695744_n
Foto menjelang lulus kelas 3 Aliyah bersama almarhum Ajengan KH Ilyas Ruhiat, pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, Rais Aam PBNU 1992-1999.

2002, selulus dari SMP di bilangan Tambun saya meneguhkan niat untuk mengaji di pesantren.

Masuklah saya ke Pondok Pesantren Cipasung. Setelah ibu dan bapak saya observasi tanya sana sini. Saya dan bapak ke Cipasung pertama kalinya untuk mendaftar. Ke asrama Al Jihad, kata bang Rofidin, seorang santri senior asal Bekasi. Dan untuk sekolah, saya mendaftar di MAN Cipasung, karena sekolahnya negeri.

Kami naik Bus Budiman dari terminal Bekasi sekitar jam 10 malam. Tiba sebelum subuh di terminal Tasik. Nunggu mobil “glebeg” penuh. Kami pun meluncur ke Pesantren. Bapak menego supir, katanya, antarkan kami ke Cipasung. Dari jalan utama ternyata tak jauh.

Karena belum adzan subuh, kami menunggu di Masjid. Saya melihat banyak anak seusia saya sudah bangun. Ada yang shalat, ada yang membaca Al Quran. Udara begitu dingin. Saya deg-degan. Siapkah saya menjadi santri? Hidup mandiri? Sementara sampai SMP, saya adalah anak yg manja. Tak pernah lepas dari orangtua. Tapi saya yakin bisa. Bismillah.

Setelah subuh, kami mendaftar ke asrama dan Aliyah. Saya memilih jurusan IPA. Sebetulnya saya ingin IPS. Di Aliyah dulu sejak kelas 1 dibuat penjurusan. Dan ketika mendaftar, ibu guru yg menerima menyebut nilai saya bagus. Jadi masuk IPA saja. Beliau bilang, sekalian kelas SIC (special intensive class). Saya masuk. Meskipun belakangan tergopoh-gopoh. Saya memang tak cocok masuk IPA. Sampai kelas tiga pun, saya terseok-seok belajar mata ajar IPA.

Masuk pesantren, kemampuan survival benar-benar diuji. Uang saku memang tak pernah kurang. Tapi saya belajar manajemen diri. Saya belajar mencuci, menyetrika, belajar makan apa saja, belajar sabar, belajar kehilangan. Belajar menghargai perbedaan, menghargai orang lain. Bukan perkara akademik. Saya payah di bidang akademik. Soal pengajian, hapalan saya tak bagus-bagus amat. Sekarang banyak yang hilang.

Tapi soal hidup, saya belajar banyak. Jika diulang. Saya tetap akan masuk ke pesantren. Mungkin belajarnya dikuatkan. Kadang saya malu mengaku sebagai santri. Bahasa arab saya, jelas sekali buruknya. Yang tersisa adalah ajaran-ajaran para guru agar selalu menghormati ahli ilmu, harus sabar, hormat pada yang tua. Jika ada keinginan berdoa sebaik-baiknya, usaha sekuat-kuatnya. Jangan merendahkan orang lain. Berbuat baik, kehidupan baik akan menghampiri. Saya belajar, bahwa hidup bukan soal hitung-hitungan rasional.

Hatur nuhun untuk para guru semuanya. Selamat hari santri.

 

SMP, Guru-guru, dan Ceceran Kenangan lainnya

Beberapa hari lalu saya diundang masuk ke WAG alumni SMP. Banyak nama yang tidak saya kenal dan tak mengenal saya, karena memang saya tak begitu luwes bergaul ketika SMP. Meskipun juga beberapa nama masih saya ingat. Senang juga sih, ketemu dengan banyak teman yang sudah tidak kontak selama puluhan tahun. Juga melihat mereka sudah bekerja di berbagai bidang menjadi hal yang menyenangkan.

Ingatan saya melayang ke 17 tahun lalu, periode 1999-2002. Saya tiba-tiba mengingat guru-guru saya di SMP.

SMP adalah masa-masa yang menegangkan bagi saya. Terlalu banyak ketegangan yang saya alami di waktu SMP. Saya berasal dari SD kecil di Kecamatan Cibitung di pinggir Kali Malang. Kemudian saya masuk ke salah satu SMP Favorit di Kecamatan Tambun, SMPN 1 Tambun (kemudian menjadi SMPN 1 Tambun Selatan). Jelas saja banyak yang berbeda. Meskipun hanya berbeda 1 kecamatan saja, awalnya saya merasa terasing. Mungkin perasaan anak kecil yang tiba-tiba harus “agak jauh” (faktanya tidak jauh) bersekolah, naik dua kali angkutan umum. Juga perasaan, wah ini banyak anak yang pintar, dari SD yang lebih bagus. Apa saya bisa bertahan di sini?. Mungkin saja sih perasaan itu berlebihan. Hanya mental saya, dulu, memang kurang oke. Sering tegang-tegang sendiri.

Kelas satu wali kelas saya Bu Uum. Guru Biologi, urang sunda, cerewet, tapi baik sekali ke saya. Di kelas satu ini saya “anggaplah” berprestasi, bisa peringkat pertama. Dalam situasi yang “tegang” saya ternyata belajar lumayan baik. Jujur, saya tidak menikmati proses belajar. Belajar terasa membebani. Beruntung “otot” belajar ketika SD dikokohkan oleh ibu dan bapak, yang juga guru. Setiap malam saya harus duduk diam belajar selama beberapa jam. Tapi saya baru sadar setelah beberapa tahun kemudian. Pola belajar drilling ini tidak bermakna. Saya hanya mahir mengerjakan soal ketika ujian saja. Setelah itu wassalam. Saya tidak tahu apa manfaat belajar, apa manfaat soal-soal itu. Dan karena banyak pilihan ganda, saya selalu terfokus pada jawaban yang sudah disediakan.

Saya lebih banyak ingat guru di kelas satu. Entah mengapa. Saya masih ingat Bu Suhanik guru Bahasa Indonesia (saya belajar banyak menulis rapi, belajar beragam majas, dan mengarang. Sosok guru yang sangat disiplin. Setiap mengarang di kertas polio bergaris harus digaris kanan dan kiri), Pak Supriyadi Guru Fisika (yang menjitak kepala saya dan saya kesal sekali), Bu Novi Guru Ekonomi yang baik, Bu Elsye Guru Geografi, Pak Yudi (saya ingat harus dapat tanda tangan dan cepat-cepatan mengerjakan soal, ketika itu nilai bahasa Inggris saya bagus terus), Pak Adnan Guru Sejarah (yang saya ingat Pithecantropus Paleo Javanicus), Bu Iis Guru Bahasa Sunda (nilai saya bagus karena ibu saya Guru Bahasa Sunda juga di SD), Bu Ravena Guru Kesenian (bisa main seruling. Haha) dan guru lainnya. Kelas satu berjalan dengan baik.

Di kelas dua (2H) wali kelas saya Pak Adang, Guru PPKn. Saya ingat kata-kata dari undang-undang dasar 1945 (yang belum diamandemen) yang selalu beliau ulang, Presiden memiliki kekuasaan yang tidak tak terbatas. Belakangan saya masuk jurusan PPKn dan jadi guru PPKn beberapa tahun. Hehe. Kenangan buruknya di kelas 2 adalah saya mendapat nilai 5 di pelajaran Sejarah, pelajaran yang paling saya sukai. Ibu saya protes. Nilainya berubah menjadi 6. Haha. Kesal sekali. Nilai saya juga turun, meski masih sepuluh besar. Peringkat satu lepas. Karena memang dari awal kelas 2 motivasi belajar saya turun. Saya kehilangan semangat. Saya bertanya, sebetulnya belajar ini untuk apa?. Kok saya mati-matian belajar. Haha. Saya kehilangan makna belajar. Merasa, ngapain harus belajar? Berat sekali pikiran-pikiran yang menggelayut waktu itu. Malas belajar karena kehilangan makna. Haha. Hingga ujungnya, saya tidak masuk ke kelas unggulan, kelas 3A dan 3N. Sedih sih ketika itu. Tapi ternyata itu memang yang terbaik. Duh. Duh. Saya jadi punya perspektif lain soal belajar.

Di kelas tiga saya ketemu ibu Asmarina Atma, Guru Matematika yang sangat baik hati. Di kelas 3I motivasi belajar saya meningkat kembali. Saya menemukan makna belajar. Saya relatif tidak tegang di kelas. Jujur selama tiga tahun di SMP, belajar bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi di kelas tiga saya relatif bisa menikmati proses belajar. Dan, aha, saya tahu tujuan hidup saya. Dulu saya bercita-cita belajar agama, mau jadi guru ngaji ceritanya. Saya ingin masuk pesantren. Saya mulai baca-baca buku agama. Beli Sabili dan Annida. Mengidolakan Osama Bin Laden dan menempel posternya bersebelahan dengan poster pemain Inter Milan. Meskipun belakangan setelah mesantren saya sadar, ternyata Majalah Sabili tidak tepat buat saya. Haha. Orientasi itu, belajar di pesantren, membuat saya bersemangat. Nilai UN saya tidak besar dan tidak kecil. Kalau mau nekat mungkin cukup masuk ke SMA di Kota Bekasi. Tapi kalau mau masuk SMA N 1 Tambun, di mana teman-teman banyak yang melanjutkan ke sana, juga cukup. Banyak juga teman-teman yang melanjutkan ke SMK Negeri. Tapi tekad sudah bulat. Pesantren adalah impian saya. Ketika yang lain sibuk mencari sekolah. Saya sudah tahu apa yang saya mau. Itulah titik di mana saya relatif tahu apa yang saya inginkan. Meskipun belakangan, saya tak menjadi kyai, ustad atau guru ngaji, begitu banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan di pesantren.

SMP saya sangat disiplin. Ada dua figur utama yang menjadi penegak disiplin Pak Supringadi dan Pak Slamet. Duet ini sangat membawa pengaruh besar terhadap soal-soal kedisiplinan. Sepatu warior, kaos kaki putih dan hitam, datang tepat waktu, upacara pakai topi adalah perkara yang tidak dapat ditawar. Jika melanggar sanksinya begitu keras. Saya ingat sosok Pak Mustar, di novel Sang Pemimpi, yang menegakkan disiplin tanpa tedeng aling-aling. Sehabis upacara pasti ada parade penegakkan disiplin bagi para pelanggar. Bagi mereka yang tak pakai topi, salah sepatu, terlambat, ikut tawuran, bolos, dsb siap-siap menerima hukuman. Sekolah menjadi sangat disiplin karena pengawasan menyeluruh kedua Bapak ini. Tegang rasanya kalau tidak bawa atribut. Saya sendiri siswa yang cukup baik. Tak punya catatan di BP (BK) dan selalu tertib. Hanya saja pernah di kelas 3 I ketika saya menjadi ketua kelas ketika ada tambahan pelajaran Geografi, hampir satu kelas tidak masuk. Hal tsb membuat kami dihukum Bu, Elsye. Saya malu sekali ketika itu. Hehe. Tapi ternyata, sekolah yang lurus-lurus saja ternyata tak menyenangkan-menyenangkan banget. Hehe.

Ada dua guru lagi yang sangat berkesan bagi saya. Pak Ujang Subur guru olahraga dan Pencak silat. Pak Guntur Guru Elektro. Setiap istirahat saya pergi ke masjid untuk shalat duha. Demikian setiap dzhur. Saya selalu ikut berjamaah. Bukan karena saya anak shaleh. Bukan. Alasannya tidak masuk akal. Saya sangat pemalu, sehingga untuk jajan saja saya malu. Hahaha. Saya ingat, hanya beberapa kali jajan ke kantin. Jadi saya tidak pernah ingat siapa saja pedagang di kantin. Akibatnya uang jajan saya selalu utuh dan bisa untuk beli komik dan beli koran. Pak Ujang dan Pak Guntur setiap istirahat ada di masjid dan mengajak kita untuk shalat duha. Kata mereka, shalat sunnah ini sangat bagus, jangan ditinggalkan sampai kapanpun.

Oya, saya juga ingat sosok babeh sang penjaga gerbang yang sangat baik hati.

Hal yang saya sesali adalah kurang bergaulnya saya. Haha. Karena saya hanya pergi sekolah dan pulang sekolah tepat waktu. Mengerjakan PR, kadang dengan kesal, dan mengumpulkannya. Tidak aktif di kelas dan tak mengenal guru-guru, kecuali beberapa, dengan baik. Bicara soal guru, masih banyak guru-guru lain. Juga kenangan yang menyertainya. Kenangan baik dan kenangan kurang baik. Didikan mereka, bagaimanapun kekurangannya, berkontribusi membentuk diri saya hari ini. Hari-hari panjang di SMP (juga liburan panjang ketika Ramadan, karena Kebijakan Presiden Gus Dur) masih membekas dalam ingatan. Semoga para guru selalu mendapat lindungan dari Yang Mahakuasa mendapatkan hidup yang menyenangkan. Untuk yang sudah meninggal, semoga amal baik mereka membawa mereka ke surga. Terima kasih Bapak, Ibu. Jasa Bapak-Ibu luar biasa. Tabik.

NB: Ada WAG Almumni SMP tahun 2002. Yang mau bergabung, mangga klik:

https://chat.whatsapp.com/FczExrCIFqg4Seoa6wxhDN

Aries dan Elektronik

Ketika pesantren, saya membaca salah satu majalah. Tapi saya lupa majalah apa itu. Di majalah tersebut ada kolom zodiak. Saya lahir di tengah bulan April, jadi saya masuk ke dalam zodiak aries. Pada saat itu, majalah tersebut menceritakan masing-masing zodiak dari aspek teknologi.

Saya lupa redaksinya, tapi hal tersebut masih terekam dengan baik di otak. Intinya, zodiak aries sangat bermasalah dengan barang elektronik, tidak akan pernah awet, cepat rusak, apapun jenis barang yang dimilikinya.

Ketika itu saya membacanya sambil lalu dan cenderung tidak mempercayainya. Dilalahnya, hingga kini, entah mengapa, saya cenderung tidak berjodoh dalam jangka panjang dengan barang-barang elektronik yang saya miliki.

Semuanya dimulai ketika saya ikut kegiatan Perspektif di Asrama Al Jihad. Acara ini mirip dengan KKN yang dilakukan mahasiswa. Kami para santri diajak ke Cijuhung, dekat Galungggung, kemudian belajar bergaul dengan masyarakat. Ada yang mengaji, mimpin tahlil, berdoa, dan kemudian dipungkas dengan jalan kaki panjang sampai ke Cipasung. Saya ketika itu baru membeli Walkman. Ketika menyusur sungai, ternyata barang tersebut terjatuh.

Di momen lain, ketika sedang menyelesaikan tesis, laptop yang saya miliki dua kali pecah LCDnya. Dua-duanya terjadi karena kebodohan diri sendiri. Pertama, ketika itu kami berdua masih ngekos. Kamar yang sempit itu tidak ada meja. Jadi saya biasa mengetik sambil gogolehean. Saking lelahnya saya ketiduran dan booom, laptopnya saya tendang. Rusak. Kedua, setelah diservis saya membuat kebodohan kembali. Pulang mengajar, laptop tersebut tidak saya masukan di tas, tetapi saya taruh di boks motor. Jelas saja bisa diketahui hasilnya ketika sampai kontrakan. LCDnya kembali pecah dan rusak.

Waktu lain, saya berfoto di sebuah pantai yang indah. Entah mengapa, yang tadinya saya selalu disiplin memasukan HP ke tas, ada momen di mana saya hanya menyimpannya di saku celana. Parahnya ketika naik ke perahu, karena harus ke tempat lain, saya polos saja berbasah-basahan ketika naik perahu tersebut. Padahal tanpa basah-basahan, saya bisa naik. Sudah bisa diduga hasilnya. HP tersebut tidak pernah bisa dinyalakan kembali. Data-data hilang, foto-foto bagus wassalam. Ambyar.

Momen terburuk dan paling menyedihkan ketika ada situasi di mana Laptop dan Ipad yang sudah payah dibeli harus ambyar dalam satu momen. Saya tak mau bercerita, meski sudah banyak teman yang tahu, karena ini sangat memalukan. Yang jelas masih ada hubungan dengan air, seperti cerita-cerita sebelumnya. Murni kecerobohan yang dilakukan secara kolaboratif antara saya dan istri. Setiap mengingat momen tersebut kami hanya termenung.

Air dan elektronik. Setiap saya membawa elektronik mendekati air, niscaya akan nada kemadaratan dan kerusakan. Semakin rumit ketika saya memang dianugerahi sifat pelupa yang begitu mendarah daging. Klop.

Makanya, ketika saya hendak membeli alat elektronik, istri selalu mewanti-wanti. Ia tahu betul saya bukan orang yang amanah terhadap barang elektronik.  Maka tahapan mengganti barang elektronik akan begitu panjang. Saya pun sadar, saya buruk ketika berelasi dengan barang elektronik.

Ketika kemarin ayah saya melihat HP saya dan bilang bahwa  itu HP sudah begitu menyedihkan, saya hanya termenung. Karena, di samping situasi sedang sulit, beli baru pun tidak jaminan itu akan awet. Selama bisa ditelpon, wa-an, browsing, nulis status FB, foto-foto, itu sudah cukup.

Wahai kaum yang berzodiak aries, apakah ada yang pengalamannya mirip dengan saya?

 

Soal Rambut

Soal Rambut
Sudah hampir 3 bulan saya tidak potong rambut. Dan sepertinya ada banyak orang yang senasib sepenanggungan seperti saya.

Menjadi gondrong selalu ada dalam imajinasi saya. Ketika kuliah di UNJ dulu saya tidak berani gondrong. Pertama, karena saya mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kedua, karena saya calon guru. Pikiran saya memang normatif sekali ketika itu. Cocok dengan jurusan yang saya geluti PPKN.
Apakah tidak boleh gondrong? tentu saja boleh. Tidak ada aturan tertulis soal memanjangkan rambut atau gondrong bagi mahasiswa laki-laki. Beberapa teman saya gondrong. Hanya saja mental saya tidak kuat untuk gondrong. Jadi setiap panjang sedikit, rambut saya kemudian dengan cepat dipangkas.
Setelah lulus dan mulai mengajar sebentar di kampus, kemudian di sekolah, cita-cita rambut gondrong jelas harus dikubur dalam-dalam. Jika anak saja diminta berambut pendek, bagaimana gurunya bisa gondrong.
Cerita soal gondrong-gondrongan ternyata memang bukan soal demi estetika. Lebih lanjut bisa dibaca pada karya atik Aria Wiratma “Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an”. Saya belum baca karyanya secara utuh. Tapi membaca ragam resensi terhadap buku ini sudah merasa bahwa buku ini memang keren. Ada saja ide penulis untuk mengungkap berbagai hal di balik soal gondrong-gondrongan.
Ketika penelitian tesis, di SMA Kolese Gonzaga saya bertemu banyak anak-anak lelaki berambut gondrong. Dari cerita para guru, lelaki-lelaki gondrong ini adalah mereka yang berprestasi. Ketika saya melakukan penelitian sebagian anak sedang protes untuk berambut gondrong, mereka harus memiliki rata-rata nilai 85, laik 5 poin dibanding tahun-tahun sebelumnya, 80.
Ketua OSIS yang saya wawancarai berambut gondrong. Tampilan awal seperti urakan, tetapi ketika mulai bicara, duh ini anak sopannya dunia akhirat. Tutur katanya tertutur, pengetahuannya mendalam, cara bicaranya asyik. Kok anak 11 SMA sudah keren begini bicaranya. Sementara saya yang sudah jadi guru ketika itu masih belibet kalau bicara.
Nah, di kala pandemi saya memiliki kesempatan memanjangkan rambut. Ke tukang pangkas rambut rasanya masih khawatir. Imajinasi awal, kalau saya gondrongkan, mungkin saya bisa seperti Vino G. Bastian ketika main di film Wiro Sableng. Rambut yang tidak panjang-panjang banget, jago silat, dan pipi tirus. Keren sekali. Tapi, ya sayang, itu hanya imajinasi. Pipi ini menggelembung dan rambut saya tidak selurus rambut Vino G Bastian.
Ingin lebih gondrong lagi seperti Aquaman, perut sudah one pack. Mau cukur ala Lee Min Ho, aktor Korea favorit istri, agar seperti Raja Corea, jelas sulit. Istri saya saja sudah kesal, karena poni lempar semakin sulit di atur. Anak saya bilang saya mirip Monsta, seorang monster, salah satu karakter di buku Cican terbitan Mizan.
Ketika lebaran kemarin, saya minta dipotongkan Mama, khususnya bagian yang meringkel-meringkelnya. Bukannya rapi, kok jadi aneh. Anak kami, di bulan ramadan lalu sudah dipotong poninya oleh istri. Itu pun, karena kami tidak punya gunting yang memadai, rambutnya harus dipotong oleh gunting taman. Karena anak kecil, ya dipotong model apapun tetap lucu. Apalagi anak sendiri.
Corona virus hairstyle, beberapa orang bilang seperti itu. Banyak tetangga saya pun yang rambutnya sudah gondrong. Beberapa kemudian memotong sendiri. Tetapi ada juga yang sudah pasrah dan mendatangi tukang potong rambut langganannya masing-masing karena sudah tidak betah. Saya masih menunggu waktu yang tepat untuk memangkas rambut.
Ada yang seperti saya?